HaiBunda

KEHAMILAN

'The Plastic Detox', Kisah para Pejuang Garis Dua Dapatkan Kehamilan dengan Hindari Produk Plastik

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 03 Apr 2026 16:30 WIB
'The Plastic Detox', Kisah para Pejuang Garis Dua Dapatkan Kehamilan dengan Hindari Produk Plastik/Foto: Getty Images/Keeproll
Jakarta -

Bunda, pernah nggak kepikiran kalau botol minum, wadah makanan, bahkan struk belanja bisa ikut memengaruhi peluang kehamilan?

Bagi sebagian pasangan, perjuangan mendapatkan garis dua bukan cuma soal program hamil, pola makan sehat, atau olahraga. Ada yang harus melangkah lebih jauh-bahkan sampai 'detoks plastik' demi harapan punya momongan.

Kisah ini terangkum dalam dokumenter The Plastic Detox, yang mengikuti perjalanan emosional para pejuang garis dua dari berbagai latar belakang. Berikut kisahnya dikutip dari Aol.


Perjuangan yang tak mudah: Saat segalanya sudah dicoba

Beberapa pasangan dalam cerita ini sudah mencoba hampir segalanya dari tes medis, suplemen mahal, hingga perubahan gaya hidup. Bahkan ada yang sudah berjuang hingga 10 tahun tanpa hasil.

Salah satu pasangan mengaku sudah menghabiskan ribuan dolar untuk berbagai pemeriksaan dan terapi, tapi tetap belum mendapatkan kehamilan. Mereka pun didiagnosis mengalami unexplained infertility alias penyebabnya tidak jelas.

Di titik inilah mereka mulai bertanya, "Apakah ada sesuatu yang terlewat?"

Ternyata 'musuhnya' ada di rumah sendiri

Tanpa disadari, paparan plastik ada di mana-mana-mulai dari:

  • Botol minum
  • Wadah makanan
  • Kemasan makanan
  • Produk kecantikan
  • Hingga pakaian berbahan sintetis

Plastik mengandung zat kimia seperti phthalates dan BPA (bisphenol A) yang dikenal sebagai endocrine disruptors, yaitu zat yang bisa mengganggu sistem hormon tubuh. Padahal, hormon punya peran penting dalam kesuburan, baik pada pria maupun wanita.

Bahkan, para ahli menemukan bahwa zat ini bisa masuk ke tubuh lewat makanan, udara, hingga kulit. Dikutip dari The Guardian, Penelitian terbaru menemukan mikroplastik sudah terdeteksi dalam cairan ovarium wanita bagian penting untuk perkembangan sel telur.

Sebagian besar plastik akan terurai seiring waktu menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik dan nanoplastik, yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui makanan dan air. Banyak penelitian telah menemukan mikroplastik di berbagai organ dan jaringan, termasuk jantung, lambung, dan bahkan otak kita. Paparan partikel-partikel kecil ini tampaknya semakin memburuk, menimbulkan masalah nyata: kerusakan pada organ, DNA, dan bahkan kesehatan metabolisme dan reproduksi.

Namun, penelitian baru menyoroti cara yang menjanjikan untuk membersihkan tubuh dari plastik-plastik yang mengganggu itu secara alami. Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Bioresource Technology, kimchi mengandung bakteri yang dapat membantu membersihkan tubuh dari nanoplastik, sejenis mikroplastik yang terbentuk dari penguraian polusi plastik.

Penelitian menemukan bahwa, ketika diisolasi, bakteri asam laktat yang ada dalam kimchi mengikat nanoplastik di usus dan kemudian dikeluarkan melalui usus. "Pencemaran plastik semakin diakui bukan hanya sebagai masalah lingkungan tetapi juga sebagai masalah kesehatan masyarakat. Temuan kami menunjukkan bahwa mikroorganisme yang berasal dari makanan fermentasi tradisional dapat mewakili pendekatan biologis baru untuk mengatasi tantangan yang muncul ini," kata Dr. Sehee Lee, peneliti utama studi tersebut.

Sebuah tinjauan baru-baru ini terhadap hampir 20 studi dalam jurnal Food Chemistry menemukan bahwa kantong teh adalah penyebab utama mikroplastik dan nanoplastik dalam minuman berbasis teh.

Para peneliti menemukan bahwa ketika kantong teh direndam dalam air mendidih, mikroplastik dilepaskan. Dalam beberapa percobaan, lebih dari 1 miliar partikel dilepaskan per kantong teh. Satu studi bahkan menemukan lebih dari 14 miliar partikel kecil dilepaskan dari satu kantong teh plastik.

Meskipun kantong teh mungkin terlihat hanya terbuat dari kertas, polimer plastik terkadang digunakan untuk menjaga agar kantong tetap tertutup rapat. Beberapa kantong teh menggunakan jaring plastik atau campuran serat nabati dan plastik. Bahkan kantong teh yang dapat terurai secara hayati atau dapat dikomposkan mungkin tidak bebas dari plastik. Plastik juga dapat masuk ke dalam teh dari kemasan seperti botol, cangkir, dan tutup, bahkan dari air produksi dan daun teh yang terkontaminasi.

Eksperimen 3 bulan: Hidup tanpa plastik

Dalam program plastic detox ini, para pasangan diminta menjalani perubahan drastis selama 3 bulan, seperti:

  • Tidak makan makanan dalam kemasan plastik
  • Menghindari produk dengan pewangi kimia
  • Mengganti pakaian sintetis dengan bahan alami
  • Tidak memanaskan makanan dalam plastik
  • Bahkan menghindari memegang struk belanja

Tujuannya sederhana: Menurunkan paparan bahan kimia dari plastik dalam tubuh.

Hasilnya? Setelah menjalani detoks ini, hasilnya cukup mengejutkan:

  • Kadar zat kimia dalam tubuh menurun drastis
  • Kualitas sperma meningkat
  • Beberapa pasangan akhirnya berhasil hamil

Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa ini bukan jaminan pasti. Banyak faktor lain yang memengaruhi kehamilan. Namun, perubahan kecil ini terbukti memberi dampak positif pada kesehatan secara keseluruhan yakni hidup jadi lebih sehat.

Menariknya, manfaat yang dirasakan bukan hanya soal kesuburan, Bunda. Beberapa pasangan mengaku:

  • Tidur lebih nyenyak
  • Berat badan turun
  • Lebih jarang beli barang impulsif
  • Hubungan dengan pasangan terasa lebih dekat

Mereka jadi lebih sering masak di rumah, makan makanan utuh (whole foods), dan hidup lebih sederhana. Menurut pakar kesehatan lingkungan, paparan bahan kimia dari plastik memang berkaitan dengan penurunan kesuburan secara global. Bahkan, penelitian menunjukkan mikroplastik bisa memengaruhi hormon, kualitas sperma, hingga kesehatan reproduksi secara keseluruhan.

Jadi, perlukah Bunda ikut 'plastic detox'?

Tenang, Bunda. Enggak harus langsung ekstrem seperti di film. Tapi, ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dicoba:

  • Gunakan wadah kaca atau stainless steel
  • Hindari memanaskan makanan dalam plastik
  • Pilih produk tanpa pewangi berlebihan
  • Kurangi makanan kemasan
  • Biasakan bawa botol minum sendiri

Perubahan kecil ini bisa jadi langkah awal untuk lingkungan yang lebih sehat, baik untuk tubuh Bunda, maupun calon Si Kecil nanti.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Charlie Puth Jadi Ayah! Nama Anak Pertamanya Terinspirasi Lagu Legendaris

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Anak Balita Disarankan Batasi Screen Time 1 Jam per Hari, Ini Alasannya

Parenting Nadhifa Fitrina

7 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Deep Talk, Punya Empati Tinggi

Mom's Life Amira Salsabila

Alasan Bunda Wajib Ajak Si Kecil Nonton Na Willa

Parenting Angella Delvie Mayninentha & Muhammad Prima Fadhilah

Perubahan Otak Ibu Hamil Ternyata Bermanfaat untuk Merawat Bayi Baru Lahir

Kehamilan Annisa Karnesyia

Fenomena 'Great Stay': Banyak Pekerja Pilih Bertahan Meski Tidak Bahagia

Mom's Life Arina Yulistara

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Ciri Perempuan dengan Kecerdasan Emosional Tinggi, Bikin Nyaman di Sekitarnya

Anak Balita Disarankan Batasi Screen Time 1 Jam per Hari, Ini Alasannya

Perubahan Otak Ibu Hamil Ternyata Bermanfaat untuk Merawat Bayi Baru Lahir

7 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Deep Talk, Punya Empati Tinggi

Alasan Bunda Wajib Ajak Si Kecil Nonton Na Willa

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK