Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

3 Kali Gagal Bayi Tabung, Pasangan Ini Akhirnya Punya Anak setelah Dokter Temukan Penyebabnya

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 28 Aug 2026 11:05 WIB

Ilustrasi Suami Istri Hamil
3 Kali Gagal Bayi Tabung, Pasangan Ini Akhirnya Punya Anak setelah Dokter Temukan Penyebabnya/Foto: iStockphoto/Getty Images/sorn340
Daftar Isi
Jakarta -

Menjalani program bayi tabung tentu bukan perjalanan yang mudah. Selain membutuhkan biaya dan waktu, pasangan juga harus siap menghadapi kemungkinan gagal sebelum akhirnya mendapatkan kehamilan.

Hal ini dialami pasangan asal Bengaluru, India. Setelah delapan tahun berjuang mendapatkan keturunan dan tiga kali gagal program bayi tabung, mereka akhirnya berhasil memiliki anak setelah dokter menemukan penyebab yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Menariknya, embrio yang mereka miliki sebenarnya berkualitas baik. Lantas, apa yang membuat tiga kali program IVF sebelumnya gagal?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


8 Tahun menanti, 3 kali program bayi tabung gagal

Dikutip dari Timesofindia, pasangan yang yang disebut dengan nama samaran Ananya, 35 tahun, dan Aswin, 36 tahun, telah menikah selama delapan tahun. Selama itu pula, mereka berusaha mendapatkan Si Kecil. 

Keduanya sudah menjalani tiga siklus IVF di klinik sebelumnya. Namun, seluruh transfer embrio berakhir dengan hasil negatif meski dokter menyebut mereka memiliki blastokista berkualitas baik. Setelah tiga kali gagal, pasangan tersebut bahkan sempat disarankan menggunakan sel telur atau sperma donor untuk program berikutnya.

Namun, pasangan ini kemudian mencari opini medis lain dan berkonsultasi dengan Dr. Rubina Pandit, spesialis fertilitas di Bengaluru. Dari pemeriksaan ulang, kondisi cadangan ovarium Ananya yang dilihat melalui kadar AMH ternyata masih normal. Sementara itu, pemeriksaan sperma suaminya menunjukkan kualitas sperma yang kurang baik dengan nilai DNA fragmentation index (DFI) tinggi, yang mengindikasikan adanya kerusakan DNA sperma.

Dokter tidak langsung menyalahkan kualitas embrio

Karena sebelumnya sudah beberapa kali mendapatkan embrio berkualitas baik, dokter mencoba melihat masalah dari sisi lain. Dalam siklus IVF berikutnya, pasangan tersebut tetap menggunakan sel telur dan sperma mereka sendiri. Dokter menggunakan teknik pemilihan sperma PICSI dan microfluidics sebelum melakukan ICSI untuk membantu memilih sperma yang dianggap paling sesuai.

Hasilnya, empat embrio berkualitas baik berhasil dikembangkan. Keempat embrio tersebut kemudian menjalani preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) untuk melihat adanya kelainan jumlah kromosom. Hasil pemeriksaan menunjukkan keempat embrio tersebut normal. Temuan ini membuat dokter semakin yakin bahwa kualitas embrio bukan satu-satunya masalah di balik kegagalan program bayi tabung sebelumnya.

Ternyata ada masalah pada saluran tuba

Dokter kemudian melakukan evaluasi lebih mendalam terhadap rahim dan saluran tuba. Dari pemeriksaan ultrasonografi, ditemukan adanya cairan di dalam rongga rahim yang tidak kunjung menghilang meski sudah mendapatkan pengobatan.

Tim medis kemudian melakukan histeroskopi dan laparoskopi untuk memeriksa kondisi rahim serta saluran tuba. Hasilnya, ditemukan bahwa saluran tuba pasien mengalami kerusakan dan berisi cairan, kondisi yang dikenal sebagai hydrosalpinx.

Saluran tuba yang mengalami kondisi tersebut kemudian dipisahkan untuk mencegah cairannya kembali masuk ke rongga rahim. Setelah prosedur, pemeriksaan USG menunjukkan cairan di rongga rahim sudah tidak terlihat lagi.

Waktu transfer embrio juga ternyata berpengaruh

Perjalanan pasangan ini ternyata belum selesai. Setelah embrio dinyatakan normal dan kondisi saluran tuba sudah ditangani, dokter masih ingin memastikan bahwa embrio ditransfer pada waktu yang paling tepat.

Pasangan tersebut kemudian menjalani endometrial receptivity assay (ERA) untuk mengevaluasi waktu yang dianggap paling sesuai bagi endometrium menerima embrio. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa rahim Ananya mencapai kondisi reseptif satu hari lebih lambat dibandingkan waktu transfer standar.

Dokter kemudian menyesuaikan waktu transfer embrio berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut. Dan kali ini, perjuangan panjang mereka membuahkan hasil. Ananya berhasil hamil dan akhirnya melahirkan bayi yang sehat. Beberapa embrio yang tersisa juga masih disimpan dalam kondisi beku jika pasangan tersebut ingin merencanakan kehamilan berikutnya.

Apa yang bisa menyebabkan bayi tabung gagal?

Kisah program bayi tabung pasangan ini menunjukkan bahwa kegagalan IVF bisa dipengaruhi berbagai faktor. Tidak selalu berarti embrionya bermasalah. Kondisi rahim, saluran tuba, kualitas sperma, faktor kromosom pada embrio, usia, hingga berbagai faktor reproduksi lainnya dapat ikut berperan.

Dalam kasus ini, dokter menemukan kombinasi beberapa faktor, yaitu masalah pada kualitas sperma, saluran tuba yang mengalami hydrosalpinx, serta perbedaan waktu kesiapan endometrium untuk menerima embrio.

Dikutip dari Pedoman American Society for Reproductive Medicine (ASRM) juga menjelaskan bahwa sperm DNA fragmentationdapat berkaitan dengan kesuburan pria dan hasil teknologi reproduksi berbantu. Namun, pemeriksaan DNA fragmentasi sperma tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin pada evaluasi awal semua pasangan infertil karena bukti mengenai manfaat penggunaannya secara luas masih terbatas.

Artinya, pemeriksaan dan penanganan sebaiknya tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan, terutama setelah mengalami kegagalan IVF berulang.

Gagal tiga kali bukan berarti harus berhenti berusaha

Kisah pasangan dari Bengaluru ini menjadi pengingat bahwa perjalanan mendapatkan anak melalui program bayi tabung bisa sangat berbeda pada setiap pasangan. Tiga kali kegagalan tentu bukan pengalaman yang mudah. Apalagi, pasangan tersebut bahkan sempat mendapat rekomendasi untuk menggunakan gamet donor.

Namun, evaluasi lebih menyeluruh akhirnya membantu dokter menemukan sejumlah faktor yang sebelumnya belum teridentifikasi. Setelah masalah tersebut ditangani dan waktu transfer embrio disesuaikan, pasangan ini akhirnya berhasil mendapatkan anak menggunakan embrio mereka sendiri.

Meski begitu, pengalaman ini tidak berarti setiap pasangan yang mengalami kegagalan IVF harus menjalani semua pemeriksaan tersebut. Misalnya, ERA, pemeriksaan DNA fragmentasi sperma, atau PGT-A tidak otomatis diperlukan pada semua pasien. Dokter perlu melihat riwayat kesehatan, hasil siklus IVF sebelumnya, usia, kualitas embrio, serta kondisi reproduksi masing-masing pasangan sebelum menentukan pemeriksaan berikutnya.

Bagi Bunda dan Ayah yang sedang menjalani program bayi tabung, kegagalan memang bisa terasa melelahkan. Tetapi, jika IVF berulang kali belum berhasil, tidak ada salahnya berdiskusi dengan dokter spesialis fertilitas untuk melakukan evaluasi ulang secara menyeluruh dan mencari kemungkinan penyebabnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda