cerita-bunda

Istri, Aku Ceraikan Kau karena Kita Tak Pernah Bertengkar

Zika Zakiya Rabu, 09 Oct 2019 20:00 WIB
Istri, Aku Ceraikan Kau karena Kita Tak Pernah Bertengkar
Jakarta - Bukan maksudku bercerita aib ini padamu, Teman. Tapi dada ini harus lega karena masih ada rasa bersalah saat bercerita kisah hidupku di lowong pertemuan kita.

Aku sempat menikah, hanya tujuh bulan. Iya, tujuh bulan! Tidak sampai setahun aku menikah, waktu yang sangat menyiksa dan memendam sepanjang usia 33 tahunku.

Jangan bengong gitu! Tidak, aku tidak selingkuh kok! Dia juga tidak. Memang salah sepertinya di aku, hmmm dan dia juga kayaknya, ha-ha-ha! Awal bertemu dengannya aku memang tidak ada rasa istimewa. Aku hanya suka padanya sebagai pacar saja. Tidak ada keinginan untuk membuatnya lebih.


Aku suka melihatnya tersipu-sipu dengan rayuanku. Kelihatan deh dia itu masih 'hijau' dalam hal percintaan, mudah dibujuk-rayu. Hingga tiba saatnya aku bertugas selama setahun di Biro New York kira-kira di tahun 2015. Aku hanya mengucap kalimat manis secukupnya sebelum berangkat dan yakin dia tidak akan menungguku saat pulang nanti.

"Ah, aku pun demikian. Enggak ada yang serius kok di antara kami," demikian pikirku saat itu. Dia memang sempat mengantar ke bandara. Dia juga masih berkirim kabar saat aku di Big Apple, ya sudah begitu saja.

Tapi saat aku pulang ke Jakarta, ternyata! Dia sudah ada di bandara bersama dengan Ayah dan Nenekku. Alamak! Kok dia masih ada?

Aku tidak tega menyuruhnya pulang duluan. Mau tidak mau, aku ajak dia makan bersama di rumah. Ayahku yang sudah lama menduda karena Ibu wafat beberapa tahun lalu, juga tidak keberatan dengan kehadirannya.

Ayah malah memberi kode pertanyaan,"Ini calon istri kamu?". Rasa lelah dan malas menjawab membuatku nyeletuk sekenanya. "Iya, sebentar lagi dihalalin. Apa mau dihalalin sekarang aja?"

Ayah pun tenang mengangguk, dan dia pun tersipu-sipu lagi. Di situ aku belum sadar kalau ternyata itulah awal hubungan enak enggak enak di antara kami. Lepas beberapa pekan aku pulang ke Jakarta, dia menagih janjiku untuk 'meng-halali-nya'. Lagi, aku merasa tidak enak dan mengiyakan saja saat diajak bertemu kedua orang tuanya.

Ilustrasi ceraiIlustrasi cerai/ Foto: Dok. iStock
Aku mengangguk pada semua yang mereka inginkan, lamaran di bulan tertentu, menikah di tanggal yang disebut, bahkan nurut ketika ditanya soal biaya nikah. Cuma perasaan tak enak aja yang berkutat di kepalaku. Aku enggak enak menolak dan bibir ini rasanya kaku untuk bilang 'enggak'.

Selama proses ini berlangsung, dia pun juga mesem-mesem saja. Komunikasi di antara kami memang layaknya orang pacaran, tapi aku lebih merasa jadi kewajiban. FYI ya, selama pacaran itu selalu dia yang mulai komunikasi. Mulai dari bertanya aku di mana dan makanan apa yang aku asup. Semua dari dia. Aku hanya menyahut dan yah tambah rayuan dikit deh, he-he-he!

Sebulan jelang pernikahan, dia jujur jika dia sudah enggak perawan lagi. Sempat terpikir itu adalah jalan keluarku dari hubungan ini. Tapi saat melihat dia mulai menangis, 'penyakit'-ku keluar. Aku enggak tega!

Aku enggak tega meninggalkan dia sendiri dalam kondisi begitu. Apa juga nanti kata orang cuma gara-gara hal itu aku putus hubungan. Bukankah sekarang ini masa modern?

Baiklah, aku tetap terima dia. Tapi dengan catatan bahwa harus ada terapi lebih dulu untuk membersihkan saluran reproduksinya. Terapi ini berjalan enam bulan pasca-menikah. Dan, dia setuju.

Kami menikah dan menjalani beberapa bulan terapi itu bersama. Hanya saja, aku mulai terasa hampa. Komunikasi di antara kami benar-benar basa-basi, yah macam ketemu teman sekolah yang enggak terlalu dekat lah.

"Apa kabar hari ini? Sudah makan? Kerjaan lancar?"

Tidak pernah sekalipun kami bicarakan apa yang ada di hati ini. Enggak pernah tuh kami sharing soal soal apa yang membuat salah satu dari kami kesal dan sedih. Jika pun ada, lebih baik diam karena 'Aku enggak enak' itu tadi.

Masuk bulan kelima, aku mulai bicara kalau ada yang bikin aku enggak nyaman dengan hubungan ini. "Kamu sadar enggak, kita enggak pernah berantem? Kita juga ngobrol basa-basi banget. Enggak ada faedahnya," ujarku malam itu.

ilustrasi ceraiilustrasi cerai/ Foto: iStock
Dia enggak bicara, hanya menangis. Suara tangisannya makin besar saat aku bilang ingin berpisah. Besok aku akan pindah dari rumah orangtuanya yang jadi rumah kami selama ini. Nenekku sempat bertanya, apa salah istriku? Dan aku jawab dia enggak bersalah.

"Kalau gitu, yang salah kamu. Perempuan baik-baik kok dicerai," cetus nenekku saat itu.



Tapi aku sudah punya keputusan bulat. Mumpung belum ada anak di antara kami, mumpung belum ada kewajiban lebih besar. Sekarang aku ceritakan ini padamu, Teman, agar lepas beban itu dari diriku. Apa ini perasaan bersalah? Rasanya bukan. Karena aku lebih merasa bersalah jika pernikahan itu kuteruskan.

Ini lebih karena perasaan berbagi aja. Sudah lama aku enggak sharing macam ini ke teman yang menghakimi dan menyalahkan aku seenak jidatnya. Terima kasih ya, Teman. Kerja lagi yuk!

(Ribib, Bekasi - Bukan nama sebenarnya)

Bunda punya cerita menarik tentang kehidupan pernikahan yang bisa menginspirasi Bunda lainnya? Kirimkan ceritanya ke redaksi@haibunda.com dengan subjek email Cerita Bunda. Ada hadiah menarik untuk Bunda lho. (ziz/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi