sign up SIGN UP search


trending

Survei Uji Coba KPAI: Mayoritas Orang Tua Tak Setuju Sekolah Dibuka Juli

Asri Ediyati Sabtu, 23 May 2020 19:10 WIB
ilustrasi anak sekolah Uji Coba Survei KPAI, Mayoritas Orang Tua Tak Setuju Sekolah Dibuka Juli/ Foto: iStock
Jakarta -

Jadwal masuk sekolah anak kini sedang menjadi perbincangan hangat orang tua murid di media sosial. Belum lagi beredar kabar bahwa masuk sekolah kembali pada bulan Juli.

Menanggapi hal ini, Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan mengirimkan keterangan tertulisnya kepada HaiBunda, bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun merencanakan melakukan survei kebijakan pembukaan sekolah di masa pandemik COVID-19.

Survei akan menyasar responden anak, orang tua dan guru untuk mengetahui persepsi masing-masing pihak tentang kapan waktu yang tepat membuka kembali sekolah dan faktor apa yang menjadi pertimbangan paling utama. Survei akan dilaksanakan pada akhir Mei 2020 hingga awal Juni 2020.


Namun, sebagai uji coba pertanyaan survei tentang apakah netizen setuju atau tidak dengan rencana pemerintah membuka sekolah pada 13 Juli 2020, bertepatan dengan tahun ajaran baru, mereka mengunggah pertanyaan tersebut ke aplikasi Facebook.

"Ternyata setelah 6 jam diunggah, postingan tersebut mendapatkan komentar dari 87 netizen. Para responden yang berkomentar dalam ujicoba ini terdiri dari guru, orang tua dan bahkan tenaga kesehatan," kata Retno, dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/5/2020).

Para orang tua berasal dari berbagai kota di Indonesia, di antaranya Batam, Bengkulu, Jambi, Padang, Solok, Bukit Tinggi, Kota Medan, Kabupaten Tapanuli Utara, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, kabupaten Magetan, kota Surabaya, Kota Makassar, Bolmok Utara, dan lain-lain.

ilustrasi sekolahilustrasi sekolah/ Foto: iStock

Dari 87 responden dalam uji coba kuesioner survei tersebut, ternyata sebagian besar responden tidak setuju jika sekolah di buka pada Juli 2020, 71 persen responden menyatakan tidak setuju sekolah dibuka pada Juli 2020 di saat kasus positif masih sangat tinggi saat ini.

Alasan yang tidak setuju adalah demi keselamatan anak-anak dan para guru. Para orang tua yang tidak setuju meragukan penerapan protokol kesehatan ketat saat berada di sekolah dan dalam perjalan pulang-pergi ke sekolah. Bahkan ada dua responden menyatakan tidak akan mengizinkan anaknya berangkat ke sekolah pada Juli 2020, meski sekolah anaknya dibuka.

Adapun 20 persen responden menyatakan setuju, dengan alasan sudah jenuh belajar dari rumah, banyak anak tidak bisa menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring karena keterbatasan peralatan dan kuota internet, bahkan tak mampu membeli kuota.

"Namun, responden yang menyatakan setuju juga menekankan diterapkan protokol kesehatan yang ketat di sekolah, selain itu harus dipastikan bahwa wilayah tersebut sudah dinyatakan sebagai zona hijau atau zero kasus COVID-19. Meskipun menurut beberapa ahi epidemologi, tidak ada zona hijau untuk wilayah di Indonesia saat ini," ujar Retno.

"Responden dalam uji coba survei meminta pemerintah melakukan kajian secara sungguh-sungguh dan meminta pendapat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sebelum membuka sekolah," sambungnya.

Sebelumnya, Kepala Subdirektorat Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja Direktorat Kesehatan Keluarga Kemenkes Wara Pertiwi sempat menyampaikan, penularan COVID-19 pada usia anak disebabkan, antara lain kontak dengan orang tua ataupun keluarga yang terinfeksi. Untuk itu, upaya pencegahan di rumah harus dipatuhi setelah orangtua atau orang terdekat bepergian.

Kemudian berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh IDAI yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, saat ini. Pasien Dalam Perawatan (PDP) anak di Indonesia dengan berbagai penyakit jumlahnya hampir 3.400 kasus.

Dari 3.400 PDP tersebut, anak yang positif COVID-19 mencapai 584 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 14 anak. Anak-anak yang tertular COVID-19 tersebut, menunjukkan bukti bahwa rumor Corona tidak menyerang anak-anak atau ringan pada anak-anak adalah tidak benar.

Rekomendasi KPAI terkait wacana masuk sekolah pada Juli

KPAI mendorong Kemdikbud dan Kemenag RI belajar dari negara lain yang sudah mulai turun kasusnya, bahkan zero kasus, kemudian membuka sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan, namun ternyata ditemui kasus baru karena siswa dan guru tertular COVID-19. Sekolah malah menjadi kluster baru.

Negara seperti China saja membuka sekolah setelah kasus COVID-19 nol selama 10 hari. Pembukaan sekolah juga disertai dengan persiapan yang matang dan benar-benar dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Bahkan di China, para guru yang akan mengajar sudah menjalani isolasi dahulu selama 14 hari sebelum sekolah dibuka.

"Beberapa negara di Eropa (seperti Finlandia, Prancis dan Inggris) yang memiliki sistem kesehatan yang baik dan membuka sekolah juga dengan persiapan yang matang dan protokol kesehatan yang ketat ternyata juga tidak aman dan malah menimbulkan kluster baru di lingkungan sekolah karena beberapa siswa dan guru tertular covid 19 hanya dalam hitungan minggu," kata Retno.

KPAI juga mendorong pemerintah dan Gugus Tugas COVID-19 untuk melibatkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan para pakar Epidemiologi sebelum membuka sekolah pada tahun ajaran baru 2020/2021, tepatnya Juli 2020 nanti. IDAI sebagai ahli harus didengar dan dipergunakan rekomendasinya terkait rencana Kemdikbud dan beberapa Dinas Pendidikan Daerah membuka sekolah kembali.

"Demi melindungi anak-anak Indonesia yang merupakan generasi penerus bangsa, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus super hati-hati dan cermat dalam mengambil keputusan membuka sekolah. Keselamatan anak-anak harus menjadi pertimbangan utama saat pemerintah hendak mengambil kebijakan menyangkut anak," tutup Retno.

Simak juga video soal kondisi restoran usai pandemi Corona:

[Gambas:Video Haibunda]



(aci/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi