KEHAMILAN
Tak di Rumah Sakit, Perempuan Ini Pilih Melahirkan di Tengah Ombak Laut Pasifik
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Rabu, 14 Jan 2026 11:10 WIBFasilitas kesehatan seperti rumah sakit biasanya menjadi pilihan utama untuk melahirkan. Tapi, apa jadinya bila Bunda memilih melahirkan Si Kecil di tempat yang 'tak biasa'?
Kisah ibu melahirkan di tempat 'tak biasa' dialami Josy Peukert. Perempuan 37 tahun ini memutuskan untuk melahirkan bayinya yang bernama Bodhi, tanpa bantuan di tengah ombak Samudra Pasifik, pada 27 Februari 2022.
Dilansir laman 7news, Peukert mengunggah sebuah postingan di Instagram yang menunjukkan bagaimana dia dan pasangannya berkendara ke pantai agar bisa melahirkan di tepi pantai Playa Majagual, Nikaragua. Video yang memperlihatkan ombak menerjang punggung saat Peukert menggeliat kesakitan akibat kontraksi ini telah ditonton lebih dari 200.000 kali.
"Gelombang itu memiliki ritme yang sama dengan kontraksi, aliran air yang lancar itu membuat saya merasa sangat nyaman," kata Peukert kepada Jam Press .
"Saya mendapat ide untuk melahirkan di laut, dan karena kondisinya tepat pada hari itu, itulah yang saya lakukan."
Peukert sudah mempersiapkan segalanya untuk melahirkan secara mandiri di laut. Saat tahu persalinannya akan dimulai, ia meminta anak-anaknya yang lain untuk menginap di rumah teman, sementara pasangannya mengantar ke pantai dengan membawa perlengkapan persalinan, seperti handuk, mangkuk dengan saringan untuk menampung plasenta, kain kasa, dan tisu.
"Setelah Bodhi lahir dan dibungkus handuk, saya kembali ke laut untuk menyegarkan diri. Lalu, saya berpakaian dan kami mengemasi semuanya lalu pulang ke rumah, di mana kami bertiga langsung tidur," ungkap Peukert.
"Malam itu kami menimbang Bodhi dengan timbangan koper, beratnya 3,5 kg atau 7 pon 6 ons," sambungnya.
Alasan melahirkan tanpa bantuan di laut
Peukert mengungkap alasannya melahirkan anak keempat tanpa bantun di pinggir laut. Ia mengaku ingin bayinya lahir tanpa intervensi medis karena dokter dan bidan mengurangi kemampuan tubuh perempuan untuk melakukannya sendiri.
"Saya ingin bebas dari kekhawatiran untuk sekali ini saja. Persalinan pertama saya traumatis di klinik dan persalinan kedua saya di rumah, tetapi pada persalinan ketiga, bahkan kehadiran bidan di rumah pun terlalu berat bagi saya. Kali ini saya tidak punya janji temu dokter, pemindaian, atau pengaruh dari luar," ujarnya.
"Kami tidak menetapkan tanggal atau tenggat waktu pasti kapan bayi akan lahir, kami hanya percaya bahwa bayi kami akan lahir dengan sendirinya."
Peukert mengaku tidak merasa takut melahirkan anaknya tanpa bantuan. Bunda empat anak ini justru merasa bahwa momen persalinan kali ini lebih indah karena dilakukan sendiri di laut.
"Saya tidak merasa takut atau khawatir menyambut jiwa kecil baru ke dalam hidup ini, hanya ada saya, pasangan saya, dan deburan ombak. Itu indah sekali. Pasir vulkanik lembut di bawah saya mengingatkan bahwa tak ada apa pun di antara langit dan bumi selain kehidupan," kata Peukert.
Peukert benar-benar sudah merencanakan untuk melahirkan anak keempatnya di laut. Ia merasa aman bisa melangsungkan proses persalinan mandiri di laut.
"Selama berminggu-minggu, saya memantau pasang surut air laut, jadi ketika saatnya tepat bagi saya untuk melahirkan, saya tahu pantai itu akan aman bagi kami," ungkapnya.
|
|
Jawab kritik dari netizen
Unggahan Peukert menuai kritik dari netizen. Beberapa di antaranya mempertanyakan proses persalinan yang dianggap tidak aman untuk bayi.
"Apakah ini higienis? Ada banyak bakteri di laut," tulis seorang netizen.
"Sungguh mengejutkan bagi bayi itu, dari rahim yang hangat ke lautan yang dingin," ujar yang lain.
Peukert menanggapi komentar berisi kritikan terhadap pilihannya melahirkan. Ia mengungkap bahwa proses persalinan berjalan lancar dan bayinya lahir dalam kondisi sehat, Bunda.
"Bodhi lahir di bawah terik matahari siang saat suhu sekitar 35 derajat, kami sama sekali tidak khawatir dia akan kedinginan dan saya tidak khawatir tentang infeksi yang ditularkan melalui air. Dia dalam keadaan sehat sepenuhnya," kata Peukert.
"Saya sudah melakukan semua riset yang diperlukan untuk memastikan keamanannya. Air adalah penghalang yang terbukti secara medis. Saya ingin merasa terhubung sepenuhnya melalui perawatan mandiri yang saya lakukan sendiri. Kehamilan ini adalah hadiah terbesar yang bisa kami bayangkan dan harapkan."
Kata pakar soal melahirkan tanpa bantuan medis
Tren melahirkan tanpa bantuan medis memang tengah berkembang beberapa tahun belakangan. Sebelum memutuskan untuk memilih proses persalinan ini, Bunda perlu mengetahui dulu risikonya ya.
Para ahli mengatakan bahwa risiko melahirkan tanpa bantuan tenaga medis umumnya rendah. Tapi, sebagian besar ahli tidak akan merekomendasikannya.
"Di seluruh populasi, menjalani persalinan dan kelahiran tanpa dukungan profesional dikaitkan dengan tingkat risiko yang lebih tinggi bagi ibu dan bayi," kata bidan senior Inggris dari University of Lancashire, Prof Soo Downe, melansir dari The Guardian.
Hal yang sama juga disampaikan oleh perawat dan bidan di Pediatrix Medical Group, Texas, Tania Lopez, CNM. Menurutnya, persalinan tanpa bantuan medis bisa sangat berisiko karena ibu mungkin tidak dapat mengenali adanya komplikasi medis.
"Risiko melahirkan tanpa tenaga profesional terlatih atau orang yang berpengalaman meliputi tidak mengenali potensi komplikasi seperti tekanan darah tinggi, risiko pendarahan, kesulitan persalinan yang berkepanjangan, dan bagaimana bayi menoleransi persalinan," ungkap Lopez, dikutip dari Parents.
Masalah medis lain yang mungkin muncul selama persalinan tanpa bantuan medis dan tidak dapat diatasi tanpa bantuan profesional meliputi:
- Komplikasi yang tidak terdiagnosis, termasuk presentasi sungsang, plasenta previa, preeklamsia, diabetes gestasional, dan cacat lahir.
- Tanpa kehadiran tenaga medis terlatih, komplikasi persalinan umum seperti distosia bahu dan perdarahan pasca persalinan dapat dengan cepat menjadi mengancam jiwa.
- Kurangnya keterampilan penting, seperti resusitasi bayi baru lahir, dapat membahayakan nyawa bayi bila mereka lahir dalam kondisi membutuhkan intervensi.
Demikian kisah Bunda melahirkan tanpa bantuan di laut, dan penjelasan tentang risiko melahirkan sendiri. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)