HaiBunda

KEHAMILAN

Australia Bertekad Jadi Negara Pertama yang Bebas dari Kanker Serviks pada 2035

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Minggu, 11 Jan 2026 15:10 WIB
Australia Bertekad Jadi Negara Pertama yang Bebas dari Kanker Serviks pada 2035/Foto: iStockphoto/Getty Images/KTStock
Jakarta -

Bunda, pernah kebayang enggak kalau suatu hari ada negara yang benar-benar bisa 'bebas' dari kanker serviks? Kedengarannya seperti mimpi, ya. Tapi kabar baiknya, mimpi itu kini makin dekat jadi kenyataan. Australia diperkirakan akan menjadi negara pertama di dunia yang berhasil mengeliminasi kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat. 

Pencapaian ini bukan terjadi begitu saja, melainkan hasil dari pencegahan jangka panjang lewat vaksinasi HPV dan skrining rutin. Kabar ini tentu jadi angin segar, sekaligus pengingat pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini, bukan cuma untuk kita, tapi juga untuk anak-anak kita kelak.

Kanker serviks 

Kanker serviks masih menjadi salah satu jenis kanker paling umum yang menyerang perempuan, termasuk di Indonesia. Banyak kasus baru ditemukan saat sudah memasuki stadium lanjut, padahal kanker ini sebenarnya dapat dicegah dan dideteksi lebih dini. Salah satu kunci penting untuk memahami kanker serviks adalah mengenal peran Human Papillomavirus (HPV).


Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh di leher rahim (serviks), yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Penyakit ini berkembang secara perlahan, biasanya diawali dari perubahan sel normal menjadi sel pra-kanker, lalu berkembang menjadi kanker dalam hitungan tahun.

Pada tahap awal, kanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala. Inilah yang membuat banyak perempuan tidak menyadari kondisinya sampai penyakit sudah berkembang lebih jauh.

Dikutip dari NewsGP, laporan terbaru dari Pusat Penelitian Unggulan dalam Pengendalian Kanker Serviks mengungkapkan bahwa angka kejadian kanker di kalangan wanita Australia terus menurun, dan kemajuan sedang dicapai menuju pemberantasan ‘di sebagian besar indikator’.

Angka kejadian kanker serviks nasional menurun menjadi 6,3 per 100.000 pada tahun 2021, dibandingkan dengan 6,6 per 100.000 pada tahun 2020, tetapi laporan tersebut menyoroti bahwa pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan ini adalah awal dari tren penurunan.

Mengenal HPV: Virus yang berperan besar

HPV atau Human Papillomavirus adalah kelompok virus yang sangat umum dan dapat menular melalui kontak kulit ke kulit, terutama melalui hubungan seksual. Sebagian besar orang yang aktif secara seksual akan terinfeksi HPV setidaknya sekali dalam hidupnya.

Penting untuk diketahui, tidak semua infeksi HPV menyebabkan kanker. Dalam banyak kasus, sistem imun tubuh mampu membersihkan virus ini secara alami dalam waktu 1–2 tahun tanpa menimbulkan masalah kesehatan. Namun, ada beberapa tipe HPV yang disebut HPV risiko tinggi, terutama HPV tipe 16 dan 18, yang bertanggung jawab atas sekitar 70 persen kasus kanker serviks di dunia.

Infeksi HPV risiko tinggi yang menetap (tidak hilang dalam waktu lama) dapat menyebabkan perubahan pada sel-sel serviks. Perubahan ini disebut lesi pra-kanker. Jika tidak terdeteksi dan ditangani, lesi tersebut bisa berkembang menjadi kanker serviks. Proses ini umumnya berlangsung perlahan, sehingga memberikan kesempatan besar untuk deteksi dini dan pencegahan.

Pada tahun 2021, tidak ada kasus kanker serviks yang didiagnosis pada wanita di bawah usia 25 tahun untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1982 – dengan laporan tersebut menyatakan ‘pencapaian luar biasa ini hampir pasti disebabkan oleh dampak vaksinasi HPV’.

Strategi Australia: Vaksinasi dan skrining

Dikutip dari Department of Health and Aged Care Australia, keberhasilan Australia tidak lepas dari kombinasi vaksinasi dan skrining yang konsisten. Pemerintah menetapkan target yang cukup ambisius, yakni cakupan vaksinasi HPV yang tinggi, skrining rutin, serta penanganan optimal bagi kasus yang terdeteksi.

Dalam dokumen resminya disebutkan, 'Strategi ini mencakup tujuan untuk mencapai cakupan vaksinasi HPV sebesar 90 persen, partisipasi skrining sebesar 70 persen, dan akses terhadap pengobatan yang sesuai sebesar 95 persen.' Vaksin Gardasil untuk melindungi terhadap human papillomavirus (HPV) ditawarkan secara gratis kepada orang berusia 9–25 tahun di bawah Program Imunisasi Nasional.

Selain itu, Australia juga mengganti metode skrining menjadi tes HPV yang dinilai lebih sensitif dibanding Pap smear konvensional, bahkan menyediakan opsi pengambilan sampel mandiri agar perempuan lebih nyaman menjalani pemeriksaan.

Dikutip dari newsGP, dokter umum dan ahli kesehatan wanita, Profesor Madya Magdalena Simonis, mengatakan bahwa temuan ini merupakan ‘kesuksesan besar’ bagi program skrining Australia, dengan dokter umum sebagai garda terdepan.

Disisi lain, asisten Menteri Kesehatan dan Perawatan Lansia Rebecca White mengatakan bahwa memastikan skrining serviks ‘inklusif, mudah diakses, dan efektif’ adalah kunci untuk mencapai target eliminasi.

Dampak nyata sudah terlihat

Berdasarkan temuan dari tahun 2024, laporan tersebut menemukan bahwa proporsi perempuan berusia 35–39 tahun yang telah menjalani setidaknya satu tes HPV seumur hidup mereka terus meningkat, dengan proporsi ini sekarang mencapai 85 persen secara nasional. Tingkat kelangsungan hidup juga membaik, dengan tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 76,8 persen pada tahun 2017–2021, dibandingkan dengan 73,9 persen pada tahun 2012–2016.

Sebagai anggota Kelompok Penasihat Ahli Strategi Eliminasi Kanker Serviks Nasional, Profesor Madya Simonis mengatakan bahwa dengan eliminasi kanker serviks sebagai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia, strategi Australia 'memberi contoh'.

"Tes mandiri oportunistik disambut baik bagi mereka yang menghindari skrining karena rasa malu dan kurangnya kesadaran, misalnya, 'Saya tidak punya pasangan, jadi saya tidak perlu diskrining' atau yang pernah mengalami trauma sebelumnya," kata Simonis.

Kendati demikian, laporan tersebut juga mencatat bahwa hambatan yang masih ada untuk mengakses skrining juga perlu diatasi, termasuk biaya yang harus dikeluarkan sendiri untuk mengakses layanan kesehatan primer, dan kekurangan ketersediaan penyedia layanan di banyak daerah.

Apa arti 'bebas' kanker serviks?

Bun, istilah bebas atau eliminasi bukan berarti kanker serviks benar-benar hilang sepenuhnya. World Health Organization (WHO) mendefinisikan eliminasi sebagai penurunan angka kejadian hingga sangat rendah, sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.

WHO juga menilai Australia sebagai contoh penting keberhasilan pencegahan.

“Australia menetapkan target untuk mengeliminasi kanker serviks pada tahun 2035 dengan fokus kuat pada vaksinasi, skrining, dan akses layanan yang berkeadilan.,” tulis WHO dalam laporannya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!



(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Benarkah Minuman Isotonik Bisa Memicu Kontraksi Jelang Persalinan?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Cerita Rizky Febian Bucin ke Mahalini, Akui Makin Sayang Setelah Lihat Istri Melahirkan

Mom's Life Amira Salsabila

Akurnya Anak-anak Jessica Iskandar, Don Dan Hagia Rebutan Kakak El Barack

Parenting Amira Salsabila

Cerita Bunda Hampir Meninggal 6 Hari Pasca Melahirkan Gara-gara Alami Ini

Kehamilan Annisa Karnesyia

Transformasi Alifa Lubis Eks Artis Cilik, Kini Sudah 19 Tahun dan Bikin Pangling

Mom's Life Annisa Karnesyia

120 Kosakata Bahasa Malaysia Sehari-hari dan Artinya

Parenting Nadhifa Fitrina

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Cerita Rizky Febian Bucin ke Mahalini, Akui Makin Sayang Setelah Lihat Istri Melahirkan

Akurnya Anak-anak Jessica Iskandar, Don Dan Hagia Rebutan Kakak El Barack

Cerita Bunda Hampir Meninggal 6 Hari Pasca Melahirkan Gara-gara Alami Ini

Transformasi Alifa Lubis Eks Artis Cilik, Kini Sudah 19 Tahun dan Bikin Pangling

120 Kosakata Bahasa Malaysia Sehari-hari dan Artinya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK