sign up SIGN UP search


menyusui

Bolehkah Ibu Menyusui Makan Mi Instan?

Annisa Karnesyia Rabu, 01 Jul 2020 14:04 WIB
Mi Instan caption
Jakarta -

Mi instan masih menjadi makanan yang disukai sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, beberapa orang percaya bahwa mi instan enggak baik dikonsumsi ibu menyusui. Benar enggak ya, Bunda?

Menurut konsultan laktasi Lindsey Shipley, RN, tidak ada makanan yang harus dihindari ibu menyusui kok. Namun, ada baiknya ibu menyusui mengonsumsi makanan bernutrisi.

"Moderasi penting di sini. Diet seimbang sangat penting untuk membantu Anda dan bayi mendapatkan yang terbaik, kata Shipley, dikutip dari The Bump.


Meski enggak ada daftar makanan yang harus dihindari selama menyusui, ada beberapa hal yang harus dikurangi untuk menjaga persediaan produksi air susu ibu (ASI). Salah satunya mengonsumsi makanan bergizi, Bunda.

Ibu menyusui boleh kok makan mi instan tapi ini bukan pilihan terbaik untuk mendapatkan gizi yang tepat. Ahli nutrisi Megha Mukhija mengatakan, rasa mi instan memang enak tapi tidak tepat dikonsumsi ibu hamil dan menyusui.

"Mi instan tidak menawarkan nilai gizi apa pun dan mi instan hanya memuaskan rasa lapar untuk jangka waktu tertentu," kata Mukhija, dilansir Parenting Firstcry.

"Jadi, menghindarinya adalah ide terbaik. Apalagi, zat berbahaya lain ada dalam mi instan seperti MSG yang dapat membahayakan bayi jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih," sambungnya.

Sebagian besar ibu menyusui paling takut dengan kandungan MSG (Monosodium Glutamate) di mi instan. Mitosnya, MSG bisa mengganggu produksi ASI dan berpengaruh pada kecerdasan bayi.

Ramen, Asian Instant  Noodle with VegetableIlustrasi Mi Instan/ Foto: iStock

Mengutip Healthline, MSG berasal dari asam amino glutamat atau asam glutamat, salah satu asam amino paling melimpah di alam. Asam glutamat adalah asam amino yang tidak esensial, artinya tubuh dapat memproduksinya sendiri.

Secara kimia, MSG adalah bubuk kristal putih yang menyerupai garam atau gula. Ini adalah gabungan natrium dan asam glutamat, yang dikenal sebagai garam natrium.

"Asam glutamat dalam MSG dibuat dengan memfermentasi pati, tetapi tidak ada perbedaan kimia antara asam glutamat dalam MSG dan dalam makanan alami," ujar ahli nutrisi Joe Leech MS, RD.

Asam glutamat memang berfungsi sebagai neurotransmitter di otak kita, Bunda. Tapi, beberapa orang mengklaim bahwa MSG menyebabkan glutamat di otak dan stimulasi sel-sel saraf yang berlebihan.

Ketakutan akan MSG ini dimulai pada tahun 1969, ketika sebuah penelitian menemukan bahwa menyuntikkan MSG dosis besar ke dalam tikus yang baru lahir, menyebabkan efek neurologis yang berbahaya.

Memang benar bahwa peningkatan aktivitas glutamat di otak dapat menyebabkan kerusakan. Dosis besar MSG juga dapat meningkatkan kadar glutamat dalam darah. Dalam satu penelitian, dosis MSG dalam jumlah besar meningkatkan kadar darah sebesar 556 persen.

Namun, konsumsi glutamat sedikit tidak berpengaruh pada otak ya. Sebab, glutamat tidak dapat melewati darah di otak dalam jumlah besar.

"Secara keseluruhan, tidak ada bukti kuat bahwa MSG bertindak sebagai eksitotoksin ketika dikonsumsi dalam jumlah normal," ujar Leech.

Meski begitu, ada beberapa yang mungkin sensitif dengan MSG. Dalam satu penelitian, orang dengan sensitivitas MSG dilaporkan mengonsumsi 5 gram MSG dan plasebo.

Hasilnya, 36,1 persen melaporkan reaksi dengan MSG dibandingkan dengan 24,6 persen dengan plasebo. Gejala-gejalanya termasuk sakit kepala, otot tegang, mati rasa, kesemutan, dan lemas.

Young mother breastfeeding at home, bonding with baby child toddlerIlustrasi ibu menyusui/ Foto: iStock

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), MSG tidak memiliki efek pada laktasi dan tidak menimbulkan risiko pada bayi.

Mengutip MSG Facts, glutamat berperan penting saat menyusui. Sebab, ASI sendiri mengandung 10 kali lebih banyak glutamat daripada susu sapi. MSG tidak berbahaya jika dikonsumsi dengan takaran yang tepat alias enggak berlebihan ya.

Para ilmuwan menyelidiki efek konsumsi MSG pada bayi menyusu dan ibu menyusui. Hasilnya, pada wanita menyusui yang konsumsi MSG 100 mg/kg berat badan tidak ditemukan peningkatan kadar glutamat dalam ASI, dan tidak berpengaruh pada asupan glutamat bayi.

Namun, proses pembuatan mi instan mungkin memiliki efek buruk untuk kesehatan. Hal ini dijelaskan dokter umum di rumah sakit New Delhi, Dr.Sunil Sharma.

"Dalam kebanyakan kasus, MSG atau yang dikenal dengan tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ), yaitu pengawet kimia yang berasal dari industri minyak bumi di mi instan, digunakan untuk meningkatkan rasa dan sifat pengawetnya," ungkap Sharma, dalam laman The World Around Us.

"Meskipun asupan makanan dari unsur-unsur ini diperbolehkan dalam ambang batas, konsumsi teratur atau terlalu sering dapat menyebabkan masalah kesehatan," lanjutnya.

Simak juga tips melancarkan ASI saat menstruasi, di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi