HaiBunda

KEHAMILAN

Sedih Berlebihan Saat Hamil Bisa Pengaruhi Kondisi Mental Bayi

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Rabu, 11 Apr 2018 11:00 WIB
Sedih Berlebihan Saat Hamil Bisa Pengaruhi Kondisi Mental Bayi/ Foto: thinkstock
Jakarta - Mungkin ada kalanya siapapun itu termasuk ibu hamil merasa sedih karena suatu hal, misalnya saat kehilangan anggota keluarga. Tapi jangan sampai sedih yang dirasakan berlarut-larut ya, Bun.

Soalnya sedih yang berlarut-larut pada ibu hamil bisa berpengaruh pada bayi yang akan dilahirkannya kelak. Hal ini merupakan hasil studi peneliti dari Stanford University yang diterbitkan dalam American Economic Review.

Dalam studinya, Bun, peneliti memeriksa bayi-bayi Swedia yang lahir antara tahun 1973 sampai 2011 yang ibunya kehilangan kerabat dekat, seperti saudara kandung, orang tua, kakek-nenek, atau anaknya yang lebih tua, selama kehamilannya.


Peneliti mengikuti anak-anak itu hingga dewasa, lantas membandingkan hasil kesehatan mereka dengan anak-anak yang kerabat maternalnya meninggal pada tahun setelah kelahiran mereka. Peneliti mengumpulkan data dari catatan medis mereka dan catatan pembelian obat resep.



Terakhir, peneliti mempertimbangkan dampak kematian pada janin, termasuk paparan janin terhadap stres ibu dari kematian keluarga dan bahkan perubahan komposisi anggota keluarga.

"Setelah menganalisis hasil mereka, ditemukan bahwa ibu hamil yang mengalami sedih berlebihan terhadap kematian, anak yang dilahirkannya lebih berisiko menggunakan obat ADHD selama masa kanak-kanak, juga obat anti-kecemasan dan depresi di masa dewasa," tulis peneliti, dikutip dari Atlantic Journal Constitution.

Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti menyarankan agar pemerintah menerapkan kebijakan untuk membantu mengurangi stres selama kehamilan. Peneliti menyarankan untuk menargetkan keluarga nggak mampu karena mereka lebih mungkin mengalami stres daripada keluarga yang berkecukupan.

Meskipun temuan ini masih dikaji lebih lanjut, tapi peneliti berharap dapat lebih baik membantu ibu hamil untuk memiliki kehamilan yang lebih sehat dan melahirkan anak yang lebih sehat pula.

"Tentu saja, kami tidak dapat mencegah anggota keluarga dari kematian, dan kami tentu tidak ingin temuan kami menjadi sumber stres lain untuk ibu hamil. Tetapi temuan kami berpotensi menunjukkan pentingnya mengurangi stres secara umum selama kehamilan, misalnya melalui cuti melahirkan pra kelahiran dan program yang menyediakan sumber daya dan dukungan sosial bagi wanita hamil yang kurang mampu," tutup penulis dikutip dari Stanford Health Policy.

(aci)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Orang yang Suka Tidur Lama & Sulit Bangun Bisa Jadi Sedang Lari dari 8 Kenyataan Ini

Mom's Life Annisa Karnesyia

Potret Alia Shatara Khansa, Anak Kedua Zaskia Gotik yang Ekspresif dan Bikin Gemas

Parenting Annisa Karnesyia

40 Contoh Cerita Fantasi Pendek yang Menarik dan Seru untuk Anak Sebelum Tidur

Parenting Dilla Atqia Rahmah

Kisah Bunda Handstand saat Hamil Besar Berujung Melahirkan Prematur di Toilet

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

AI Butuh Banyak Air untuk Beroperasi, Ini Besaran Penggunaannya

Mom's Life Dilla Atqia Rahmah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Orang yang Suka Tidur Lama & Sulit Bangun Bisa Jadi Sedang Lari dari 8 Kenyataan Ini

Potret Alia Shatara Khansa, Anak Kedua Zaskia Gotik yang Ekspresif dan Bikin Gemas

Cerita Daniel Ekaputra Aktor Keturunan Prancis yang Banting Setir Jadi Sopir Taksi Online

40 Contoh Cerita Fantasi Pendek yang Menarik dan Seru untuk Anak Sebelum Tidur

Kisah Bunda Handstand saat Hamil Besar Berujung Melahirkan Prematur di Toilet

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK