sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Dear Menteri Nadiem, Demi Anak Sekolah Online Aku Utang Pulsa ke Tetangga

Sahabat HaiBunda Senin, 14 Sep 2020 18:34 WIB
A confident mid adult mom teaches her two young daughters at home while under stay-at-home order during coronavirus crisis. Ilustrasi anak sekolah online/ Foto: Getty Images/SDI Productions
Jakarta -

Pandemi COVID-19 membuat kehidupan keluargaku mengalami berbagai perubahan. Termasuk soal ruwetnya pengeluaran, yang harus kami atur sebaik mungkin agar cukup hingga tiba tanggal gajian.

Inilah ceritaku, sekelumit curhatan dari seorang Bunda beranak empat. Aku mungkin hanya satu dari ribuan orang, yang bernasib sama di luar sana.

Tak pernah terbayang sebelumnya, si sulung harus sekolah daring sejak Maret 2020. Keputusan dari sekolah diumumkan tiba-tiba saat korban Covid-19 di area Jabodetabek makin tinggi.


Sebagai Bunda, aku pun dituntut harus bisa mendampingi anak belajar di rumah. Meskipun baru sekolah dasar, nyatanya memang butuh kemampuan yang amat basic untuk mengajarinya memahami pelajaran sekolah.

Bagaimana rasanya? Tiba-tiba semuanya terasa... Tuinggggg... Semua harus serba online, tugas online, video online. UTS online, ulangan harian online, prakarya online. Kepala Mamak pun tuing, tuing tak terkira pusingnya.

Emosi harus benar-benar terkontrol saat mendampingi anak sekolah online, Bunda. Bagaimana tidak, pernah suatu ketika saat kirim video atau file data tugas pesan sudah berjalan 75 persen mendadak kuota mandek. Ya, kuota pulsa di handphone milikku, video pun gagal terkirim. Ya Tuhan, rasanya sesak di dada. Mau marah juga percuma, tidak ada yang bisa disalahkan bukan? Hiks!

Mamak pun harus isi kuota lagi, dan kejadian ini terjadi berkali-kali. Dalam sebulan bisa berkali kali beli kuota.

Menjerit hati Mamak, karena anak yang sekolah daring tidak cuma satu. Kebetulan adiknya pun tahun ini masuk SD, sehingga harus sekolah online juga. Itu artinya, pengeluaran jadi double. Kebutuhan gadget pun bertambah untuk sang adik.

Menghadapi situasi semacam ini, aku dan suami pun terpaksa harus kompromi. Uang untuk kebutuhan dapur pun kami rem sekencang-kencangnya untuk membeli kuota tambahan. Hingga suatu saat, suami sedang bekerja dan anak-anak harus mengumpulkan tugas.

Saat itu, sudah tak tersisa lagi uang di dompet Mamak. Mau tak mau, kusingkirkan urat malu. Ku minta si sulung untuk melangkah ke warung tetangga untuk utang pulsa terlebih dahulu.

Berutang adalah hal yang sangat amat kuhindari. Aku dan suami berprinsip untuk sebisa mungkin tidak berutang, apapun kondisinya. Tapi, melihat semangat belajar anak-anak yang sangat tinggi rasanya kok enggak tega. Hingga aku melanggar prinsip yang kami junjung tinggi selama ini.

Untungnya tetangga pengertian, dan mau mengisikan pulsa terlebih dahulu. Rasanya, kami sama-sama mengerti kondisi ekonomi semakin sulit.

Hemm, Salam pak Menteri, apa kabar dunia pendidikan? Solusi nya apa untuk orang-orang kecil seperti kami? Harapan besar kami gantungkan di pundakmu. Ada mimpi anak-anak kami yang tak mungkin terhenti hanya karena tak memiliki kuota.

Karena, kuota yang digadang-gadang diluncurkan Kemendikbud bagai angin surga untuk kami. Sejuk terdengar, tapi hembusannya belum bisa kami nikmati hingga saat ini.

Pak Mentri Nadiem sudah pernah mencoba memakai paket kuota yang ditawarkan? Kami belum bisa memakai, karena ternyata tetap harus ada kuota utama kalau mau memakainya. Jadi, tetap harus beli kuota seperti biasa.

Lagi- lagi, uang beras kupakai untuk beli kuota.

(Cerita Bunda AM - Serpong )

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk kondisi sekolah di masa pandemi dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi