kehamilan

10 Sindrom Kehamilan Berbahaya untuk Ibu dan Janin

Annisa Karnesyia Jumat, 11 Oct 2019 18:45 WIB
10 Sindrom Kehamilan Berbahaya untuk Ibu dan Janin Ibu hamil/ Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Keguguran, bayi lahir mati, dan bayi meninggal setelah lahir bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya sindrom yang mungkin diidap atau menyerang ibu saat hamil.

Disadari atau tidak, sebaiknya ibu hamil mengenali tanda-tandanya. Dokter dari RS Mayapada Tangerang, dr.Noviyanti, SpOG mengatakan, jika ibu hamil mengalami tanda-tanda yang mencurigakan, segera periksa ke dokter untuk dilakukan USG.

"Kalau normal biasanya dokter akan menyarankan dan memberi obat untuk menguatkan janin," kata Novi, dikutip dari detikcom.


Bila ada yang tidak normal, dokter akan melakukan tindakan untuk mengeluarkan janin dalam rahim. Itulah pentingnya Bunda mengetahui gangguan atau sindrom-sindrom yang mungkin terjadi selama hamil. Berikut telah HaiBunda rangkum, 10 sindrom itu:

1. Sindrom Hellp

Sindrom Hellp (Hemolysis Elevated Liver Enzymes Low Platelet Count) adalah kelainan hati dan darah yang bisa berakibat fatal jika tidak diobati. Melansir dari Healthline, sindrom kehamilan ini ini sering dikaitkan dengan preeklampsia dan terjadi 5 sampai 8 persen pada kehamilan.

Sindrom Hellp dalam kehamilan sering menyerang ibu hamil yang usia kandungannya lebih dari 20 minggu. Meski persentase angka kejadian kecil, sindrom ini bisa membahayakan ibu hamil dan bayinya.

Gejala sindrom Help di antaranya, kelelahan, perut sakit terutama bagian atas perut, mual, muntah, dan sakit kepala. Beberapa ibu hamil juga mengalami bengkak di tangan dan wajah, kenaikan berat badan tiba-tiba, penglihatan terganggu, dan sakit saat menarik napas.

Preeklampsia masih menjadi penyebab utama sindrom Hellp. Namun, ada penyebab lain, yaitu usia ibu di atas 35 tahun, keturunan ras Afrika-Amerika, obesitas, ada riwayat diabetes dan sakit ginjal, darah tinggi, dan pernah hamil.

2. Antiphospholipid syndrome (APS)

APS adalah penyakit autoimun yang disebabkan antibodi (antiphospholipid) menyerang tubuh orang itu sendiri. Ini mengakibatkan pembekuan darah dan komplikasi kehamilan.

Dikutip dari laman Hospital for Special Surgery, meski APS bisa menyebabkan komplikasi kehamilan, kebanyakan wanita bisa melahirkan bayi dengan sehat. Lebih dari 80 persen lahir hidup, dan 60 persen tidak akan terkena komplikasi selama hamil.

Beberapa kondisi APS bisa menyebabkan keguguran dan bayi lahir prematur yang disebabkan preeklampsia, eklampsia, dan gangguan plasenta. Bisa juga membentuk gumpalan darah selama kehamilan sampai usia 6 minggu setelah kelahiran bayi.

Ibu hamilIbu hamil/ Foto: iStock

3. Twin Reversed Arterial Perfusion (Sindrom TRAP)

Sindrom TRAP masih sulit ditemukan penyebabnya. Kondisi ini hanya terlihat pada kehamilan bayi kembar monozigot monokorionik. Insidennya, 1 dari 35.000 kelahiran atau 1 dari 100 kehamilan monozigot.

Kematian janin biasanya karena gagal jantung atau lahir prematur. Pada bayi kembar, diperkirakan karena gangguan pembuluh dan sirkulasi darah serta masalah jantung pada bayi kembar yang dikandung.

4. Sindrom Edward

Sindrom Edward dikenal dengan nama trisomi 18. Mengutip laman NHS, normalnya kita memiliki 23 kromosom di tubuh termasuk sepasang kromosom nomor 18. Tapi pada bayi dengan sindrom Edwards, kromosom nomor 18 berjumlah 3.

Sindrom ini jarang diturunkan dari orang tua. Berkembangnya kromoson nomor 18 jadi 3, biasanya terjadi secara acak saat terbentuknya sel telur atau sperma.

Bayi dengan sindrom Edward kebanyakan akan meninggal sebelum dilahirkan. Jika bayi lahir, secara fisik akan mengalami berat badan rendah, bentuk kepala tidak normal dan kecil, mulut dan rahang kecil, jari-jari seperti belum berkembang, telinga kecil, dan omphalocele (cacat lahir di mana ususu atau organ perut lain keluar dari pusar).

Wanita hamil dianjutkan untuk menjalani tes sindrom Edward di usia kehamialn 10 sampai 14 minggu. Tes biasanya dilakukan bersama tes sindrom Down dan sindrom Patau.

5. Sindrom Patau

Hampir sama dengan sindrom kehamilan, sindrom Edward, sindrom Patau memiliki kromosom yang berjumlah 3, yaitu kromosom nomor 13. Biasanya menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, atau bayi yang meninggal setelah lahir.

Bayi dengan sindrom Patau akan tumbuh lebih lambat dalam kandungan, termasuk berat badan rendah, dan masalah medis yang serius. Kondisi ini terjadi secara acak selama masa pembuahan sel telur dan sperma.

Sindrom ini memengaruhi sekitar 1 sampai 5.000 kelahiran. 9 dari 10 anak yang lahir dengan sindrom Patau meninggal di tahun pertama dan sekitar 1 dari 10 bayi dengan sindrom trisomi parsial atau mosaik 13, hidup selama lebih dari setahun.

6. Sindrom Fibromyalgia

Fibromyalgia adalah kondisi kronis yang menyebabkan sakit musculoskeletal, kelelahan, perubahan mood, dan gangguan memori. Ibu hamul yang mengalami sindrom ini bisa mengalami stres fisik dan emosional. Demikian dilansir Medical News Today.

Ibu hamil dengan fibromyalgia akan mengalami rasa sakit hebat, kelelahan, dan stres di trimester satu dan tiga kehamilan. Sampai saat ini masih sedikit penelitian yang membahas fibromyalgia pada kehamilan, namun beberapa ahli percaya cara menanganinya dengan mengubah gaya hidup dan konsumsi obat-obatan.

Ibu hamilIbu hamil/ Foto: iStock

7. Sindrom Potter

Mengutip National Organization for Rare Disordes (NORD), sindrom kehamilan Potter adalah kondisi langka yang ditandai dengan karakteristik fisik janin yang berkembang namun terlalu sedikit air ketuban dalam rahim selama kehamilan. Air ketuban berfungsi untuk perkembangan janin.

Kurangnya air ketuban menyebabkan tekanan normal dinding rahim memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Bayi yang lahir akan memiliki wajah yang khas, seperti dagu kecil, hidung rata, jarak kedua mata jauh, telinga tidak memiliki tulang rawan, ada lipatan kulit di sudut dalam mata, dan bawah bibir. Wajah yang khas ini sering disebut 'Muka Potter".

8. Sindrom Apert

Sindrom Apert adalah kelainan genetik yang menyebabkan perkembangan tengkorak tidak normal. Dilansir laman WebMD, bayi dengan sindrom ini dilahirkan dengan bentuk kepala dan wajah yang terdistorsi.

Banyak anak-anak dengan sindrom Apert juga memiliki cacat lahir. Bayi lahir dengan sindrom ini tidak bisa diobati dengan obat, tapi bisa dengan pembedahan yang dapat membantu memperbaiki beberapa masalah.

Sindrom Apert disebabkan oleh mutasi langka pada gen tunggal. Gen yang bermutasi ini biasanya bertanggung jawab untuk membentuk tulang. Dalam hampir semua kasus, mutasi gen sindrom ini bersifat acak. Hanya sekitar 1 dari 65.000 bayi yang lahir dengan sindrom Apert.

9. Sindrom Asherman

Sindrom Asherman adalah kondisi yang jarang terjadi di rahim wanita. Mengutip Healthline, wanita dengan kondisi ini, jaringan parut atau adhesi terbentuk di dalam rahim karena trauma.

Dalam kasus yang parah, seluruh dinding depan dan belakang rahim dapat menyatu. Dalam kasus yang lebih ringan, perlengketan dapat muncul di area rahim yang lebih kecil. Adhesi bisa tebal atau tipis, dan mungkin letaknya jarang atau justru bersatu.

Beberapa wanita dengan sindrom ini sulit untuk hamil. Jika hamil, rentan mengalami keguguran yang berulang.

Bunda tetap bisa hamil, namun perlengketan di rahim dapat menimbulkan risiko janin yang sedang berkembang. Peluang keguguran dan kelahiran mati lebih tinggi pada kondisi ini.

Beberapa risiko yang bisa terjadi selama kehamilan karena sindrom Asherman adalah plasenta previa, plasenta increta, dan perdarahan. Untuk mengobati sindrom Asherman bisa dengan operasi.

Operasi bisa meningkatkan peluang untuk hamil dan memiliki kehamilan yang sukses. Dokter akan merekomendasikan untuk menunggu setahun penuh setelah operasi sebelum mencoba untuk hamil.

10. Selective intrauterine growth restriction (sIUGR)

Kondisi ini terjadi pada kehamilan bayi kembar identik. Kehamilan ini disebut monokorionik, artinya dalam keadaan normal bayi kembar akan berbagi plasenta (setelah lahir) dan jaringan pembuluh darah.

Pada kondisi sIUGR, plasenta tidak dibagi secara merata antara bayi kembar. Ini bisa menyebabkan malnutrisi pada salah satu bayi kembar.

Dokter spesialis bisa mendiagnosis sIUGR dengan melihat hasil pemeriksaan ultrasound. Kemungkinan sIUGR bisa dinilai dari berat badan janin kembar. Jika estimasi salah satu berat badan bayi di bawah 10th persentil, bayi dikonfirmasi mengalami sIUGR.

Bunda, mudah-mudahan informasi tentang sindrom kehamilan ini bermanfaat ya. Simak juga penjelasan proses kehamilan bayi tabung di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi