sign up SIGN UP search


kehamilan

2 Proses Terjadinya Kehamilan pada Surrogate Mother, Ada yang Kontroversial

Dwi Indah Nurcahyani Kamis, 05 Nov 2020 15:54 WIB
A woman discuses her prenatal health during a routine check up with her obstetrician caption

Bunda sudah sering mendengar istilah surrogate mother atau ibu pengganti? Beberapa alasan medis membuat seorang wanita susah atau bahkan tidak boleh hamil lagi, sehingga kehadiran ibu pengganti ini bisa menjadi solusi untuk mendapatkan keturunan. 

Berbicara mengenai surrogate mother, pada praktiknya ibu pengganti ini harus menyediakan uterus sebagai tempat untuk berkembang bayi, dari sel telur yang dibuahi menjadi bayi yang baru lahir dan siap diasuh.

Surrogate mother sendiri diartikan sebagai ibu pengganti yang mengandung untuk pasangan tertentu karena pasutri tersebut tidak mampu melakukannya.


Ada dua tipe dari surrogates sendiri, gestational surrogacy yakni pengganti kehamilan ketika seorang wanita mengandung bayi yang secara biologis tidak terkait dengannya. Dalam artian, wanita tersebut memiliki sel telur yang layak tetapi tidak dapat mengandung sendiri.

Pada posisi gestational surrogacy, emborio dari wanita tersebut dibentuk secara in vitro dengan telur atau dengan telur donor dan sperma pasangan atau sperma donor, kemudian dipindahkan ke rahim pembawa kehamilan di mana ia tumbuh sampai bayi siap dilahirkan, seperti dikutip dari laman Whattoexpect.

Lalu, pada traditional surrogacy, ibu pengganti diinseminasi secara artifisial dengan sperma dari pasangan yang tidak subur atau melalui IVF menggunakan sel telur ibu pengganti itu sendiri. Pada jalan ini, biasanya memang lebih jarang digunakan daripada gestational surrogates karena implikasi etika dan hukum. Sebab, faktanya beberapa negara melarang praktik traditional surrogacy.

Melansir Family Tree Surrogacy, seorang surrogate mother akan hamil melalui proses IVF. IVF sendiri telah digunakan sejak akhir 1970-an dan ini adalah proses yang sangat aman untuk membuat surrogate mother hamil.

Prosesnya ialah dimulai dengan memanen telur dari induk yang dituju atau donor telur. Setelah pengujian medis, obat khusus diambil yang akan merangsang produksi telur. Saat telur sudah matang sepenuhnya, mereka akan dipanen oleh dokter IVF. Setelah dipanen, sel telur ditempatkan ke dalam inkubator yang kondisinya optimal agar sel telur tetap sehat menunggu sperma.

Setelah sperma dipanen, dokter akan menempatkan sperma di inkubator yang sama dengan sel telur dan menunggu hingga terjadi pembuahan. Biasanya, ada beberapa telur di inkubator untuk meningkatkan kemungkinan satu telur dibuahi.

Meskipun yang dibutuhkan hanyalah satu sel telur untuk dibuahi agar seorang surrogate mother hamil, biasanya beberapa telur yang dibuahi jika yang dipilih ternyata tidak dapat hidup maka  tidak ditanamkan di dalam rahim surrogate mother.

Ketika satu atau banyak telur dibuahi, mereka akan dibiarkan di inkubator untuk waktu yang singkat agar stabil dan menjadi telur yang dibuahi dengan sehat.

Dokter akan menggunakan alat suntik khusus untuk memasukkan sel telur yang sudah dibuahi ke dalam rahim pengganti. Setelah langkah dalam proses pengganti ini, surrogate mother harus beristirahat selama beberapa jam karena hal ini akan meningkatkan kemungkinan keberhasilan prosedur.

Setelah telur dimasukkan ke dalam rahim, mereka perlu menanamkan diri ke dinding rahim tempat mereka akan tinggal selama sembilan bulan ke depan. 

Ini adalah bagian yang sulit dari prosedur ini karena terkadang telur gagal ditanam bahkan jika sudah dibuahi. Itulah sebabnya, beberapa telur dibuahi lebih awal dalam prosesnya. Sehingga, ketika satu telur gagal ditanamkan, telur lainnya dapat digunakan tanpa memerlukan prosedur dari awal lagi.

Jika sel telur ditanamkan ke dalam dinding rahim, maka surrogate mother akan hamil. Kehamilan juga akan bergerak maju seperti kehamilan lainnya di mana bayi terus bertumbuh dan berkembang di dalam rahim surrogate mother hingga tiba saatnya bayi lahir.

Nah, itulah proses surrogate mother sampai akhirnya hamil dan orangtua yang menyewanya tinggal menunggu sampai proses kelahiran tiba. Semoga informasinya membantu ya, Bunda!

Bunda, simak juga yuk cerita Tya Ariestia menjalani program bayi tabung dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi