sign up SIGN UP search


menyusui

20 Hal yang Perlu Dihindari Ibu Menyusui, Suplemen hingga Rasa Tak Nyaman

Asri Ediyati Sabtu, 19 Sep 2020 17:45 WIB
Young mother, holding her sick toddler boy, breastfeeding him at home, sunny living room caption
Jakarta -

Baik ibu baru maupun ibu yang sudah berpengalaman, menyusui setelah melahirkan bisa menjadi hal yang melelahkan. Bahkan, beberapa di antaranya masih merasakan kepanikan saat ASI tak mengalir deras.

Supaya enggak panik dan berujung stres, ibu menyusui perlu punya bekal ilmu dam support system. Ya, panik dan stres bisa mempengaruhi hormon yang mengakibatkan pasokan ASI menurun. Nah, agar proses menyusui ini berjalan lancar dan sukses, Bunda yang sedang menyusui perlu menghindari beberapa hal.

Apa saja hal-hal yang perlu ibu menyusui perlu hindari? Berikut pemaparannya:


1. Terlalu khawatir bayi tidak cukup ASI

Seperti saat sedang hamil, hal yang wajar seorang ibu khawatir dengan bayinya. 'Apakah bayi mendapat cukup ASI? Bisakah kita makan itu? Apakah itu akan mempengaruhi ASI saya?'.

Dilansir Kelly Mom, ibu menyusui tidak perlu terlalu khawatir. Ada beberapa cara mudah untuk mengetahui bahwa bayi cukup ASI atau tidak. Setidaknya, bayi harus 'membasahi' popoknya enam kali dalam sehari.

2. Menyusui bayi terus, takut kelaparan

Sama seperti yang telah dibahas di poin pertama, saat terlalu khawatir, ibu malah menyusui bayinya terus. Padahal belum tentu mereka lapar lho. Jika disusui terus, yang ada bayi malah muntah, Bunda.

3. Terlalu patuh dengan teori durasi menyusui

Bunda boleh saja mematuhi aturan durasi menyusui. Dilansir BabyGaga, menurut teori kita menyusui sekitar 20 sampai 30 menit. Akan tetapi di pekan pertama menyusui, biasanya bayi masih belum punya jadwal yang tepat. Bayi juga tahu sendiri kapan ia kenyang dan akan berhenti menyusu.

4. Memberi dot saat usia bayi kurang dari 4 minggu

Memang, setiap ibu punya alasan sendiri mengapa beralih ke botol sebelum 4 minggu. Namun, memberi dot saat usia bayi kurang dari 4 minggu bisa membuat bayi bingung puting. Alternatifnya, Bunda bisa menggunakan cup feeder, cara ini lebih dianjurkan oleh dokter spesialis anak daripada dengan dot.

5. Lupa dengan waktu pemberian ASI terakhir

Jangan lupa untuk mencatat kapan waktu terakhir Bunda menyusui. Mungkin Bunda lelah, namun penting untuk membuat alarm di ponsel genggam kapan waktu menyusui selanjutnya.

6. Tak punya tempat nyaman untuk menyusu

Terdengar sepele, namun para tim penulis dari BabyCenter menyarankan agar ibu menyusui memiliki tempat duduk yang nyaman saat menyusui. Penting untuk memiliki tempat yang nyaman yang akan menopang punggung, lengan, leher, dan bahkan kepala ibu untuk menghindari rasa sakit. Memiliki tempat yang nyaman untuk menyusui dapat menghemat waktu kita dari terus bergeser dan mengubah posisi agar merasa nyaman saat menyusui.

7. Tak punya bantal menyusui

Bantal menyusui sangat membantu terutama dalam beberapa minggu pertama. Bantal ini membantu menempatkan bayi pada sudut dan ketinggian yang diinginkan untuk menyusu dengan benar. Hal ini dapat membuat bayi lebih mudah menyusu dan menghemat banyak waktu saat kita mencoba untuk memahaminya.

Akan sangat bermanfaat untuk memiliki bantal menyusui bagi Bunda yang telah menjalani operasi caesar karena bantal itu sebagai penahan perut kita yang sakit saat menyusui atau bahkan menggendong bayi.

8. Memberikan empeng terlalu cepat

Meskipun memberi bayi empeng dapat membuat ibu merasa lega karena menjadi satu-satunya sumber kenyamanan bagi mereka, hal itu dapat sangat menghambat suplai ASI dan keberhasilan menyusui. Meskipun empeng bukan sumber susu, empeng tetap dapat menimbulkan kebingungan pada puting. Seperti pemberian dot, waktu yang terbaik perkenalkan empeng adalah menunggu setidaknya 3 hingga 4 minggu setelah lahir, idealnya 6 minggu.

9. Tidak belajar atau cari tahu tentang menyusui

Knowledge is power. Semakin banyak yang kita ketahui tentang menyusui, idealnya semakin mudah. Tentu bisa ada masalah sepanjang menyusui, tetapi jika kita siap menghadapinya, kita cenderung lebih siap dan sabar. Jika kita tahu apa yang akan terjadi, mungkin kita tidak akan cepat menyerah.

10. Tak memilik apron menyusui

Apron menyusui penting untuk dibeli supaya Bunda bisa leluasa menyusui di tempat umum yang tak memiliki nursing room. Apalagi di masa pandemi, memakai apron menyusui sepertinya lebih aman dibandingkan masuk ke tempat yang terdapat banyak orang di dalam.

Ibu menyusuiIbu menyusui/ Foto: iStock

11. Tak menyusui sesuai permintaan bayi

Menyusui sesuai permintaan atau pemberian makan responsif dapat membantu Bunda mendapatkan pasokan ASI yang baik. Itu juga dapat mendorong dan memperkuat bonding ibu dengan bayinya. Mengikuti isyarat lapar bayi dan mengetahui kapan ia merasa kenyang juga dapat bermanfaat untuk perilaku makan bayi di masa depan.

12. Jarang skin to skin

Skin to skin bisa memperkuat bonding ibu menyusui dengan bayinya. Ini kenapa inisiasi menyusui dini (IMD) perlu skin to skin. Selain memperkuat bonding, skin to skin membuat bayi lebih mudah menyusu dan melakukan perlekatan.

13. Memompa setelah bukan selama menyusui

Konselor laktasi Kelly Bonyata, IBCLC mengatakan bahwa ibu sebenarnya dapat memompa sambil menyusui pada saat yang bersamaan. Ini adalah cara yang bagus untuk menghemat waktu dan menyimpan ASI ekstra yang keluar dari sisi lain saat bayi makan. Ia merekomendasikan untuk menempelkan bayi dan kemudian memasang pompa ke sisi lainnya karena lebih mudah memasang pompa dengan satu tangan.

14. Tidak mengenakan pakaian busui friendly

Bra menyusui, tank top, dan bahkan gaun yang busui friendly adalah teman baik ibu menyusui. Sangat cepat dan mudah hanya dengan membuka kancing di samping baju. Ini jelas merupakan pilihan yang lebih disukai daripada Bunda perlu bertelanjang dada.

15. Melakukan semuanya sendiri

Bunda mungkin satu-satunya yang bisa menyusui bayinya, tapi kita seharusnya tidak merasa sendirian. Pasangan kita, keluarga, dan bahkan konselor laktasi bisa menjadi support system kita. Meskipun Ayah tidak memiliki payudara untuk menyusui, dia tetap dapat membantu Bunda dengan memastikan Bunda mendapat istirahat, air, dan bahkan makanan yang cukup.

16. Tidak menyimpan ASI perah dengan benar

ASI perah bila disimpan dan dibekukan dengan benar bisa awet dan tahan sebulanan, lho. Untuk itu penting untuk mengetahui cara menyimpan ASI perah. HaiBunda sebelumnya pernah membahas ini. Bunda bisa cek artikelnya ya!

17. Tak menggunakan nipple shield

Bagi Bunda yang punya puting datar dan masih kesulitan membuat bayi melakukan perlekatan dengan sempurna, nipple shield bisa menjadi jawabannya. Nipple shield dapat membantu bayi untuk menyusu lebih mudah, dan dapat mencegah rasa sakit pada puting.

18. Tak mengetahui isyarat bayi lapar

Salah satu hal pertama yang kita pelajari setelah melahirkan adalah bagaimana mengetahui saat dia lapar. Mempelajari tanda-tanda lapar ini dapat membantu kita memahami menyusui. Tanda-tanda lapar dimulai dengan bayi menjilati bibir, menjulurkan lidah, dan lip smacking. Pada saat bayi benar-benar lapar, kemungkinan besar ia akan menangis dan sangat kesal.

19. Tidak tahu bayi kenyang

Sama pentingnya dengan mengenali tanda-tanda lapar, kita juga harus mengetahui tanda-tanda bayi kenyang. Menurut FitPregnancy, jika bayi tampak puas dan kenyang setelah menyusu, itu pertanda baik bahwa ia mendapat ASI yang cukup dan kenyang. Kemungkinan dia akan mendorong puting ibu keluar dari mulutnya jika Bunda mencoba menyodorkannya kembali.

20. Kebanyakan minum suplemen

Mungkin ada kalanya Bunda khawatir karena ASI tak banyak keluar. Padahal, sebenarnya pasokan ASI dikontrol oleh permintaan bayi untuk itu. Jadi, semakin sedikit kita menyusui, semakin sedikit susu yang kita hasilkan.

Semoga informasi mengenai 20 hal yang membuat ASI terhambat bisa Bunda hindari selama menyusui ya. Sehingga proses menyusui pun jadi lancar dan sukses hingga 2 tahun.

Simak juga tips memperbanyak ASI pada saat menstruasi:

[Gambas:Video Haibunda]



(aci/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi