Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Cerita Ibu yang Jalani Program Bayi Tabung di Luar Negeri demi Pilih Gender Anak, Picu Perdebatan!

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Feb 2026 12:10 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil
Ilustrasi Ibu Hamil/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) memiliki beberapa keuntungan dalam perawatan kesuburan berbasis teknologi. Selain bisa mendapatkan momongan, pasangan suami istri yang menjalani IVF juga dapat memilih jenis kelamin anaknya.

Cerita ibu yang menjalani program bayi tabung demi memilih gender anaknya pernah viral beberapa waktu lalu. Sayangnya, kisah tersebut viral lantaran memicu perdebatan di kalangan publik, Bunda.

Menurut laporan News.com.au tahun 2025, perempuan bernama Caitlin Bailey memicu perdebatan nasional lantaran ia memilih untuk menjalani program bayi tabung di Amerika Serikat (AS) agar bisa memilih enis kelamin anak keempatnya. Perempuan yang dikenal sebagai influencer asal Australia ini mengatakan kepada Herald Sun bahwa dia menghabiskan 45.000 dollar AS (sekitar Rp760 juta) untuk mengunjungi klinik kesuburan di Los Angeles agar bisa hamil anak perempuan.

Bailey selalu menginginkan untuk memiliki dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia menghubungi Gender Selection Australia (GSA) untuk mendapatkan seorang anak perempuan lagi sebagai orang tua tunggal.

GSA lalu menghubungkannya dengan dokter spesialis kesuburan yang berbasis di California, Daniel Potter. Ia adalah ahli dalam pemilihan jenis kelamin anak dan pemeriksaan penyakit genetik.

Picu perdebatan karena terbentur aturan negara

Praktik yang dilakukan Bailey untuk mendapatkan anak perempuan memicu perdebatan nasional, Bunda. Bukan tanpa sebab, pemilihan jenis kelamin untuk menyeimbangkan keluarga umumnya dilarang di Australia. Menurut situs website GSA, aturan tersebut membuat ratusan keluarga Australia melakukan perjalanan ke luar negeri untuk memilih jenis kelamin bayi mereka melalui IVF.

Sebenarnya, praktik pemilihan jenis kelamin di Australia diperbolehkan pada kasus tertentu. Seseorang diizinkan memilih jenis kelamin bayinya untuk mengurangi risiko penularan kondisi genetik serius, penyakit, atau kelainan dari generasi mendatang.

Direktur ilmiah Connect IVF, Lauren Hiser, mengatakan bahwa meski dimungkinkan untuk mengetahui jenis kelamin embrio sebelum dipindahkan ke rahim, pemilihan jenis kelamin hanya dapat dilakukan di Australia bila ada komponen genetik yang terlibat dalam IVF.

Pemilihan jenis kelamin melalui IVF tersedia di Negara Bagian Australia antara tahun 1999 dan 2004. Sebagian besar digunakan untuk alasan keseimbangan keluarga, sehingga orang dapat memilih jenis kelamin yang mereka inginkan sebelum kehamilan.

"Setiap kali orang mendengar tentang pemilihan jenis kelamin, mereka selalu sangat khawatir bahwa orang-orang lebih suka memilih anak laki-laki daripada anak perempuan, itu hal pertama yang terlintas di benak orang-orang," kata Hiser.

Sebuah studi dari La Trobe University mengungkap bahwa keluarga-keluarga di Australia melakukan aborsi setelah menjalani tes prenatal non-invasif untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Para peneliti menemukan, preferensi budaya terhadap anak laki-laki di antara beberapa kelompok etnis menyebabkan jumlah anak laki-laki yang lahir di Negara Bagian Victoria lebih banyak daripada anak perempuan.

Peneliti utama di La Trobe Judith Lumley Centre, Kristina Edvardsson, meyakini bahwa beberapa perempuan mungkin menggugurkan kehamilan setelah mengetahui bahwa mereka mengandung anak perempuan. Dalam kasus lain, mereka melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mengakses layanan pemilihan jenis kelamin non-medis melalui program bayi tabung.

"Kita tahu bahwa perempuan dan laki-laki asal Australia dapat memilih untuk pergi ke luar negeri dan memilih jenis kelamin bayi mereka, tetapi yang dapat kita lihat dari rasio jenis kelamin dalam kelompok kelahiran Australia adalah bahwa rasio tersebut tidak condong ke jenis kelamin tertentu," ujarnya.

Sementara menurut Hiser, undang-undang teknologi reproduksi di Australia menyebabkan banyak warganya memilih untuk berobat ke luar negeri. Tak hanya untuk memilih jenis kelamin anak, tapi juga mencari surrogate mother atau ibu pengganti.

"Orang-orang yang mencari layanan ibu pengganti, itu tidak mudah dilakukan di Australia sehingga mereka pergi ke luar negeri. Tentu saja itu juga dilakukan untuk pemilihan jenis kelamin dan beberapa situasi. Karena hukum kita tidak mendukungnya, lebih mudah bagi orang untuk mengaksesnya di luar Australia," ungkap Hiser.

Pro dan kontra komentar publik

Keputusan Bailey memilih jenis kelamin anaknya dengan terbang ke AS telah memecah opini publik. Ada menghormati keputusannya, tapi juga ada yang tidak setuju, Bunda.

"Jika ada masalah genetik yang hanya diwariskan oleh satu jenis kelamin tertentu, maka saya rasa itu tidak masalah. Tapi murni karena alasan estetika atau preferensi gender, jawabannya tidak," kata salah satu netizen.

"Kurasa itu tergantung pada alasan mereka memilih. Jika karena faktor genetik, saya tidak masalah dengan itu. Tetapi jika karena seseorang menginginkan jenis kelamin tertentu, maka tidak," ujar yang lain di Facebook.

"Secara pribadi, saya rasa tidak ada masalah dengan hal itu. Terutama karena penyakit genetik spesifik gender dapat dihilangkan," ungkap seorang Bunda.

Demikian cerita ibu memutuskan untuk menjalani program bayi tabung di luar negeri demi bisa memilih jenis kelamin anak keempatnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda