Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Miris! Bos Ini Sebut "Tak Ada yang Mau Lihat Orang Hamil" ke Karyawan yang Sedang Mengandung

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Sabtu, 19 Sep 2026 11:15 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Sedih
Ilustrasi ibu hamil / Foto: Getty Images/iStockphoto/PonyWang
Daftar Isi

Kehamilan seharusnya menjadi fase di mana perempuan mendapat dukungan, termasuk di lingkungan pekerjaan. Namun, seorang calon Bunda pekerja justru mendapat komentar menyakitkan dari atasannya setelah diketahui sedang mengandung.

Kasus ini menjadi sorotan setelah kisah tersebut diberitakan oleh BBC, beberapa waktu lalu. Perkataan sang bos di tempat kerja dinilai menunjukkan bagaimana kehamilan masih dapat menjadi alasan perempuan mendapat perlakuan berbeda.

Komentar tentang perubahan tubuh selama hamil mungkin terdengar seperti candaan bagi sebagian orang. Namun bagi ibu hamil yang mendengarnya secara langsung, perkataan tersebut bisa membuat mereka merasa tidak dihargai, bahkan kehilangan kepercayaan diri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Bos sebut "Tak ada yang mau lihat orang hamil"

Kisah ini bermula dari seorang manajer penjualan, Jessica Morgan, yang sedang mengandung beberapa bulan ketika atasannya di sebuah perusahaan panel kayu diduga 'terkekeh' menanggapi usulannya untuk memimpin sebuah presentasi. Saat itu, ia mendapat komentar dari atasannya yang menyebut bahwa, "tak ada yang mau melihat orang hamil".

Ucapan tersebut tentu bukan sekadar komentar mengenai kondisi fisik. Kehamilan merupakan kondisi biologis yang membawa berbagai perubahan pada tubuh perempuan, mulai dari bertambahnya berat badan, perubahan bentuk tubuh, hingga perubahan energi dan kemampuan fisik.

Nah karena itu, komentar yang merendahkan penampilan perempuan selama hamil berpotensi membuat lingkungan kerja menjadi tidak nyaman. Terlebih, pekerja hamil tetap memiliki kemampuan, pengalaman, dan kontribusi profesional yang tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan perubahan tubuhnya.

Dalam sidang tribunal ketenagakerjaan di Swansea Magistrates' Court pada bulan Mei, terungkap bahwa Morgan bergabung dengan perusahaan yang berlokasi di Fforestfach, pinggiran Swansea, pada tahun 2020 untuk posisi penjualan dengan gaji 40.000 poundsterling per tahun atau sekitar Rp900 juta, dan ia mengumumkan kehamilannya pada bulan Juli 2023.

Kehamilan bukan alasan untuk mendiskriminasi pekerja

Masalah diskriminasi terhadap perempuan hamil sebenarnya telah menjadi perhatian di dunia ketenagakerjaan internasional, Bunda. International Labour Organization (ILO) melalui Maternity Protection Convention No. 183 menyebutkan bahwa negara perlu mengambil langkah untuk memastikan kehamilan dan maternitas tidak menjadi sumber diskriminasi dalam pekerjaan.

ILO juga menegaskan bahwa kehamilan bukan alasan yang sah untuk memberhentikan seorang pekerja. Jika terjadi pemutusan hubungan kerja selama kehamilan, alasannya harus berkaitan dengan faktor lain yang tidak berhubungan dengan kehamilan atau persalinan. 

Itu artinya, perempuan tidak seharusnya kehilangan kesempatan kerja, diperlakukan lebih buruk, atau mendapatkan tekanan hanya karena sedang mengandung. Tapi kenyataannya, diskriminasi terhadap pekerja hamil tidak selalu berbentuk pemecatan.

Menurut Advisory, Conciliation and Arbitration Service (ACAS) di Inggris, pekerja dapat mengalami pregnancy discrimination ketika mendapatkan perlakuan yang merugikan karena kehamilannya. Bentuknya bisa berupa pengurangan jam kerja, perundungan, pelecehan, tidak diberi kesempatan mengikuti pelatihan atau tidak mendapat promosi tanpa alasan yang jelas. 

Komentar yang merendahkan perempuan karena bentuk tubuhnya selama hamil juga dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat secara psikologis. ACAS menekankan bahwa perusahaan seharusnya mengambil pendekatan yang suportif dan sensitif terhadap pekerja yang sedang hamil.

Masalah terkait diskriminasi atau perlakukan merugikan bukan hanya terjadi di satu negara. ILO pernah menyoroti bahwa perempuan pekerja di banyak negara masih menghadapi diskriminasi terkait kehamilan dan maternitas.

Di Indonesia sendiri, laporan ILO pada tahun 2022 mengungkap adanya pekerja perempuan yang memilih menyembunyikan kehamilan karena khawatir kehilangan pekerjaan atau pendapatan. Dalam sebuah penelitian yang dikutip ILO, 4 dari 25 pekerja perempuan yang diteliti menyembunyikan kehamilan karena takut hal tersebut memengaruhi kontrak kerja mereka.

Ibu hamil tetap bisa produktif di tempat kerja

Kehamilan memang dapat menyebabkan sejumlah perubahan fisik. Bunda mungkin mengalami mual, mudah lelah, nyeri punggung, perubahan emosi, hingga membutuhkan penyesuaian aktivitas tertentu. Namun, bukan berarti perempuan hamil otomatis tidak mampu bekerja atau berkontribusi ya.

Bahkan, ILO menekankan pentingnya perlindungan kesehatan bagi perempuan hamil dan menyusui, terutama apabila pekerjaannya memiliki risiko terhadap kesehatan ibu maupun bayi. Dalam kondisi tertentu, pekerjaan dapat disesuaikan agar tetap aman bagi ibu dan janin. 

Jadi, pendekatan yang semestinya dilakukan perusahaan bukan merendahkan atau mengucilkan pekerja karena kehamilannya, melainkan memastikan kondisi kerja tetap aman dan mendukung.

Lingkungan kerja seharusnya mendukung ibu hamil

Kehamilan bukan sesuatu yang perlu membuat perempuan merasa malu dengan perubahan tubuhnya. Alih-alih memberikan komentar tentang bentuk tubuh atau penampilan, atasan dan rekan kerja sebaiknya memberikan dukungan yang dibutuhkan.

Ada banyak bentuk dukungan untuk ibu hamil bekerja. Misalnya, rekan kerja atau bos dapat memastikan pekerjaan tetap aman, memberikan kesempatan beristirahat ketika diperlukan, serta menjaga komunikasi agar ibu hamil dapat menyampaikan kebutuhannya.

Bagi perusahaan, menciptakan lingkungan kerja yang ramah terhadap kehamilan bukan hanya persoalan aturan, tetapi juga bagian dari menghargai pekerja sebagai manusia. Sebab, di balik seorang perempuan yang sedang mengandung, ada seorang pekerja yang tetap memiliki kemampuan, tanggung jawab, dan kontribusi yang layak dihargai.

Demikian kisah Bunda yang mendapat perlakukan tidak mengenakan di tempat kerja karena kehamilannya. Semoga kisah ini bisa membantu para Bunda hamil untuk tidak lagi khawatir menjalani karier selama masa kehamilan ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/ank)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda