sign up SIGN UP search


kehamilan

Masa Nifas dalam Pandangan Islam, Bunda Perlu Tahu

Haikal Luthfi Jumat, 16 Oct 2020 18:44 WIB
ilustrasi pembalut Ilustrasi masa nifas/ Foto: iStock
Jakarta -

Setelah melahirkan, salah satu masa yang harus dilewati oleh kebanyakan wanita adalah masa nifas. Pada fase ini, juga dikatakan sebagai masa pemulihan.

Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai dari bayi lahir sampai organ di dalam kandungan kembali seperti sebelum hamil, dan tentunya memerlukan waktu untuk memulihkannya. Secara umum, diperlukan waktu pemulihan selama enam hingga delapan minggu. Namun, periode pemulihan bisa sangat bervariasi, Bunda.

Di samping itu, pemulihan ini akan melewati beberapa tahapan yang berbeda. Dikutip dari Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tahapan tersebut meliputi:


1. Immediate postpartum

Masa setelah bayi lahir sampai dengan 24 jam. Pada tahap ini merupakan fase kritis, sering terjadi insiden perdarahan postpartum karena atonia uteri. Oleh karena itu, penyedia kesehatan perlu melakukan pemantauan secara berkala, yang meliputi; kontraksi uterus, pengeluaran lokia, kandung kemih, tekanan darah, dan suhu.

2. Early postpartum (>24 jam-1 minggu)

Penyedia kesehatan harus memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta dapat menyusui dengan baik.

3. Late postpartum (>1 minggu-6 minggu)

Pada tahap ini, penyedia kesehatan tetap melakukan asuhan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling perencanaan Keluarga Berencana (KB).

4. Remote puerperium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat terutama bila selama hamil atau bersalin memiliki penyulit atau komplikasi. Selama tahapan itulah diperlukan asuhan masa nifas, yaitu berupa perawatan dan pengawasan.

Pada masa ini, seorang wanita cukup banyak mengeluarkan darah, sehingga akan membuat tubuh menjadi lemas. Jika tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup dan nutrisi yang bergizi, dapat memicu kelelahan, bahkan berujung depresi.

Masa nifas menurut Islam

White sanitary pad with red and pink flowers on it, woman health or body positive concept. Pink background.  Flatlay. CopyspaceIlustrasi nifas/ Foto: iStock

Dalam Islam, terdapat perbedaan pendapat tentang masa nifas. Namun, dari beberapa riwayat, batas umum masa nifas maksimal adalah empat puluh hari. Lebih dari itu tidak disebut darah nifas.

Dikutip dari buku Fiqih Wanita yang ditulis oleh Syaikh Kamil Muhammad, batas maksimal keluarnya nifas adalah 40 hari. Hal ini diriwayatkan dari Ummu Salamah, yakni:

"Pada masa Rasulullah, para wanita yang sedang menjalani masa nifas menahan diri selama 40 hari atau 40 malam." (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Nifas itu sendiri merupakan darah yang keluar setelah persalinan. Jika janin yang berada dalam kandungan sudah berbentuk manusia, maka darah yang keluar setelahnya termasuk nifas. Namun, jika janin yang keluar belum berbentuk manusia, maka darah setelahnya tidak dikategorikan sebagai nifas.

Terkadang, keluarnya darah nifas tidak lancar. Misalnya, sehari keluar, sehari tidak, begitulah seterusnya.

Mengutip dari jurnal yang berjudul 'Konsep Al Ghuslu dalam Kitab Fiqih Manhaji (2010)', menanggapi masalah nifas, para ulama dalam mazhabnya masing-masing mengemukakan pendapatnya.

Menurut Imam Maliki, jika hari-hari suci telah mencapai setengah bulan (15 hari), maka wanita tersebut sudah dikatakan suci. Darah yang keluar sesudah itu adalah darah haid, dan jika darah yang keluar masih kurang dari 15 hari, maka darah yang keluar adalah darah nifas.

Sementara menurut mazhab Imam Hanafi, masa suci yang berselang seling oleh keluarnya darah nifas, maka darah itu dianggap sebagai darah nifas.

Adapun dalam mazhab Imam Syafi'i disebutkan bahwa masa suci telah berlangsung 15 hari atau sesudah melahirkan, maka wanita tersebut dihukumi sebagai wanita yang bersuci. Sedangkan apabila kurang dari 15 hari, maka dikatakan sebagai wanita nifas.

Sedangkan dalam mazhab Imam Hambali mengatakan bahwa masa suci yang berselang-seling oleh keluarnya darah nifas, maka dianggap sebagai masa suci.

Nifas bagi wanita yang melahirkan anak kembar adalah dihitung sejak kelahiran anak pertama, bukan kelahiran kembar kedua. Meskipun jarak antara anak kembar yang pertama dengan anak kembar yang kedua relatif pendek, maka nifasnya terhitung mulai kelahiran anak kembar pertama.

Menurut mazhab Syafi'i bahwa apabila seorang wanita melahirkan anak kembar, maka nifasnya dihitung sejak kelahiran anak yang kedua. Darah yang keluar sehabis melahirkan anak yang pertama tidak dianggap sebagai darah nifas.

Mazhab Maliki berpendapat bahwa antara kelahiran anak pertama dengan anak kedua sampai 60 hari, maka masa nifasnya sendiri-sendiri. Tapi kalau kurang dari 60 hari, maka masa nifasnya hanya satu dan dihitung sejak kelahiran anak pertama.

Larangan saat nifas

Wanita dalam masa nifas dilarang untuk melakukan beberapa hal. Larangan bagi wanita nifas, hampir sama dengan haid, meliputi:

  1. Salat
  2. Puasa
  3. Membaca Al-Qur'an
  4. Menyentuh mushaf dan membawanya
  5. Masuk masjid
  6. Thawaf
  7. Bersetubuh
  8. Menikmati bagian tubuh istri antara pusar dan lutut.

Nah Bunda, semoga informasi ini membantu ya.

Simak juga Bunda, dampak hebat kurang tidur pada proses menstruasi pada video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(haf/haf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi