kehamilan

#dearRiver, di Dalam Kardus Mi Instan

Fauzan Mukrim Sabtu, 16 Mar 2019 - 15.08 WIB
Ilustrasi bayi dalam kardus/ Foto: iStock Ilustrasi bayi dalam kardus/ Foto: iStock
Jakarta - #dearRiver,

"Jangan-jangan ini iklan Ind****," kata seorang teman kerja Ayah, menyebut merk sebuah produk mi instan. Ia sebenarnya berkelakar, tapi kelakarnya itu terdengar muram.

Itu kejadian beberapa waktu lalu. Hanya berselang hari, kami menerima dua berita bayi dibuang. Beda kota, tapi ada kemiripan. Kedua bayi itu sama-sama dimasukkan ke dalam kardus mi instan, kemudian ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan dan semak-semak.

Ayah lupa apakah dari kedua bayi itu ada yang survive. Yang pasti, bos kami mengingatkan agar tidak terlalu sering menayangkan berita bayi dibuang, karena bisa menimbulkan efek copy-cat (kecenderungan dicontoh oleh pelaku lain). Dengan menonton berita seperti itu, bisa saja ada orang yang 'terinspirasi' untuk meninggalkan bayinya dalam kardus atau kotak apa pun.

Setiap ada berita seperti itu, River, Ayah selalu berusaha untuk tidak percaya. Bagaimana mungkin ada orang tua yang tega membuang darah dagingnya sendiri, meninggalkannya dalam keadaan kedinginan, dan mungkin berharap ditemukan oleh orang lain kalau tidak dimakan anjing.



Tapi, kenyataannya memang ada, dan banyak. Di tahun 2015 saja, Komnas Perlindungan Anak mencatat ada 886 bayi yang dibuang, dalam keadaan hidup atau mati. Dari yang dibuang dalam keadaan hidup, hanya sekitar 30 persen yang bisa bertahan. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Ada yang karena faktor ekonomi atau karena malu.

ilustrasi bayi tabungilustrasi bayi tabung/ Foto: Thinkstock
Beberapa tahun lalu, seorang TKW melahirkan di dalam toilet pesawat dari Arab Saudi ke Indonesia dan meninggalkan janinnya di situ. Ia malu karena sang janin adalah hasil hubungan terlarangnya dengan seorang pria di Arab.

Mendengar atau membaca berita seperti itu, membuat kita kadang berpikir hidup ini tidak adil. Ada orang yang enteng saja membuang bayi, sementara ada orang lain yang bertahun-tahun mengharapkan bisa punya anak tapi enggak dapat-dapat.

Ayah punya teman yang harus berjuang mati-matian untuk sekadar bisa punya keturunan. Hampir sepuluh tahun menikah, berobat sana-sini tanpa hasil. Sampai kemudian ia mencoba usaha baru. Ia berangkat ke luar negeri setelah menjual mobil kesayangannya. Alhamdulillah berhasil. Anaknya perempuan dan sekarang kira-kira seumuran kamu. Konon, di luar negeri ia mencoba program bayi tabung.

Ilustrasi bayi tabungIlustrasi bayi tabung/ Foto: thinkstock
Bayi tabung itu bukan bayi yang lahir dari tabung. Itu sebutan awam untuk proses in vitro fertilization (IVF), yaitu kehamilan yang terjadi diawali dengan pembuahan di luar tubuh ibu. Ada beberapa perempuan yang memang kesulitan menerima pembuahan di dalam tubuh seperti perempuan pada umumnya, atau pria yang memiliki sperma dengan kuantitas rendah.



Itu menghalangi sperma untuk membuahi sel telur. Keajaiban ilmu pengetahuan, Nak. Para dokter menemukan cara untuk mempertemukan sperma dan sel telur itu dalam sebuah tabung. Biasanya, ini langkah terakhir setelah upaya lain semisal konsumsi obat-obatan atau inseminasi buatan tidak berhasil.

Tapi ini juga tidak selalu berhasil. Teman ibumu, Tante Lili namanya, sudah beberapa kali mencoba program bayi tabung, tapi belum membuahkan hasil. Sudah habis ratusan juta, katanya. Semoga Tante Lili dan suaminya tetap sabar. Ayah tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Tante Lili seandainya ia melihat berita bayi yang ditaruh dalam kardus mi instan.

Dengan memikirkan hal-hal seperti ini, Nak, membuat Ayah untuk tidak gampang marah, termasuk ketika tak sengaja menginjak biji Lego di karpet. Yang ada hanya kesyukuran dan terima kasih, karena kamu dan adikmu Rain sudah berkenan lahir melalui kami.

Fauzan Mukrim

Ayah River dan Rain. Menulis seri buku #DearRiver dan Berjalan Jauh, juga sebuah novel Mencari Tepi Langit. Jurnalis di CNN Indonesia TV, dan sedang belajar membuat kue. IG: @mukrimfauzan (rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi