kesehatan

Ketika Mengalami Obesitas Hingga Tak Bisa Beraktivitas

Muhayati Faridatun Selasa, 08 Jan 2019 - 18.03 WIB
Foto: Titi Wati dengan berat 350 kg (ist.) Foto: Titi Wati dengan berat 350 kg (ist.)
Jakarta - Sebagian besar perempuan begitu memerhatikan penampilan dengan menjaga berat badannya. Sayangnya, Titi Wati tak mampu mengontrol bobotnya hingga mengalami obesitas atau kegemukan.

Perempuan asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), ini memiliki berat badan hingga 350 kilogram. Sangat berlebihan ya, Bun. Sempat memiliki bobot normal, Titi mengakui kalau kebiasaannya mengemil susah dikendalikan, yang akhirnya kenaikan berat badannya sangat drastis.

"Saya suka makan gorengan tiap harinya," kata Titi, seperti dilansir Antara, Senin (7/1/2019).


Selain gorengan, perempuan kelahiran 37 tahun silam ini juga mengungkapkan kegemarannya minum minuman dingin atau dicampur es. Akibat obesitas yang dialami, Titi sampai tidak bisa melakukan aktivitas apa pun.

"Duduk pun tidak bisa. Wajar tidak bisa berdiri," ujar Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kalteng, dr Suyuti Syamsul, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (8/1/2019).

Menurut Suyuti, angka 350 kilogram tersebut merupakan perkiraan berat badan Titi. Ia menambahkan, penimbangan terakhir tiga tahun lalu, bobot Titi masih berkisar 165 kilogram.

Titi Wati mengalami obesitas/ Titi Wati mengalami obesitas/ Foto: Titi Wati dengan berat 350 kg (ist.)
Sebenarnya, Titi sudah melakukan berbagai cara untuk menurunkan berat badannya, Bun. Ia mengonsumsi minuman herbal dan bobotnya sempat berkurang. Sayangnya, usaha Titi harus berhenti karena terbentur masalah biaya.

"Setelah tidak mampu membeli minuman herbal penurun berat badan itu, saya pun menjalani aktivitas saya seperti orang normal. Makan dan minum pun tidak terkontrol lagi, sehingga berat badan saya yang saat itu sempat 167 kilogram, kini menjadi 350 kilogram lebih," tuturnya.

Atas apa yang menimpa Titi, Pemprov Kalteng akan berusaha semaksimal mungkin memberikan pertolongan, termasuk perawatan di rumah sakit. Hanya saja, postur tubuh Titi yang menjadi kendala untuk mengeluarkannya dari rumah.

"Untuk evakuasi ke rumah sakit, harus membongkar pintu atau lewat jendela. Itu kalau diizinkan keluarga," jelas Suyuti.

Suyuti pun memastikan untuk mengundang beberapa unsur terkait guna membahas langkah-langkah yang akan diambil, demi membebaskan Titi dari obesitas yang dialaminya.


Seperti diketahui, kegemukan yang disebabkan penimbunan lemak dianggap berbahaya karena lemak tubuh berlebih merupakan faktor risiko berbagai penyakit. Misalnya, kelebihan lemak yang terakumulasi di sekitar organ vital dikaitkan dengan diabetes, penyakit jantung, hipertensi, sampai kanker.

Dikutip dari detikcom, para ahli menilai, komposisi lemak tubuh yang normal untuk perempuan adalah 22 - 25 persen. Sedangkan pada laki-laki, yang normal adalah 15 - 18 persen. Perempuan yang memiliki komposisi lemak 29 - 35 persen dianggap kelebihan berat badan dan bagi laki-laki lebih dari 20 persen.

Menurut dokter spesialis gizi klinik dari RS Pondok Indah - Puri Indah, dr Raissa E. Djuanda, M.Gizi, SpGK, gorengan belum tentu menjadi pemicu obesitas ekstrem seperti yang dialami Titi.

"Untuk camilan dan gorengan juga kemungkinan dapat memicu, karena sudah jelas kandungan kalorinya sangat besar. Namun, dalam kasus berat badan hingga 350 kilogram ini terjadi karena adanya gangguan hormonal, sehingga sangat dianjurkan untuk diperiksa lebih lanjut," kata Raissa kepada detikcom, Senin (7/1/2019).

Ia menambahkan, kemungkinan lain adalah masalah pada otak. "Harus dicek hormon-hormonnya termasuk sampai ke otaknya juga, karena yang mengatur hormon ini semua pusatnya berasal dari otak," tegasnya.


Sementara itu, peneliti di Boston University mencoba menemukan ada tidaknya keterkaitan antara perubahan pada lemak perut dan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang dimiliki seseorang. Studi ini mengamati 1.106 orang partisipan berusia paruh baya selama enam tahun.

"Ternyata hanya karena terjadi penambahan lemak di perut berujung pada faktor risiko penyakit jantung yang lebih besar, tak peduli berapapun penambahan bobot yang terjadi. Ini belum pernah ditemukan sebelumnya. Justru lemak yang di bawah kulit ini bersifat melindungi karena berfungsi sebagai tempat menyimpan kelebihan lemak," ungkap peneliti dr Caroline, seperti dilansir The Sun.

[Gambas:Video 20detik]

(muf/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi