kehamilan
Benarkah Program IVF Bisa Memengaruhi Kesehatan Jantung Bunda?
HaiBunda
Minggu, 26 Jul 2026 11:05 WIB
Daftar Isi
Prosedur In Vitro Fertilization (IVF) seharusnya aman-aman saja secara jangka panjang. Namun, ada juga kekhawatiran yang muncul, apakah IVF memengaruhi kesehatan jantung Bunda?
Sebagian kehamilan bagi perempuan mungkin sulit didapatkan sehingga mereka perlu menempuh opsi IVF sebagai jalan mendapatkan anak. Permasalahannya, ada temuan baru yang merilis bahwa ada efek yang mungkin muncul setelah seseorang melalui prosedur IVF pada kesehatannya.
Mengutip dari laman News Medical, para peneliti menemukan bahwa perempuan dengan kehamilan IVF sebelumnya ditemukan adanya kekakuan arteri besar yang lebih tinggi hingga lima tahun setelah melahirkan. Hal ini pun menjadi ungkapan fakta baru bagaimana reproduksi dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular ibu dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Applied Physiology mengungkapkan bahwa perempuan yang hamil melalui IVF mungkin memiliki permasalahan besar yakni adanya kekakuan arteri besar yang meningkat setelah melahirkan.
Fakta kesehatan kardiovaskular setelah kehamilan IVF
Berjuang mendapatkan kehamilan bagi pejuang IVF memang dilatari berbagai masalah, salah satunya infertilitas. Permasalahan infertilitas sendiri mengacu pada ketidakmampuan untuk mencapai kehamilan yang sukses karena adanya komplikasi medis, seksual, reproduksi, atau terkait usia. Pada perempuan, infertilitas dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Opsi IVF menjadi salah satu teknologi reproduksi yang paling banyak digunakan untuk mengobati infertilitas. Ada lebih dari 10 juta anak telah lahir melalui teknik ini di seluruh dunia sejak 1978. Namun, bukti yang ada menunjukkan bahwa IVF dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada perempuan.
Disfungsi vaskular, yang ditandai dengan kekakuan arteri elastis besar dan disfungsi endotel, secara signifikan dikaitkan dengan patogenesis penyakit kardiovaskular. Meskipun peningkatan risiko disfungsi vaskular telah diamati pada perempuan dengan infertilitas, bukti tentang pengaruh proses IVF pada disfungsi vaskular sebagian besar kurang.
Nah, pada kehamilan yang dilalui melalui prosedur IVF, peningkatan risiko stroke dan hipertensi telah diamati hingga lima tahun setelah melahirkan.Â
Mengingat kemungkinan bahwa potensi perubahan kardiovaskular dapat terjadi selama periode pasca persalinan ini (periode setelah melahirkan), para peneliti di University of Colorado Anschutz Medical Campus, AS, menilai fungsi vaskular pada perempuan yang hamil baik secara spontan tanpa bantuan medis atau melalui IVF dan melahirkan dalam satu hingga lima tahun terakhir.
Studi temukan perempuan dengan IVF sebelumnya menunjukkan arteri besar yang lebih kaku. Studi ini melibatkan sebanyak 24 perempuan dengan kehamilan spontan (kelompok kontrol) dan 15 perempuan dengan kehamilan IVF.
Peserta dari kedua kelompok ini memiliki usia yang sebanding, persentase lemak tubuh, dan tekanan darah istirahat yang sebanding. Kekakuan arteri besar dan  fungsi endotel peserta dinilai saat istirahat sebagai ukuran disfungsi vaskular.
Dari studi tersebut terungkap bawah kekakuan arteri besar yang jauh lebih besar pada kelompok IVF daripada pada kelompok kontrol. Namun, tidak ada perbedaan fungsi endotel yang diamati di antara kelompok-kelompok tersebut.
Untuk mencari kemungkinan pada kontribusi perubahan yang diamati, arteri besar tikus percobaan diinkubasi dengan sampel serum yang dikumpulkan dari sebelas peserta dari setiap kelompok. Hal ini dilakukan untuk menilai pengaruh faktor sirkulasi pada modulus elastisitas, ukuran kekakuan inheren arteri besar.
Analisis menunjukkan bahwa modulus elastisitas 28 persen lebih tinggi pada tikus yang diberi sampel serum dari kelompok IVF dibandingkan dengan tikus yang diberi sampel serum kelompok kontrol. Namun, perbedaan ini tidak mencapai signifikansi statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang beredar dapat berkontribusi pada kekakuan arteri besar.
Analisis lebih lanjut dari beberapa faktor yang beredar, termasuk biomarker dan hormon yang terkait dengan stres oksidatif dan peradangan, mengungkapkan bahwa konsentrasi hormon perangsang folikel (FSH) lebih tinggi pada kelompok IVF, meskipun masih dalam kisaran yang diharapkan untuk perempuan pramenopause, dan bahwa konsentrasi hormon ini berhubungan positif dengan kekakuan arteri besar in vitro.
FSH dapat berkontribusi pada kekakuan arteri
Studi ini adalah studi yang pertama kali melaporkan bahwa perempuan dengan kehamilan melalui IVF sebelumnya memiliki kekakuan arteri besar yang lebih tinggi satu hingga lima tahun setelah melahirkan daripada perempuan yang hamil tanpa bantuan medis.Â
Temuan ini juga menunjukkan kemungkinan peran hormon follicle-stimulating hormone  (FSH) yang beredar, yang lebih tinggi pada kelompok IVF dan dikaitkan dengan kekakuan arteri yang lebih besar.
FSH adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituitari yang mengatur perkembangan seksual dan reproduksi dengan mengendalikan fungsi ovarium pada wanita dan fungsi testis pada pria.
Dalam penelitian sebelumnya telah dikaitkan antara kadar FSH yang lebih tinggi dalam sirkulasi dengan fungsi vaskular pada perempuan yang sehat. Salah satu penjelasan yang diajukan ialah bahwa peningkatan FSH dapat mengubah pola aliran darah di dalam arteri, meningkatkan aliran darah osilasi (bolak balik) dan retrograde (mundur), perubahan yang sebelumnya telah dikaitkan dengan gangguan fungsi vaskular.
Namun, karena fungsi endotel tidak berbeda antara kedua kelompok dalam penelitian ini, mekanisme ini kemungkinan tidak sepenuhnya menjelaskan temuan tersebut.Â
Meski demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah FSH secara langsung berkontribusi pada peningkatan kekakuan arteri setelah kehamilan IVF atau apakah faktor sirkulasi lain terlibat.
Mengapa fungsi endotel tidak berubah?
Perempuan dengan riwayat kehamilan IVF memiliki arteri besar yang lebih kaku, para peneliti tidak menemukan bukti adanya gangguan fungsi endotel. Mereka berpendapat bahwa hal ini mungkin mencerminkan efek perlindungan estradiol, hormon yang dikenal membantu menjaga kesehatan pembuluh darah, atau perubahan kompensasi pada faktor sirkulasi atau protein yang diekspresikan oleh sel endotel.
Tim peneliti sebelumnya telah menunjukkan bahwa estradiol dapat melindungi perempuan pramenopause dari disfungsi vaskular terkait stres oksidatif. Dalam penelitian ini, perempuan dalam kelompok IVF juga memiliki status antioksidan total yang lebih tinggi, meskipun perbedaannya tidak signifikan secara statistik, menunjukkan bahwa mekanisme biologis tambahan kemungkinan berkontribusi pada peningkatan kekakuan arteri yang diamati.
Adanya potensi perubahan kardiovaskular setelah IVF
Adanya temuan tersebut menunjukkan bahwa fungsi endotel tetap terjaga pada perempuan dengan kehamilan melalui IVF. Karenanya, hal ini kemungkinan bukan faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan kekakuan arteri besar yang diamati dalam penelitian ini.
Namun, karena penelitian ini bersifat cross-sectional, penelitian ini tidak dapat menentukan apakah IVF atau faktor sirkulasi terkait secara langsung menyebabkan perubahan vaskular ini.
Selain itu, meskipun para peneliti mencocokkan kedua kelompok berdasarkan kehamilan yang mengalami komplikasi gangguan hipertensi untuk mengurangi potensi bias, penelitian ini tidak cukup besar untuk menentukan apakah gangguan hipertensi selama kehamilan, baik sendiri maupun dikombinasikan dengan IVF, memengaruhi fungsi pembuluh darah.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, diperlukan studi lebih lanjut di masa mendatang yang mempertimbangkan faktor-faktor bias tersebut untuk meyakinkan dan menentukan apakah FSH yang beredar dan faktor-faktor lain secara langsung berkontribusi terhadap kekakuan arteri besar pada kehamilan IVF.
Semoga informasinya membantu ya Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
Â
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Haru, Perjuangan Pasangan Jalani 15 Kali Bayi Tabung demi Punya Anak
Kehamilan
Bunda, Begini lho Proses Transfer Embrio ke Rahim pada Program IVF
Kehamilan
Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memutuskan Program Bayi Tabung
Kehamilan
3 Kisah Haru Bunda Sukses Bayi Tabung, Melahirkan Pertama Kali di Usia 73 Tahun
Kehamilan
Zaskia Sungkar Jalani Transfer Embrio Bayi Tabung, Irwansyah Mohon Doa
7 Foto
Kehamilan
7 Potret Dea Ananda Jalani Kehamilan Trimester 3, Bahagia Nantikan Kelahiran Baby S
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Apakah Hamil dengan IVF atau Bayi Tabung Harus Melahirkan Secara Caesar?
Peluang Hamil Melalui Program IVF Ternyata Lebih Besar bila Dilakukan saat Musim Panas
Kisah Pasangan Artis Korea Umumkan Kehamilan Pertama setelah 9 Kali Jalani Bayi Tabung