sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Nasib Anak Desa Sekolah di Rumah, Kukejar Guru hingga ke Atas Gunung

Sahabat HaiBunda Kamis, 23 Jul 2020 19:30 WIB
Merapi volcano in Central Java, Indonesia caption
Jakarta -

Sekolah online bikin pusing? Sama Bunda. Sebagai seorang ibu, aku juga merasakan hal yang sama sejak anak semata wayangku harus sekolah di rumah akibat Corona.

Kami tinggal di sebuah kabupaten di Sulawesi. Desa kami bisa dibilang jauh sekali dari ibukota provinsi. Dibutuhkan perjalanan semalaman untuk mencapai kota. Itupun kalau cuaca tidak sedang hujan, atau jalanan berlubang tergenang air.

Harap dimaklumi kalau segala akses transportasi dan informasi masih terbatas di desa kami. Alih-alih sekolah online, bisa mengakses internet tanpa terputus-putus pun sudah menjadi kebahagiaan bagi orang desa seperti kami.


Awalnya sih, aku masih bisa santai lihat anak laki-lakiku di rumah saja. Sejak pemerintah memutuskan anak-anak sekolah di rumah, dia hanya ikut teman-temannya ke sawah dan main di sungai.

Merapi volcano in Central Java, IndonesiaIlustrasi pegunungan/ Foto: iStock

Namun, adik-adikku yang tinggal di Pulau Jawa mulai risau melihatnya. Di WhatsApp group keluarga kami, setiap hari mulai sering mengirim foto aktivitas belajar anak masing-masing.

Disertai curhat pelajaran anak SD yang lebih sulit dibanding zaman kami sekolah dulu. Ada yang minta dibantu mencarikan jawabannya. Ada juga yang curhat susah banget mengarahkan anak agar cepat hafalan.

Sedangkan aku, awalnya hanya ketawa-ketawa saja membacanya. Namun, karena adik-adikku takut anak laki-lakiku ketinggalan pelajaran akhirnya aku putuskan untuk mengikuti saran mereka nih, Bunda.

Aku mulai buka link-link pembelajaran online yang mereka kirimkan. Mulai dari yang bebas pulsa hingga berbayar dengan angka ratusan ribu rupiah. Tapi dasarnya memang gaptek kami ini, sebagai orang desa tentu kesulitan untuk mengaksenya.

Mempertimbangkan perkembangan pendidikan anakku, akhirnya kutekadkan untuk mencari gurunya. Jangan dibayangkan semudah di kota ya, Bunda. Di sini, aku harus menempuh perjalanan motor hingga ujung desa.

Kebetulan guru anakku tinggal di kawasan di kaki gunung. Ya, memang daerah kami bergunung-gunung dengan alam yang masih asri terbentang. Setelah naik motor, kami masih harus berjalan jauh untuk sampai ke rumahnya.

Kalau kebetulan gurunya ada, maka beruntungnya kami. Tapi, beberapa kali ke sana kami tak berhasil menemuinya. Ia sedang tak ada di rumah.

Kenapa tak dihubungi dulu via telepon atau WA? Kebetulan ibu guru hanya punya handphone seadanya, itu pun kalau tidak sedang eror atau habis pulsa untuk membalas SMS. Jadi memang dia tak bisa membagikan soal-soal dengan leluasa. Sebagai gantinya ya memang kami para orang tuanya yang harus berjuang naik ke atas gunung demi anak-anak.

Kalau berniat untuk mengunjungi guru, aku harus meminta izin atasan di kantor untuk bolos kerja. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu berjam-jam, sehingga memakan waktu. Belum lagi, begitu sampai rumah anak malah malas-malasan disuruh belajar. Ya Tuhan rasanya pingin kusembur amarah kepadanya. Tapi, biar ditahan-tahan rasa kesal di dada agar ia mau membuka bukunya.

Meskipun kami tinggal di desa yang sangat jauh dari Jakarta. Tapi, mimpi kami untuk mengejar cita-cita tak pernah padam. Biarlah saat ini kami lelah dan susah memperjuangkan pendidikan anak-anak. Hingga suatu saat mereka bisa pulang membangun desanya ini.

Buat para Bunda yang sedang pusing karena mendampingi anak-anak tetaplah semangat. Jadikan cerita kami sebagai pemantik api semangat yang mulai lemah.

(Cerita Bunda Eni - Sulawesi)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk restoran yang buka di era new normal dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi