HaiBunda

KEHAMILAN

Fakta dan Kandungan Air Ketuban yang Perlu Bunda Tahu

Yuni Ayu Amida   |   HaiBunda

Kamis, 11 Jul 2019 09:31 WIB
Fakta dan Kandungan Air Ketuban yang Perlu Bunda Tahu /Foto: iStock
Jakarta - Bicara soal kehamilan pasti enggak lepas dari air ketuban ya, Bun. Nah, berikut fakta tentang air ketuban dan kandungannya, yang perlu diketahui ibu hamil.

Dikatakan dr.Khanisyah Erza Gumilar, Sp.OG, dari Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya, cairan ketuban merupakan air minum dan urine janin selama dalam kandungan. Jumlah air ketuban pun dapat berbeda pada setiap ibu hamil karena dipengaruhi keadaan sang bayi.

"Misalnya air ketuban sedikit, itu artinya ada masalah. Nah, hal yang harus diperhatikan pertama ada cacat janin atau enggak," jelas Khanisyah, dikutip dari detikcom.


Melansir Studycom, air ketuban adalah cairan yang berada dalam kantung ketuban. Cairan tersebut berwarna bening agak kekuningan dan mengelilingi janin dalam kandungan. Saat dalam rahim, janin mengapung dalam cairan ketuban ini. Nah, jumlah cairan ketuban terbesar rata-rata 800 ml di sekitar 34 minggu usia kehamilan.

Awalnya, cairan ketuban mengandung air dari tubuh ibu. Inilah kenapa wanita hamil biasanya menjadi sangat haus di trimester pertama. Sekitar 98 persen dari cairan ketuban adalah air, dan 2 persen sisanya adalah garam dan sel-sel dari bayi.

Foto: iStock

Setelah sekitar usia 4 bulan atau 20 minggu kehamilan, ginjal pada janin mulai berfungsi. Ini akan memungkinkan janin mulai buang air kecil. Janin juga dapat menelan dan mencerna cairan ketuban. Pada tahap inilah proporsi ketuban lebih besar mengandung urine janin, tapi hal ini aman kok, Bun.

Tak hanya urine, cairan ketuban juga mengandung nutrisi penting, hormon, dan antibodi, yang bisa membantu melindungi janin dari benturan dan cedera.

Dijelaskan dalam ulasan March of Dimes, cairan ketuban yang normal warnanya jernih atau berwarna agak kuning. Namun, pada beberapa kasus, cairan ketuban bisa terlihat hijau atau cokelat, yang biasanya sudah terkontaminasi meconium atau kotoran pertama bayi saat berada dalam rahim.


Jika bayi terkontaminasi meconium dalam rahim, berbahaya karena bisa masuk ke paru-parunya. Lebih lanjut, kondisi ini dapat menyebabkan masalah pernapasan serius, yang disebut sindrom aspirasi meconium, terutama jika cairannya kental.

Beberapa bayi dengan meconium dalam cairan ketuban mungkin memerlukan perawatan segera setelah lahir, demi mencegah masalah pernapasan. Namun, bayi yang tampak sehat saat lahir mungkin tidak memerlukan perawatan, bahkan jika cairan ketubannya mengandung meconium.

Simak pula video seputar puting tidak normal untuk menyusui ini, Bun.



(yun/muf)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Kisah Shoko Kawata Jadi Wali Kota Jepang Pertama Ambil Cuti Melahirkan, Tuai Pro-Kontra

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Deretan Pekerjaan di Indonesia dengan Gaji Minimal Rp100 Juta

Mom's Life Tim HaiBunda

Jadwal Hari Pertama Masuk Sekolah Wilayah DKI Jakarta hingga Jawa Timur

Parenting Novita Rizki

Alice Norin Temukan Chat Ayah asal Norwegia untuk Erling Haaland yang Curi Perhatian di Piala Dunia

Mom's Life Annisa Karnesyia

7 Tanda Orang Cerdas Dilihat dari Caranya Menggunakan Handphone

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Tanda Orang Cerdas Dilihat dari Caranya Menggunakan Handphone

Kisah Shoko Kawata Jadi Wali Kota Jepang Pertama Ambil Cuti Melahirkan, Tuai Pro-Kontra

Jadwal Hari Pertama Masuk Sekolah Wilayah DKI Jakarta hingga Jawa Timur

Deretan Pekerjaan di Indonesia dengan Gaji Minimal Rp100 Juta

5 Fakta Menarik Soal Masa Kecil Lionel Messi, Sempat Alami Gangguan Pertumbuhan Tulang

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK