sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Pandemi Sudah 2 Tahun, Aku Kena Covid Kok Masih Aja di-Julidin?

Sahabat HaiBunda   |   Haibunda Jumat, 11 Feb 2022 17:10 WIB
A young woman in quarantine wearing a mask and looking through the window Ilustrasi/ Foto: Getty Images/MarioGuti
Jakarta -

Dua tahun pandemi COVID-19, di era Omicron ini akhirnya saya dan keluarga 'kebagian' virusnya. Iya, beberapa waktu lalu kami dinyatakan positif COVID-19 setelah mengalami beberapa gejala.

Semua bermula ketika Ibu, Kakak, dan keponakan saya menghadiri acara pernikahan saudara. Saya enggak datang, jadi saya enggak paham betul bagaimana kondisi di sana. 


Di bayangan saya, acara dilangsungkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Karena dua tahun pandemi ini, sudah banyak EO yang paham bagaimana menerapkan tindakan pencegahan penularan COVID-19 untuk meminimalisir risiko. Sayangnya, acara tersebut kayaknya enggak seaman yang saya bayangkan.

Banner Perjuangan Dea Ananda untuk HamilFoto: HaiBunda/Annisa Shofia

Dua hari setelah menghadiri acara, Ibu saya sakit. Saya menyaksikan sendiri Ibu berkabar dengan empunya acara yang cerita bahwa Beliau dan beberapa saudara lain yang hadir juga sakit di waktu bersamaan. Gejalanya sama; meriang, flu, batuk, sakit tenggorokan.

Kecurigaan saya langsung mengarah ke COVID-19, tapi waktu itu Ibu belum mau melakukan tes. Baru ketika saya merasakan gejala yang sama beberapa hari setelah itu, justru sayalah yang pertama kali tes.

Singkat cerita, saya dinyatakan positif. Menyusul Ibu, Kakak, dan keponakan yang hadir ke acara tersebut. Anak saya (1,5 th) bergejala, hanya suami yang negatif.

Gejala yang kami rasa mirip-mirip. Tapi yang bikin saya gelisah justru bukan sakit atau gejalanya; melainkan reaksi sekitar, termasuk orang-orang yang terlibat.

Pertama, saudara yang punya hajat amat sangat denial soal kemungkinan penularan virus dari acara tersebut. Padahal kami pun sebetulnya enggak ingin menyalahkan. Ibu dan Kakak saya hadir dengan sadar dan paham risikonya. Lagi pula ini sedang pandemi. Kita bisa tertular di mana saja.

Tapi ketika mendengar kabar kami sakit dan dengan bukti-bukti yang memperkuat dugaan bahwa kami sekeluarga dan saudara lain sama-sama tertular dari acara Beliau, bukankah sepantasnya Beliau memberikan perhatian dan/atau peringatan bahwa kami semua harus waspada akan kemungkinan tersebut? Bukankah setidaknya Beliau mendorong kami melakukan pemeriksaan? Yang ada, Beliau malah denial habis-habisan. Bahkan mau tes pun enggak.

Kedua, menyoal perlakuan kepada orang yang terinfeksi di lingkungan rumah saya sepertinya kurang ramah, dan itu amat disayangkan. Sebab di saat seseorang atau sebuah keluarga harus 'mengurung diri' di rumah demi menjaga lingkungannya agar tak tertular, bukankah di saat itulah dukungan dari sekitar sangat dibutuhkan?

Selama melakukan isoman, saya merasakan kebingungan ketika perlu bahan makanan untuk dimasak. Bagaimana belanjanya?

Beruntung saya bisa leluasa pilih opsi beli makanan dengan layanan pesan antar (kemudian diletakkan di pagar dan diambil saat enggak ada orang, agar enggak kontak dengan yang sehat). Coba bayangkan kalau yang enggak punya opsi itu karena enggak ada dana?

Di hari saya dan keluarga dinyatakan positif, kami langsung 'mengurung diri' di rumah dan suami lapor ke grup warga komplek lho, Bunda. Kami ingin semua segera mendapat informasi supaya bisa saling jaga.

Kabarnya, ada warga yang melaporkan kasus ini ke pak RT setempat. Sayangnya, laporan tersebut sepertinya hanya dalam konteks ghibah. Bukan untuk follow up pendataan dan bantuan pemantauan oleh pihak faskes. Mereka semua menjauh dan tak menunjukkan empati sama sekali. 

"Heh, sini! Jangan di situ mainnya," ujar seorang bapak-bapak tetangga ke anak-anak yang lagi main di jalanan depan rumah saya.

"Jauh pak, saya di dalam rumah, tutup pintu, pakai masker pula di dalam rumah. Enggak segitunya juga," saya menjawab dalam hati.

"Pakai masker, pakai masker, ada corona!" kata anak dari si bapak yang tadi. Saya jadi membayangkan bagaimana cara si bapak tadi memberi informasi dan mengajarkan anaknya untuk bersikap terhadap tetangga yang sedang sakit. 

"Kamu kemarin kena corona, ya?" ada lagi yang anak kecil tiba-tiba nyeletuk begini, saat pagar rumah mulai terbuka karena kami sudah selesai isoman.

Belum lagi ya, ada juga yang ngomong kencang-kencang soal kabar kami positif tapi hilang beberapa kalimat. Aduh asli deeeh, ketahuan banget julidnya! Beberapa celetukan itu mungkin kelihatannya sepele, tapi sungguh saat ada di momen itu dan mendengarnya, sangat terasa kalau vibes-nya amat negatif. 

Hih! Kesal, Bun, kalau ingat-ingat itu. Heran, dua tahun pandemi kok stigma terhadap pasien dan penyintas masih begini?

(Bunda A, Bogor)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke [email protected] yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Simak juga video berikut mengenai syarat masuk mal di tengah pembatasan akibat pandemi COVID-19.

(fia/fia)
Share yuk, Bun!
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!