sign up SIGN UP search


menyusui

Benarkah Bayi Bisa Mengalami Alergi ASI?

Annisa Karnesyia Minggu, 13 Sep 2020 13:11 WIB
Mother breastfeeding a new born baby boy in a hospital room caption
Jakarta -

Alergi ASI pada bayi adalah masalah menyusui yang sering dikhawatirkan ibu. Lalu benarkah bayi bisa mengalami alergi karena ASI?

Alergi memang bisa dialami bayi yang menyusu. Namun, penyebabnya bukan karena ASI, melainkan makanan yang dikonsumsi ibunya selama menyusui.

"Protein alami di ASI jumlahnya tidak banyak sehingga tidak bisa memicu alergi pada bayi. Namun, bayi bisa alergi terhadap makanan yang dikonsumsi ibunya," kata dokter spesialis anak, Dr. Harvey Karp, dilansir Happiest Baby.


Pada tahun 1983, ilmuwan Swedia membuktikan bahwa bayi kolik tidak akan mengalami masalah apa pun saat konsumsi ASI ibu. Namun, mereka bisa alergi terhadap protein yang melewati usus, lalu ke aliran darah ibu dan masuk ke ASI.

"Dalam waktu 30 menit setelah ibu makan, sejumlah kecil dari protein akan mengalir ke perut, lalu ke payudara. Protein itu dapat bertahan selama berjam-jam di sana," ujar Karp.

Alergi merupakan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh karena mencoba melindungi diri dari protein asing. Pada bayi yang mengalami alergi karena ASI ibu, gejalanya adalah muntah, sakit perut, diare, batuk, mata berair, hingga bengkak di bibir atau lidah.

Young mother breastfeeding her baby boy in the bedroom. Belgrade, SerbiaIbu Menyusui/ Foto: iStock

Untuk mendiagnosis alergi ini, Bunda bisa melihatnya dari reaksi bayi usai disusui. Alergi makanan paling umum disebabkan dari konsumsi susu sapi, kedelai, telur kacang-kacangan, gandum, dan kerang.

Saat si kecil terkena alergi karena ASI ibu, dokter umumnya akan menerapkan diet eliminasi. Artinya, Bunda tidak disarankan konsumsi makanan alergen selama waktu tertentu.

"Biasanya butuh 3 sampai 7 hari untuk melihat apakah gejalanya membaik," ucap Karp.

Jadi, alergi ASI hanyalah mitos, Bunda. ASI secara alami tidak menyebabkan alergi, tapi berperan sebagai perlindungan atau kekebalan tubuh bayi.

Dilansir laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ASI mengandung nutrisi esensial dan mampu mengatasi infeksi melalui komponen sel fagosit (pemusnah) dan imunoglobulin (antibodi). Komponen ASI juga mempunyai efek perlindungan.

ASI mengandung sel-sel yang penting dalam pemusnahan kuman dan merupakan perlindungan pertama pada saluran cerna bayi. Sama seperti sistem imun pada umumnya, ASI juga memiliki sistem pertahanan tidak spesifik dan spesifik.

Simak juga tips memperbanyak ASI saat menstruasi, di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi