HaiBunda

KEHAMILAN

Makanan Siap Saji Aman Dikonsumsi, tapi Kemasannya Bisa Jadi Ancaman bagi Ibu Hamil

Melly Febrida   |   HaiBunda

Sabtu, 17 Oct 2026 15:50 WIB
Makanan Siap Saji Aman Dikonsumsi, tapi Kemasannya Bisa Jadi Ancaman bagi Ibu Hamil /Foto: Getty Images/iStockphoto/happy_lark
Jakarta -

Ibu hamil disarankan membatasi makanan cepat saji atau fast food. Alasannya biasanya berkaitan dengan kandungan garam, lemak, serta rendahnya nilai gizi. Tapi, sebuah penelitian memberikan alasan yang sedikit berbeda. Kemasan makanan cepat saji disebut dapat memicu risiko pada ibu hamil.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environment International menemukan adanya hubungan antara mengonsumsi makanan ultra-proses dan fast food dengan paparan ftalat pada ibu hamil. Ftalat merupakan kelompok bahan kimia yang dapat ditemukan pada berbagai produk plastik dan material yang bersentuhan dengan makanan.

Namun, dengan hasil penelitian ini bukan berarti setiap makanan yang dikemas otomatis berbahaya untuk ibu hamil. Para peneliti melihat adanya kaitan antara pola konsumsi makanan tertentu dan kadar metabolit ftalat yang terukur dalam urine.


Apa itu makanan ultra-proses?

Makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) merupakan makanan yang mengalami pengolahan cukup kompleks dan biasanya mengandung berbagai bahan yang ditambahkan untuk menghasilkan rasa, tekstur, penampilan, atau memperpanjang masa simpan.

Contohnya sejumlah makanan ringan kemasan, minuman manis, produk roti tertentu, makanan siap saji, dan produk makanan lain yang telah melalui banyak tahap pengolahan. 

Penelitian libatkan lebih dari 1.000 ibu hamil

Penelitian ini dilakukan Brennan H. Baker dan koleganya. Mereka menggunakan data dari studi Conditions Affecting Neurocognitive Development and Learning in Early Childhood (CANDLE).

Peneliti menganalisis data dari 1.031 ibu hamil yang tinggal di Memphis, Tennessee, Amerika Serikat. Peserta terdaftar dalam penelitian antara 2006 dan 2011, sedangkan kadar metabolit ftalat diukur melalui sampel urine yang dikumpulkan pada trimester kedua.

Para peneliti kemudian melihat hubungan antara proporsi makanan ultra-proses dalam pola makan peserta dengan kadar metabolit ftalat. Hasilnya, makanan ultra-proses menyumbang sekitar 9,8–59 persen dari pola makan peserta, dengan rata-rata 38,6 persen.

Setiap kenaikan 10 persen proporsi makanan ultra-proses dalam pola makan berkaitan dengan kenaikan sekitar 13,1 persen konsentrasi metabolit di(2-ethylhexyl) phthalate atau ΣDEHP dalam urine.

Penelitian tersebut juga menemukan konsumsi hamburger atau cheeseburger, kentang goreng, minuman bersoda, dan kue berkaitan dengan kadar ΣDEHP yang lebih tinggi dalam urine.

Namun, penelitian ini merupakan penelitian observasional. Jadi, hasilnya menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa makanan tersebut atau kemasannya secara langsung menyebabkan peningkatan kadar ftalat.

Penelitian lain pada populasi umum juga sebelumnya menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan kadar beberapa metabolit ftalat yang lebih tinggi. Jadi, penelitian pada ibu hamil tersebut bukan satu-satunya penelitian yang melihat hubungan antara pola makan ultra-proses dan paparan ftalat.

Bukan hanya makanannya, kemasan juga jadi perhatian

Ftalat dapat digunakan dalam berbagai produk berbahan plastik dan material lainnya. Dalam konteks makanan, peneliti menduga paparan dapat terjadi melalui bahan yang bersentuhan dengan makanan.

Menurut peneliti, sumber potensial paparan pada makanan cepat saji dapat berasal dari kemasan atau pembungkus, sarung tangan plastik yang digunakan pekerja, serta peralatan dan proses penyimpanan, persiapan, hingga penyajian makanan.

Ini artinya, persoalannya tidak sesederhana 'makanan cepat saji mengandung ftalat. Ada berbagai tahapan sebelum makanan sampai ke tangan konsumen yang dapat menjadi sumber paparan.

Penelitian tersebut bahkan menemukan bahwa baik makanan beku maupun makanan segar dapat terpapar dari berbagai sumber selama proses penanganan makanan.

Ftalat bisa masuk ke sirkulasi janin

Dr. Sheela Sathyanarayana, dokter anak di UW Medicine dan peneliti di Seattle Children's Research Institute sekaligus salah satu penulis penelitian, menjelaskan bahwa bahaya ibu terpapar bahan kimia seperti ftalat.

"Ketika ibu terpapar bahan kimia ini, bahan kimia tersebut dapat menembus plasenta dan masuk ke sirkulasi janin," kata penulis senior Dr. Sheela Sathyanarayana, seorang dokter anak UW Medicine dan peneliti di Seattle Children’s Research Institute, melansir laman StudyFinds.

Penelitian sebelumnya juga telah mengaitkan paparan ftalat selama kehamilan dengan sejumlah masalah kesehatan. Namun, hubungan antara paparan ftalat dan berbagai dampak kesehatan tersebut berasal dari penelitian yang lebih luas dan tidak berarti penelitian terbaru ini membuktikan bahwa konsumsi fast food menyebabkan kondisi-kondisi tersebut.

Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak langsung panik hanya karena pernah makan burger, kentang goreng, atau makanan yang menggunakan kemasan plastik.

Bolehkah ibu hamil santap makanan siap saji dalam kemasan?

Dari temuan penelitian ini, bukan berarti ibu hamil harus menghindari seluruh makanan yang dijual dalam kemasan. Apalagi, tidak semua makanan kemasan memiliki jenis bahan, proses produksi, atau tingkat paparan bahan kimia yang sama.

Yang lebih masuk akal adalah memperhatikan pola makan secara keseluruhan. Dr. Sathyanarayana menyarankan ibu hamil untuk sebisa mungkin mengurangi makanan ultra-proses dan lebih banyak memilih buah, sayuran, daging tanpa lemak, serta makanan dengan komposisi yang lebih sederhana. Ia juga menyarankan konsumen memperhatikan label makanan.

"Pilihlah produk dengan jumlah bahan yang lebih sedikit dan pastikan kita bisa memahami bahan-bahan yang tercantum dalam komposisinya," ujarnya.

Namun, pilihan makanan sehat juga perlu disesuaikan dengan kondisi, kemampuan ekonomi, ketersediaan makanan, dan kebutuhan nutrisi masing-masing ibu.

Peneliti menemukan adanya hubungan antara kondisi sosial ekonomi dengan paparan ΣDEHP yang sebagian dimediasi oleh konsumsi makanan ultra-proses. Karena itu, peneliti menilai solusi tidak seharusnya hanya membebankan tanggung jawab kepada ibu hamil.

Bahkan, Brennan Baker, penulis utama penelitian, menegaskan bahwa peneliti tidak menyalahkan ibu hamil. Menurutnya, produsen dan pembuat kebijakan juga perlu mencari bahan pengganti yang lebih aman.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Hamil Anak Pertama, Intip Style Maternity ala Alexandra Leclerc

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Berapa Banyak Kata Diucapkan Anak Usia 2-3 Tahun? Ketahui Faktanya Bun

Parenting Kinan

Alasan Para Suami Suka Lama Banget di Toilet

Mom's Life Tiara Jasmine & Fauzan Julian Kurnia

Ciri Kepribadian Orang dengan Nama Awalan Huruf S, Karismatik dan Humanis

Mom's Life Melly Febrida

Makanan Siap Saji Aman Dikonsumsi, tapi Kemasannya Bisa Jadi Ancaman bagi Ibu Hamil

Kehamilan Melly Febrida

Diet Telur Rebus ala IU, Disebut Bisa Bikin Kenyang

Mom's Life Arina Yulistara

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Tanggapan Suami Kesha Ratuliu saat Ramai Disebut Sering Liburan padahal Rumahnya Kecil

Berapa Banyak Kata Diucapkan Anak Usia 2-3 Tahun? Ketahui Faktanya Bun

Makanan Siap Saji Aman Dikonsumsi, tapi Kemasannya Bisa Jadi Ancaman bagi Ibu Hamil

Alasan Para Suami Suka Lama Banget di Toilet

Ciri Kepribadian Orang dengan Nama Awalan Huruf S, Karismatik dan Humanis

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK