menyusui

25 Mitos dan Fakta Ibu Menyusui, Bunda Perlu Tahu

Annisa Karnesyia Kamis, 10 Oct 2019 12:00 WIB
25 Mitos dan Fakta Ibu Menyusui, Bunda Perlu Tahu
Jakarta - Menyusui adalah tantangan setiap ibu yang baru melahirkan, Bun. Tak jarang ibu mengalami banyak kendala saat memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif pada bayinya.

Pemerintah bahkan mewajibkan ibu untuk memberikan ASI Eksklusif. Aturan ini ada dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah (PP) nomor 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, yang ditetapkan pada 1 Maret 2012.

"Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya," bunyi peraturan tersebut.


Namun, berbagai kendala yang dihadapi bisa berubah menjadi ketakutan dan kekhawatiran bagi ibu. Ada banyak mitos dan fakta menyusui yang beredar di masyarakat yang bisa buat ibu berhenti memberikan ASI Eksklusif.

Nah, berikut telah HaiBunda rangkum dari berbagai sumber, 25 mitos dan fakta menyusui. Bunda mesti tahu ya.

1. Puting susu harus dibersihkan dengan air sebelum menyusui

Mitos: menyusui berbeda dengan memberi susu lewat botol. Menyusui langsung justru membantu melindungi anak dari infeksi.

Namun, membersihkan puting dengan air bisa menghilangkan zat penting dari kelenjar montgomery (kelenjar lemak di sekitar payudara). Kelenjar ini membantu melindungi puting.

2, Jangan menyusui jika puting ibu berdarah

Mitos: puting berdarah bukan alasan berhenti memberikan ASI eksklusif, Bun. Ibu bisa mengidap rusty pipe syndrome yang menyebabkan darah masuk ke ASI. Kondisi ini masih dikatakan baik-baik saja dan tidak membahayakan bayi menyusu.

3. Tidak boleh menyusui jika ibu perokok

Mitos: Merokok justru memberi manfaat bagi ibu dan bayinya. Menurut pakar menyusui, Dr.Jack Newman, seorang ibu yang tidak bisa berhenti merokok seharusnya tetap menyusui.

Penelitian menemukan, ASI menurunkan risiko efek samping negatif yang ditimbulkan oleh asap rokok, seperti penyakit paru-paru bayi. Lebih baik ibu menyusui bayinya langsung daripada memberi susu formula ya.

Ilustrasi ibu menyusuiIlustrasi ibu menyusui/ Foto: iStock


4. Jangan menyusui setelah olahraga

Mitos: Beberapa bayi mungkin menolak menysu karena keringat ibu bercampur dengan ASI bisa menimbulkan rasa berbeda. Keringat meninggalkan rasa asin di puting susu ibu. Bunda hanya perlu mandi setelah berolahraga, lalu lanjutkan menyusui si kecil.

5. Hentikan menyusui setelah ibu diberi vaksin

Mitos: Tidak ada alasan untuk berhenti menyusui setelah ibu diberi vaksin. Bayi justru mendapatkan manfaat vaksin, Bun.

"Namun, ibu harus hati-hati jika anak memiliki defisiensi imun. Jika demikian, Bunda tidak diperbolehkan mendapat vaksinasi yang mengandung virus hidup yang dilemahkan, seperti polio oral, campak, gondong, dan rubela," ujar konsultan laktasi Melissa Kotlen Nagin, dikutip dari Very Well Family.

6. Suplai ASI bisa hilang dalam satu hari

Mitos: Kehilangan ASI dalam satu waktu jarang terjadi. Memang benar jika persediaan susu selalu naik dan turun sepanjang hari, namun, biasanya dibutuhkan waktu agar pasokan ASI berkurang.

Beberapa wanita yang menyapih anak mereka masih memproduksi ASI dalam waktu setahun. Jika produksi ASI sedikit, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter laktasi ya, Bun.

7. Zat besi dalam ASI tidak pernah kurang

Fakta: ASI mengandung zat besi dengan kadar yang sesuai untuk bayi. Bayi yang diberi ASI eksklusif menerima cukup zat besi untuk bertahan selama 6 bulan pertama kehidupan.

Tidak perlu memberikan makanan kaya zat besi sebelum bayi berusia 6 bulan. Namun, setelah bulan ke enam, produksi zat besi mulai menurun, sehingga Bunda bisa mendapatkannya dari makanan pendamping ASI (MPASI).

8. Payudara kecil tidak akan menghasilkan cukup ASI

Mitos: Wanita dengan payudara kecil dan yang tidak tampak tumbuh selama hamil masih dapat menghasilkan banyak ASI, Bun. Jik Bunda tidak memproduksi cukup ASI, banyak cara untuk meningkatkan produksinya.

9. Ibu baru tidak menghasilkan cukup ASI

Mitos: Benar jika ibu baru melahirkan belum bisa menghasilkan ASI selama tiga sampai lima hari setelah melahirkan. Tapi, mereka bisa menghasilkan cairan kental yang disebut kolostrum yang dibutuhkan bayi baru lahir.

"Banyak ibu khawatir tidak cukup memproduksi ASI segera setelah melahirkan, padahal itu semua normal dan bayi tidak minum lebih dari dua sendok teh ASI dalam satu waktu," kata Kathy Mason, perawat dan kondultan laktasi dari Riley Hospital for Children di Indiana University Health, dilansir Health.

10. Menyusui bisa membantu menurunkan berat badan ibu

Fakta: Ibu yang menyusui membakar sekitar 300 hingga 500 kalori sehari dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui. Penelitian menunjukkan ibu cepat langsing dengan cepat bila menyusui anaknya.

Menyusui bisa melepaskan hormon yang merangsang rahim untuk kembali lagi ke ukuran yang normal. Kata Mason, saat bayi menyusui, ibu akan merasakan kontraksi rahim dan itu tanda-tanda berat badan akan menurun.

"Menyusui adalah cara alami untuk mengembalikan bentuk tubuh ibu ke semula," ujar Mason.

Ilustrasi ibu menyusuiIlustrasi ibu menyusui/ Foto: iStock

11. Menyusui bayi bisa melindungi ibu dari depresi pascamelahirkan

Fakta: Sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan di International Journal of Psychiatry in Medicine menemukan, wanita yang menyusui lebih kecil kemungkinan didiagnosis dengan depresi pascapersalinan selama empat bulan pertama dibandingkan wanita yang tidak menyusui. Meski begitu para peneliti belum yakin dengan penyebab dan hubungan keduanya.

Mason menduga, hormon oksitosin yang menghasilkan perasaan baik berperan, Bun. Ditambah lagi, jika perasaan ibu menyusui berjalan baik.

"Ini membuat ibu yakin bahwa dia mampu menyediakan persediaan ASI untuk bayinya," tutur Mason.

12. Ibu tidak bisa menyusui setelah menjalankan operasi payudara

Mitos: Faktanya, banyak wanita berhasil menyusui setelah menjalani operasi payudara. Operasi yang prosedurnya melibatkan sayatan di bagian bawah payudara tidak akan mengganggu produksi atau distribusi ASI.

Berbeda jika wanita menjalankan operasi yang mengurangi bagian payudara dan berakibat saraf-saraf di sekitar puting rusak. Ini bisa menyebabkan kesulitan dalam memproduksi ASI.

13. Menyusui bisa buat payudara ibu kendor

Mitos: Studi American Society for Plastic Surgeons tahun 2011 menemukan, salah satu alasan wanita dengan implan payudara tidak menyusui karena takut mengubah bentuk payudaranya, Bun. Padahal penyebabnya bisa karena jumlah kehamilan ibu, bukan karena menyusui anaknya.

Payudara kendur bisa disebabkan perubahan hormon saat hamil. Misalnya, pertambahan berat badan yang membuat payudara ikut kendur.

14. Penting untuk tetap terhidrasi

Fakta: Kurang minum bisa memegaruhi banyaknya ASI yang dihasilkan. Itulah pentingnya ibu menyusui tetap terhidrasi. Namun, jangan berlebihan hingga menyebabkan overhidrasi ya, Bun.

Terlalu banyak minum air juga bisa menurunkan produksi ASI. Nilailah kecukupan cairan tubuh Bunda dengan mengecek warna urine. Rekomendasinya, jika warna kuning muda, berarti minum kita sudah cukup atau kalau warna gelap berarti kita kurang minum.

15. Ibu tidak boleh menyusui saat sakit

Mitos: Semua ini tergantung jenis penyakit ibu. Sebelum menyusui, pastikan Bunda mendapat perawatan yang tepat dan beristirahat. Dalam banyak kasus, antibodi di tubuh ibu bisa membantu mengobati sakit dan bisa disalurkan ke bayi saat menyusui untuk membangun perlindungan di tubuh bayi itu sendiri.

16. Ibu tidak boleh menyusui jika sedang konsumsi obat

Fakta: Sebaiknya konsultasikan ke dokter jika sedang minum obat saat menyusui. Mungkin perlu mencari alternatif dalam menggunakan dosis dan waktu minum yang menyesuaikan dengan waktu ibu menyusui.

17. Bayi harus disusui tepat dua jam sekali

Mitos: Sebenarnya ini pilihan subjektif orang tua. Namun, bayi punya pola makan masing-masing, Bun.

Banyak ibu mengira ini baik untuk kesehatan bayi. Sebenarnya indikator bayi sehat menyusui adalah 2 sampai 3 kali buang air besar dan menghabiskan sekitar enam popok per hari.

18. Ibu menyusui hanya boleh mengonsumsi makanan hambar tanpa bumbu

Mitos: Beberapa makanan pencetus alergi bisa dihindari, namun untuk penambahan rasa di makanan tidak akan berpengaruh pada rasa ASI.

Secara umum, Bunda tidak perlu mengubah kebiasaan makan. Jika seorang ibu merasa bahwa bayinya bereaksi terhadap makanan tertentu yang dia makan, yang terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter.

19. Menyusui akan membuat bayi manja dan tidak mandiri

Mitos: Menurut pakar laktasi Bettina Forbes, penelitian menunjukkan kalau bayi yang disusui ibunya justru cenderung lebih mandiri di kemudian hari. Demikian mengutip Parents.

20. Ibu tidak bisa hamil saat sedang menyusui

Mitos: Ibu tetap bisa hamil saat sedang menyusui. Namun, cenderung sulit hamil jika berada dalam enam bulan pertama menyusui, sebab periode menstruasi belum kembali, dan bayi menyusu setiap dua hingga tiga jam, bahkan di malam hari.

21. Menyusui adalah obat bagi bayi yang terkena diare

Fakta: Obat paling ampuh untuk infeksi saluran pencernaan, termasuk melindungi dan membantu melawan penyakit si kecil adalah ASI. ASI merupakan cairan yang diperlukan untuk mencegah dehidrasi.

Untuk anak yang sudah mendapatkan MPASI, sebaiknya dihentikan dulu sementara, namun pemberian ASI tetap dilanjutkan. Jika diare disebabkan makanan yang Bunda konsumsi, perhatikan makanan pencetus diare tersebut.

"Biasanya makanan alergen seperti protein hewani, seafood, atau kacang-kacangan penyebab diare dari makanan yang dimakan ibu. Lakukan coba atau trial and error untuk memilih makanan yang menyebabkan reaksi alergi," kata Nadia Mulya dalam bukunya, Kamus 505 Mitos & Fakta Seputar Kehamilan dan Menyusui.

22. Makan durian bisa membahayakan bayi yang menyusui karena mengandung alkohol

Mitos: Sebenarnya alkohol pada durian sangat kecil untuk membuat Bunda atau si kecil yang disusui 'mabuk'. Ini juga sama seperti konsumsi tape atau makanan fermentasi lainnya.

Tapi pada beberapa ibu melaporkan rasa tajam durian bisa memengaruhi aroma ASI, sehingga memutuskan tidak konsumsi durian lagi. Jadi, makanlah secukupnya dan selingi dengan banyak minum air mineral.

23. Air seduhan buah kelengkeng kering bisa jadi ASI booster

Mitos: Kelengkeng mengadung alkohol, seperti buah durian, jadi sebaiknya dihindari atau dibatasi selama kehamilan. Sejauh ini tidak ada penelitian ilmiah yang menyatakan air seduhan kelengkeng kering dapat meningkatkan produksi ASI.

"Ibu hamil butuh mengonsumi makanan bergizi dan banyak minum. Jadi, air seduhan tersebut hanyalah alternatif lain dari air mineral dan dapat menghangatkan badan sehingga memberikan rasa nyaman," ujar Nadia.

23. Mengoleskan brotowali di puting bisa bikin anak berhenti menyusu

Fakta: Brotowali bisa digunakan untuk Bunda yang berupaya menyapih anak. Tanaman ini adalah tumbuhan herbal yang memiliki berbagai khasiat, seperti menurunkan panas, membunuh bakteri, mengobati kencing manis, deman, hepatitis, rematik, diare, dan gatal-gatal.

Penggunaannya sebagai obat luar maupun dalam tidak membahayakan bayi bayi. Rasanya yang pahit cukup ampuh membuat di kecil menolak mengisap puting.

24. Ibu menyusui tidak boleh menggunakan deodoran

Mitos: Banyak yang percaya, kandungan metal (alumunium) dan antiperspiran di dalam deodoran dapat menumpuk di jaringan tisu sekitar ketiak dan payudara dan menyebabkan kanker.

Padahal kadarnya kecil dan tidak signifikan untuk membahayakan tubuh. Tubuh ibu juga memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari bahan kimia berbahaya.

25. Konsumsi madu atau sari kurma bisa bikin ASI banyak

Fakta: Madu kurma mengandung karbohidrat, serat, kalsium, kalium, vitamin B kompleks, magnesium, dan zat besi. Kurma mengandung hormon potuchin yang membantu kontraksi pembuluh darah vena yang ada di sekitar payudara.

"Hormon potuchin memacu kelenjar air susu untuk memproduksi ASI," kata Nadia.

Semoga mitos dan fakta menyusui ini bermanfaat ya, Bun. Jangan gampang percaya omongan orang tanpa mencari tahu dulu kebenarannya.

Simak juga 9 perlengkapan wajib untuk Bunda yang menyusui di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi