Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Bongkar Mitos Bayi yang Lahir Melalui IVF Lebih Rentan Sakit, Ini Faktanya

Melly Febrida   |   HaiBunda

Rabu, 15 Apr 2026 20:20 WIB

Ilustrasi Ibu dan Bayi
Bongkar Mitos Bayi yang Lahir Melalui IVF Lebih Rentan Sakit, Ini Faktanya/Foto: Getty Images/iStockphoto/FatCamera
Daftar Isi
Jakarta -

Anggapan yang beredar di masyarakat itu bayi IVF lebih rentan sakit. Alhasil, enggak sedikit orang tua yang merasa khawatir dengan kesehatan anak yang lahir melalui program bayi tabung. Yuk ketahui seperti apa faktanya.

Saat ini, tak sedikit anak-anak yang dikandung melalui teknologi reproduksi berbantuan (ART). Dan dalam beberapa tahun ini, sudah banyak penelitian yang menyoroti risiko kesehatan pada anak IVF dengan anak-anak yang dikandung secara alami. 

Melansir laman PubMed, sebagian besar anak yang dikandung setelah ART (Teknologi Reproduksi Berbantuan) adalah normal. Namun, terdapat semakin banyak bukti bahwa anak yang dikandung melalui ART berisiko lebih tinggi mengalami hasil perinatal yang buruk, cacat lahir, dan gangguan epigenetik, dan mekanisme yang menyebabkan perubahan ini belum dijelaskan.

Pemantauan berkelanjutan terhadap anak-anak setelah ART sangat penting seiring mereka melewati masa remaja hingga dewasa, dan teknik ART baru terus diperkenalkan.

Proses program IVF

IVF atau in vitro fertilization adalah metode pembuahan yang dilakukan di luar tubuh, kemudian embrio ditanam kembali ke dalam rahim. IVF berfungsi sebagai solusi yang menjanjikan untuk pasangan yang menghadapi tantangan dalam kemampuan mereka untuk hamil. 

Pada metode IVF melibatkan penggabungan sel telur dengan sperma di luar tubuh manusia, khususnya dalam lingkungan laboratorium. Kemudian, embrio yang terbentuk ditanam kembali ke dalam rahim.

Secara medis, bayi yang lahir dari IVF berkembang di dalam rahim seperti kehamilan pada umumnya setelah proses implantasi berhasil.

Apakah benar bayi IVF lebih rentan sakit?

Dalam Journal of Zhejiang University SCIENCE B disebutkan bahwa jutaan kelahiran di seluruh dunia telah terjadi dengan bantuan kemajuan teknologi, namun orang-orang masih percaya pada anggapan bahwa IVF menghasilkan bayi yang kurang sehat dibandingkan dengan konsepsi alami.

Dr. Hrishikesh Pai, Pemimpin IVF & Ginekologi Kelas Dunia (India) mengatakan bahwa kesalahpahaman ini muncul karena orang-orang mempercayai hasil pertama teknologi IVF, yang dikembangkan selama periode eksperimental pertamanya. Bayi IVF pertama, Louise Brown, lahir pada tahun 1978, sudah lebih dari empat dekade yang lalu. 

Perkembangan teknologi reproduksi berbantuan pun semakin canggih. Kemampuan para ilmuwan untuk memilih embrio serta metode perawatan prenatal juga sudah jauh lebih baik dari para dokter. Namun, ada beberapa kesalahpahaman yang terus beredar.

Hasil dari berbagai penelitian yang dilakukan di Eropa, AS, dan Asia menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir melalui metode IVF mencapai hasil kesehatan yang sama dengan anak-anak yang lahir melalui metode konsepsi alami. 

"Organisasi Kesehatan Dunia, bersama dengan organisasi penelitian kesuburan utama, melaporkan bahwa sebagian besar bayi IVF mengembangkan kapasitas fisik, mental, dan emosional yang normal," kata Pai dikutip dari TimesofIndia.

Studi penelitian menunjukkan bahwa bayi IVF memiliki risiko sedikit lebih tinggi mengalami berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur, tetapi para ahli menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena faktor-faktor yang meliputi usia dan kesehatan ibu, dan kelahiran kembar.

Jadi, bukan karena perawatan IVF itu sendiri. Menurut bukti saat ini, adopsi transfer embrio tunggal telah mengurangi risiko yang signifikan.

Saat ini, orang-orang yang pertama kali dikandung melalui IVF sekarang berusia lebih dari 30 tahun, dan beberapa di antaranya telah memiliki anak. Sebuah studi model tikus (de Waal dkk., 2012) menunjukkan bahwa meskipun IVF dapat memengaruhi hasil epigenetik keturunannya, tidak ada efek seumur hidup atau transgenerasional.

Namun, studi tikus mungkin tidak memungkinkan untuk menarik kesimpulan yang bermakna dalam kasus manusia. Dengan demikian, masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab, dan sangat membutuhkan studi lebih lanjut yang dirancang dengan baik mengenai topik-topik yang dijelaskan di atas.

Pengawasan medis bayi IVF 

IVF berfungsi sebagai metode yang dikontrol secara medis yang melampaui konsepsi alami dalam hal pengawasan medis. Prosedur ini melibatkan penilaian embrio dan pemantauan kehamilan, sementara orang tua cenderung mengadopsi kebiasaan yang lebih sehat sepanjang proses tersebut.

Metode proaktif memberikan jaminan tambahan karena memungkinkan deteksi dini dan pengembangan solusi untuk potensi masalah.

Fakta medis ini, kata Pai, memperlihatkan bahwa IVF bukan jalan pintas dalam kedokteran. Melainkan prosedur medis yang mapan untuk infertilitas. Kesehatan seorang anak bergantung pada lima faktor yang meliputi genetika dan perawatan prenatal serta faktor lingkungan dan asupan nutrisi dan dukungan emosional yang ada di luar momen konsepsi. 

"Bayi IVF tidak menunjukkan perbedaan dari anak-anak lain dalam kemampuan fisik atau mental mereka. Anak-anak tersebut lahir dengan bantuan ilmiah dan kasih sayang orang tua dan mereka berkembang menjadi individu yang sehat dan kuat," ujar Pai.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda