Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Bunda Dituntut Suami Biayai IVF karena Dituding Jadi Penyebab Sulit Hamil

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Senin, 30 Mar 2026 15:20 WIB

Suami istri bertengkar
Kisah Bunda Dituntut Suami Biayai IVF karena Dituding Jadi Penyebab Sulit Hamil/Foto: Getty Images/xijian
Daftar Isi
Jakarta -

Memiliki anak adalah impian banyak pasangan. Namun bagi sebagian orang, perjalanan menuju kehamilan bisa penuh tantangan, bahkan memicu konflik dalam rumah tangga. Seperti kisah seorang perempuan yang viral di internet ini, yang justru diminta suaminya menanggung sendiri biaya program bayi tabung karena dianggap sebagai penyebab sulit hamil. Berikut kisahnya dikutip dari Yourtango.

Kisah Bunda yang dituding jadi penyebab sulit hamil

Seorang perempuan membagikan kisah rumah tangganya di forum online setelah merasa sangat terluka dengan sikap suaminya. Ia menceritakan bahwa dirinya dan sang suami sudah menikah selama 13 tahun, tetapi hingga kini belum juga dikaruniai anak. Selama bertahun-tahun mereka sudah mencoba berbagai cara agar bisa hamil secara alami. Namun usaha tersebut belum membuahkan hasil.

Ia menjelaskan bahwa salah satu temannya menyarankan agar mereka berdua mencoba perawatan IVF. Ketika ia menyampaikan ide tersebut kepada suaminya, awalnya suaminya setuju tetapi menjadi ragu setelah mengetahui betapa mahalnya seluruh proses tersebut.

Menurut Forbes, satu siklus IVF yang didefinisikan sebagai stimulasi ovarium, pengambilan sel telur, dan transfer embrio dapat berkisar antara $15.000 hingga $30.000, tergantung pada pusat dan kebutuhan individu pasien.

Awalnya sang suami tampak setuju dengan ide tersebut, apalagi mereka sebenarnya memiliki tabungan yang cukup untuk menjalani prosedur tersebut. Namun semuanya berubah ketika mereka mulai membicarakan biaya yang harus dikeluarkan.

Suami menolak membayar program IVF

Program bayi tabung memang dikenal cukup mahal. Di beberapa negara, biaya satu siklus IVF bisa mencapai 15.000 hingga 30.000 dolar AS, belum termasuk obat-obatan yang bisa menambah biaya cukup besar.

Saat mendengar angka tersebut, suami perempuan ini langsung menunjukkan sikap ragu. Ia mengatakan bahwa IVF belum tentu berhasil, sehingga menurutnya menghabiskan banyak uang untuk program tersebut terasa berisiko.

Namun yang paling membuat sang istri terpukul adalah alasan yang diungkapkan suaminya. Suaminya mengatakan bahwa ia tidak ingin ikut membayar biaya IVF, karena menurutnya masalah sulit hamil berasal dari sang istri. Dengan kata lain, ia merasa sang istri seharusnya menanggung sendiri seluruh biaya perawatan tersebut.

Sebelumnya, Ia menunjukkan bahwa meskipun perawatan IVF mahal, dan banyak orang Amerika seringkali tidak mampu menjalani seluruh proses, ia dan suaminya memiliki cukup tabungan.

Ketika ia berbicara lagi kepada suaminya tentang pilihan tersebut, suaminya tampak ragu untuk menempuh jalan itu dan berpendapat bahwa sesi tersebut tidak dijamin berhasil dan jika tidak berhasil, mereka berdua hanya akan membuang ribuan dolar tanpa alasan.

Ketika ia menegaskan kembali bagaimana mereka berdua mampu membayar perawatan tersebut dengan nyaman tanpa kesulitan keuangan, suaminya mengejutkannya dengan mengklaim bahwa ia seharusnya tidak perlu menanggung biaya IVF sama sekali.

"Dia menatapku dengan saksama dan mengatakan bahwa secara logis, karena akulah penyebab infertilitas, maka menurutnya aku harus menanggung biaya sesi IVF sendiri," tulisnya.

Dia berpendapat bahwa dia tidak 'berkewajiban' untuk membayar kebutuhan medisnya. Mendengar kata-kata suaminya dan desakannya bahwa karena dialah alasan mereka tidak bisa memiliki anak, dialah yang seharusnya bertanggung jawab atas semua biaya, dia segera mengemasi semua barang-barangnya dan pergi.

Ucapan tersebut membuat perempuan itu sangat sedih dan merasa tidak didukung oleh pasangan hidupnya sendiri. Baginya, perjuangan untuk memiliki anak seharusnya dilakukan bersama sebagai suami dan istri, bukan dengan saling menyalahkan.

Karena tidak tahan dengan situasi tersebut, ia akhirnya memutuskan pergi dari rumah untuk menenangkan diri. Yang membuatnya semakin bingung, beberapa anggota keluarga justru menganggap suaminya hanya sedang mengungkapkan pendapatnya secara jujur.

Infertilitas bisa dialami siapa saja

Para ahli menegaskan bahwa masalah kesuburan tidak selalu berasal dari satu pihak saja. Infertilitas bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari sisi perempuan maupun laki-laki.

Infertilitas adalah masalah umum, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit memperkirakan bahwa hal itu memengaruhi hampir satu dari lima perempuan atau wanita yang sudah menikah antara usia 15 dan 49 tahun. Ini dianggap sebagai penyakit sistem reproduksi dan seharusnya tidak pernah digunakan sebagai komentar asal-asalan untuk menyakiti seseorang dalam sebuah argumen.

Menurut berbagai penelitian medis, sekitar sepertiga kasus infertilitas berasal dari faktor perempuan, sepertiga dari faktor laki-laki, dan sisanya merupakan kombinasi keduanya atau penyebab yang tidak diketahui. Itulah sebabnya, pemeriksaan kesuburan biasanya dilakukan pada kedua pasangan, bukan hanya pada salah satu pihak saja.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!



(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda