sign up SIGN UP search


kehamilan

Penyebab dan Cara Mencegah Penebalan Dinding Rahim atau Hiperplasia Endometrium

Annisa Karnesyia   |   Haibunda Jumat, 05 Aug 2022 17:39 WIB
Ilustrasi Rahim Penyebab dan Cara Mencegah Penebalan Dinding Rahim atau Hiperplasia Endometrium/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Penebalan dinding rahim adalah kondisi yang jarang dialami wanita. Lalu benarkan penebalan dinding rahim dapat memengaruhi peluang Bunda untuk hamil?

Penebalan dinding rahim disebut juga endometrial hyperplasia atau hiperplasia endometrium. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, penebalan dinding rahim merupakan kondisi ketika lapisan rahim (endometrium) menjadi terlalu tebal.

Perlu diketahui, endometrium berubah sepanjang sepanjang siklus haid karena respons dari hormon. Pada awal siklus haid, hormon estrogen akan diproduksi, Bunda.


"Hormon estrogen menyebabkan lapisan rahim menebal untuk mempersiapkan kehamilan," tulis ACOG di laman resminya.

Nah, di tengah siklus haid, sel telur akan dilepaskan dari salah satu ovarium. Proses ini disebut juga ovulasi.

Setelah proses tersebut, kadar hormon progesteron mulai meningkat. Tugas hormon ini adalah mempersiapkan endometrium untuk menerima dan menjaga sel telur yang telah dibuahi.

Jika kehamilan tidak terjadi, kadar estrogen dan progesteron menurun. Akibatnya, siklus haid kembali datang dan meluruhkan lapisan dinding rahim.

Penebalan dinding rahim atau Hiperplasia endometrium bukanlah penyakit kanker. Tapi dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat menyebabkan kanker rahim.

Hiperplasia endometrium terjadi saat lapisan rahim menjadi tebal karena terlalu banyak memiliki sel (hiperplasia). Mengutip Cleveland Clinic, hiperplasia endometrium jarang terjadi atau memengaruhi sekitar 133 dari 100.000 wanita.

Penyebab penebalan dinding rahim

Ilustrasi RahimIlustrasi Rahim/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Hiperplasia endometrium paling sering terjadi karena peningkatan hormon estrogen yang berlebih. Tapi, hormon progesteron tidak diproduksi tubuh.

Bila saat ovulasi tidak terjadi dan progesteron tidak diproduksi, lapisan dinding rahim tidak akan luruh atau menebal. Lapisan dinding rahim dapat terus tumbuh sebagai respons terhadap hadirnya hormon estrogen, Bunda.

Sel-sel yang membentuk lapisan ini dapat menumpuk dan mungkin menjadi tidak normal. Kondisi ini yang disebut hiperplasia dan bisa menyebabkan kanker.

Jenis penebalan dinding rahim

Ada tiga jenis penebalan dinding rahim atau hiperplasia endometrium berdasarkan perubahan sel di lapisan dinding rahim. Berikut 3 jenis penebalan dinding menurut ACOG:

  1. Hiperplasia endometrium jinak: Perubahan sel pada lapisan dinding rahim yang bukan kanker. Kondisi ini akan membaik tanpa pengobatan.
  2. Neoplasia intraepitel endometrium (EIN): Perubahan lapisan dinding rahim dan merupakan prakanker.
  3. Adenokarsinoma endometrium: Ini merupakan tipe endometrioid, kanker dapat terjadi karena penebalan dinding rahim.

Pada kondisi prakanker, penebalan dinding rahim harus segera diobati agar tidak berubah menjadi kanker rahim. Bunda perlu memahami jenis-jenis penebalan dinding rahim ini agar dapat mengetahui risiko terjadinya kanker dan memilih pengobatan yang paling efektif.

Faktor risiko penebalan dinding rahim

Berikut faktor risiko yang menyebabkan penebalan dinding rahim atau hiperplasia endometrium:

1. Menopause

Penebalan dinding rahim biasanya terjadi setelah menopause, ketika ovulasi berhenti dan progesteron tidak lagi diproduksi. Tapi, kondisi ini juga dapat berkembang selama periode perimenopause, yakni saat Bunda tidak mengalami ovulasi secara teratur.

2. Penggunaan obat-obatan tertentu

Penggunaan obat-obatan yang memiliki fungsi seperti hormon estrogen bisa menjadi faktor risiko penebalan dinding rahim. Salah satu jenis obat ini adalah tamoxifen untuk pengobatan kanker.

Selain itu, faktor risiko lainnya adalah penggunaan estrogen untuk terapi hormon. Penebalan dinding rahim dapat terjadi bila pada terapi tersebut juga tidak menggunakan progesteron atau progestin.

3. Haid tidak teratur

Bunda yang memiliki periode haid tidak teratur juga bisa jadi faktor risiko hiperplasia endometrium. Terutama terkait dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) atau infertilitas.

4. Obesitas

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Einstein (Sao Paulo) tahun 2014, ada korelasi signifikan antara pasien yang kelebihan berat badan dan obesitas dengan peningkatan ketebalan lapisan dinding rahim. Obesitas juga berkontribusi pada peningkatan kanker endometrium di rahim setelah menopause.

5. Merokok

Merokok merupakan faktor risiko yang menyebabkan penebalan dinding rahim hingga risiko kanker endometrium. Menurut penelitian, merokok secara aktif atau pasif juga dapat memengaruhi faktor kesuburan untuk bisa hamil.

Selain kelima faktor risiko di atas, penebalan dinding rahim juga dapat terjadi karena beberapa hal berikut:

  • Riwayat keluarga dengan kanker usus besar dan kanker rahim
  • Belum pernah hamil
  • Menjalani perawatan payudara tertentu
  • Penyakit tiroid
  • Penyakit kandung empedu
  • Diabetes
  • Mengawali menstruasi di usia sangat muda

Tanda penebalan dinding rahim

Ilustrasi RahimIlustrasi Rahim/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Berikut tanda Bunda mengalami penebalan dinding rahim atau hiperplasia endometrium:

  1. Pendarahan uterus yang abnormal, yakni lebih berat atau berlangsung lebih lama dari biasanya.
  2. Siklus haid lebih pendek dari 21 hari (dihitung dari hari pertama haid sampai hari pertama haid berikutnya).
  3. Mengalami pendarahan setelah menopause.

Perlu diketahui, pendarahan yang abnormal bukan berarti Bunda mengalami penebalan dinding rahim ya. Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa kondisi. Untuk memastikannya, Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Diagnosis penebalan dinding rahim

Dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosis penebalan dinding rahim. Dokter juga akan melihat riwayat kesehatan dan siklus haid Bunda.

"Mereka mungkin bertanya tentang gejala dan riwayat haid, seperti usia berapa mulai haid dan menopause," kata Jabeen Begum, MD, dilansir WebMD.

Nah, berikut 3 pemeriksaan medis yang dilakukan untuk diagnosis penebalan dinding rahim:

1. Ultrasound (USG)

USG transvaginal dapat dilakukan untuk melihat penebalan lapisan dinding rahim, Bunda. USG menggunakan gelombang suara yang diubah menjadi gambar rahim. Bila lapisan dinding rahim menebal, Bunda mungkin mengidap hiperplasia endometrium.

2. Biopsi

Bunda mungkin juga perlu menjalani biopsi untuk mendiagnosis penebalan dinding rahim. Dokter akan mengambil sampel jaringan dari lapisan rahim, lalu diuji di laboratorium untuk melihat apakah itu kanker atau penebalan dinding rahim.

3. Histeroskopi

Histeroskop merupakan alat pemeriksaan berupa tabung tipis, terang, dan fleksibel. Dokter akan menggunakan alat ini untuk melihat ke dalam rahim bila ada kelainan. Dokter juga dapat melakukan biopsi atau kuret.

Penanganan pada penebalan dinding rahim

Pregnant woman and doctor in hospitalIlustrasi USG/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Penebalan dinding rahim dapat diatasi dengan memberikan progestin. Menurut ACOG, progestin diberikan secara oral, suntikan, krim vagina, atau melalui alat kontrasepsi IUD.

Lama pengobatan serta dosisnya akan tergantung pada usia dan jenis hiperplasia. Perlu diketahui, pengobatan dengan progestin dapat menyebabkan pendarahan vagina seperti haid.

Bila ada peningkatan risiko kanker karena jenis neoplasia intraepitel endometrium (EIN), dokter dapat merekomendasikan histerektomi untuk mengangkat rahim. Tapi setelah histerektomi, Bunda tidak akan bisa hamil.

Pencegahan penebalan dinding rahim

Bunda tidak dapat mencegah penebalan dinding rahim, tapi bisa menurunkan risiko dengan cara berikut:

  1. Bila mengonsumsi estrogen setelah menopause, Bunda juga perlu mengonsumsi progestin atau progesteron.
  2. Bila haid tidak teratur, penggunaan pil KB mungkin direkomendasikan. Pil KB mengandung estrogen dan progestin.
  3. Pertahankan berat badan ideal atau menurunkan berat badan bila mengalami obesitas.
  4. Gunakan alat kontrasepsi untuk mengatur siklus haid.
  5. Berhenti merokok.

Penebalan dinding rahim dan peluang hamil

Wanita yang mengalami penebalan dinding rahim akan memproduksi banyak hormon estrogen tapi tidak cukup memiliki progesteron. Kedua hormon ini memainkan peran penting dalam siklus haid dan kehamilan.

Menurut ulasan di Fertilitypedia, banyak wanita dapat hamil dengan kondisi penebalan dinding rahim. Tapi paling penting adalah bicara dengan dokter untuk memahami kondisi dan menentukan terapi yang tepat.

Penelitian menunjukkan, sekitar 30 persen wanita yang mengalami pertumbuhan dinding rahim berlebih dan memilih jenis perawatan tertentu dapat hamil dan memiliki kelahiran hidup. Namun, kondisi ini mungkin tidak bisa dilakukan bila Bunda sudah dalam fase EIN dan memutuskan histerektomi atau mengangkat rahim.

Bunda, yuk download aplikasi digital Allo Bank di sini. Dapatkan diskon 10 persen dan cashback 5 persen.

Simak juga 5 ciri pendarahan nifas, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/pri)
program-kehamilan
Program Hamil Ketahui lebih jauh 30 hari perencanaan kehamilan. Cek Yuk arrow-right
Share yuk, Bun!
Menanti kelahiran Si Kecil dengan arti nama bayi yang pas untuknya nanti hanya di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ikuti perkembangan kehamilan Bunda setiap minggunya di Aplikasi HaiBunda yuk, Bun!