kehamilan

Sudah Bukaan Lahir Berapa Bisa Ditandai dari Rasa Mulas Bunda

Ratih Wulan Pinandu Jumat, 27 Sep 2019 11:03 WIB
Sudah Bukaan Lahir Berapa Bisa Ditandai dari Rasa Mulas Bunda
Jakarta - Bunda, pernah punya pengalaman melahirkan yang menegangkan? Proses persalinan merupakan pengalaman pribadi yang berbeda-beda dialami setiap orang.

Bagi Bunda yang baru pertama kali melahirkan, biasanya diliputi kecemasan dan kepanikan. Terlebih saat dilatasi serviks atau bukaan lahir berjalan sangat lambat, hingga memakan waktu lebih dari 14 jam. Apalagi disertai rasa mulas yang sudah tak tertahankan ya, Bun.

Menanggapi itu, spesialis Obstetri dan Ginekologi Sita Ayu Arumi, Sp.OG dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading menjelaskan pada fase I, proses pembukaan terjadi saat rasa nyeri timbul akibat dilatasi serviks dan segmen bawah rahim serta peregangan dinding rahim.


Pada fase II persalinan, yaitu saat melahirkan bayi, nyeri ditambah dengan regangan dan robekan jaringan.

"Tahap berikutnya yaitu nyeri saat pelepasan plasenta, di sini sebenarnya merupakan nyeri yang paling minimal dari seluruh proses persalinan. Tahap terakhir adalah nyeri yang timbul akibat penjahitan luka perineum dengan atau tanpa episiotomi. Nyeri timbul akibat kerusakan jaringan dan serabut saraf perifer," terang Sita dilansir detikcom.

Menghitung Bukaan Lahir dari Rasa Mulas yang Bunda RasakanSeberapa lama fase bukaan terjadi/ Foto: iStock

Perlu Bunda ketahui jika persalinan terbagi dalam beberapa tahapan. Melansir Health Line, proses persalinan dibagi menjadi dua fase yaitu laten dan aktif. Tahapan pertama adalah saat Bunda menunggu proses bukaan lahir lengkap. Seperti yang kita tahu bukaan lahir harus genap berjumlah sampai 10.

Secara ilmiah, tak ada patokan atau batasan seberapa lama fase bukaan akan terjadi. Pada ibu yang baru pertama kali melahirkan, memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menunggu bukaan lengkap. Pada fase ini kontraksi belum kuat dan teratur, karena serviks sedang berada pada tahap pemanasan, pelunakan, dan mempersiapkan kelahiran.

Bunda dianggap berada dalam tahapan persalinan aktif begitu bukaan lahir sudah sampai 3-4 cm. Dimana kontraksi sudah lebih sering terjadi dengan rasa lebih kuat dan lebih lama. Pada proses bukaan ini, bisa dialogikan dengan besar buah, Bun.

Saat bukaan 1 itu jalan lahir akan terbuka 1 cm yang artinya baru bisa dilalui buah blueberry. Saat pembukaan dua, akan terbuka 2 cm atau sebesar buah cherry. Selanjutnya pada bukaan 4 yang artinya terbuka 4 cm atau sama dengan irisan buah lemon.

Pada saat bukaan enam, serviks akan membuka 6 cm atau setara dengan lebarnya kepingan chocolate chip. Selanjutnya saat sudah pembukaan 8 jalan lahir terbuka 8 cm yang artinya bisa dilewati irisan separuh jeruk. Terakhir, ketika bukaan sudah lengkap pada jarak 10 cm bisa dilalui bagel.

Untuk mencapai bukaan lengkap, biasanya akan bertambah 0,5 cm per jam hingga 0,7 cm per jam. Seberapa lama bukaan bertambah juga akan tergantung, apakah itu bayi pertama atau bukan, Bun.

Pada bunda yang sudah pernah melahirkan, bayi cenderung bergerak lebih cepat melalui persalinan. Sedangkan pada bunda lainnya, ada yang bukaan berjalan sangat lambat, tapi kemudaan membesar dengan sangat cepat. Banyak bukaan lahir tidak benar-benar melebar sampai mendekati 6 cm. Tahap persalinan pertama berakhir ketika serviks sepenuhnya dilebarkan hingga 10 cm dan sepenuhnya terhapus (menipis).

Pada tahapan inilah persalinan tahap kedua akan dimulai. Ada rentang waktu yang dibutuhkan bayi untuk keluar dari mulut rahim. Ada bunda yang melahirkan hanya dengan sedikit mengejan keras, atau mendorong selama satu jam lebih.

Dorongan terjadi hanya dengan kontraksi, dan bunda didorong untuk beristirahat selama proses melahirkan berlangsung. Pada titik ini, kontraksi akan terjadi selama tiga menit sekali, dan berlangsung selama 60-90 detik.


Nah, Bun, untuk mengurangi rasa nyeri dr Hari Nugroho, SpOG dari Rumah Sakit Manyar Medical Centre menyarankan agar Bunda menjalankan program persiapan persalinan yang dapat membantu mengelola rasa nyeri.

"Misalnya dengan mengubah mindset bahwa nyeri itu timbul sebagai proses yang baik, perjuangan demi seorang anak, atau apapun yang menenangkan. Sehingga pada saat nyeri itu datang, bukan keluhan atau teriakan yang keluar, melainkan semangat," ungkap Hari dikutip dari detikcom.


(rap/rap)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi