HaiBunda

KEHAMILAN

Mengenal Polihidramnion, Kondisi Air Ketuban Berlebihan

Melly Febrida   |   HaiBunda

Selasa, 13 Feb 2018 14:00 WIB
Mengenal Polihidramnion, Kondisi Air Ketuban Berlebihan/ Foto: Ari Saputra
Jakarta - Air ketuban memang harus pas, karena saat terlalu sedikit ataupu kebanyakan bisa menimbulkan masalah untuk janin. Nah, kali ini yang dibahas adalah air ketuban yang terlalu banyak. Kondisi ini disebut hydramnios atau polihidramnion, Bun.

Polihidramnion dialami 1 persen ibu hamil. Polimidramnion terjadi saat indeks cairan amnion (AFI) lebih dari 24 cm dan ukuran kantung vertikal maksimum (MVP) lebih dari 8 cm.

Polihidramnion berat dapat disebabkan oleh kelainan janin, Bun, seperti masalah kromosom. Selain itu juga beberapa kelainan yang menjadi penyebab, seperti:


1. Gangguan gastrointestinal, contohnya meliputi atresia duodenum atau esofagus, gastroskisis, dan hernia diafragma
2. Gangguan sistem otak atau saraf, seperti anencephaly atau myotonic dystrophy, misalnya
achondroplasia atau kelainan pertumbuhan tulang
3. Masalah denyut jantung janin
4. Infeksi
5. Sindrom Beckwith-Wiedemann yang merupakan kelainan pertumbuhan bawaan
6. Kelainan paru janin
7. Hidrops fetalis, suatu kondisi di mana tingkat air yang tidak normal terbentuk di dalam beberapa area tubuh janin
8. Sindrom transfusi kembar ke kembar, di mana satu janin mendapatkan lebih banyak aliran darah daripada janin yang lain dalam kehamilan kembar
9. Darah yang tidak serasi antara ibu dan anak, misalnya terjadi ketidakcocokan Rh atau karena penyakit Kell
10. Diabetes ibu yang kurang terkontrol
11. Terlalu banyak cairan juga bisa diproduksi selama kehamilan multipel, yakni saat ibu mengandung lebih dari satu janin.



Jika janin memproduksi terlalu banyak air seni, atau tidak cukup menelan, terlalu banyak cairan ketuban juga bisa terjadi.

Polihidramnion ringan sering kali tidak memiliki gejala, Bun. Tapi ibu hamil bisa memberitahu dokter apabila mengalami sesak napas karena pembesaran rahim, sakit perut, dan bengkak atau kembung. Soalnya hal ini bisa menjadi tanda polihidramnion yang parah.

Kondisi ini juga dapat menyebabkan komplikasi seperti persalinan prematur, ketuban pecah dini, abrupsio plasenta, lahir mati, perdarahan pascapersalinan, dan malposisi janin.

Pada polihidramnion ringan, masalah bisa sembuh baik tanpa pengobatan atau dengan pengobatan. Pada kasus yang parah, dokter mungkin merekomendasikan amniosentesis atau pengobatan yang disebut indometasin untuk menghilangkan beberapa cairan berlebih.

Dokter bisa merekomendasikan pengujian untuk diabetes pada ibu dan melakukan ultrasound untuk memantau kadar cairan ketuban di dalam rahim.

Jika Bunda sedang hamil, semoga kandungannya selalu sehat, dimudahkan dan dilancarkan hingga persalinan kelak ya.

(Nurvita Indarini)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Terpopuler: Potret Reza SMASH Resmi Menikah di KUA

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Waspadai 7 Gejala Diabetes Awal yang Terasa Saat Bangun Tidur

Mom's Life Amira Salsabila

9 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Bersihkan Rumah di Malam Hari Menurut Psikologi

Mom's Life Amira Salsabila

5 Potret Kiyomi Anak Jennifer Bachdim Curi Perhatian, Suka Latihan Hyrox & Ikut Ajang Lari

Parenting Nadhifa Fitrina

7 Public Figure yang Hamil dengan Jarak Berdekatan, Lesti Kejora hingga Istri Rigen

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Waspadai 7 Gejala Diabetes Awal yang Terasa Saat Bangun Tidur

Terpopuler: Potret Reza SMASH Resmi Menikah di KUA

9 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Bersihkan Rumah di Malam Hari Menurut Psikologi

5 Potret Kiyomi Anak Jennifer Bachdim Curi Perhatian, Suka Latihan Hyrox & Ikut Ajang Lari

7 Public Figure yang Hamil dengan Jarak Berdekatan, Lesti Kejora hingga Istri Rigen

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK