sign up SIGN UP search


menyusui

7 Tips Memilih Susu Tambahan yang Tepat untuk Si Kecil

Annisa Afani Rabu, 23 Sep 2020 15:23 WIB
Ilustrasi bayi menyusui caption
Jakarta -

Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi utama dan sangat penting bagi bayi sejak lahir hingga enam bulan. Namun ada kalanya, bayi juga membutuhkan susu tambahan.

Beberapa kondisi yang membuat bayi diberikan susu formula sebagai tambahan ASI, dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), seperti bayi yang secara klinis menunjukkan gejala dehidrasi, seperti frekuensi buang air kecil yang kurang dari empat kali sehari, buang air besar lambat dan masih berupa mekonium setelah bayi berumur lima hari.

Selain itu, jika ASI tidak keluar, atau berat badan bayi kurang. Susu formula menyediakan vitamin, nutrisi lain dan kalori, namun nutrisi yang dikandungnya tidak mampu menyamai ASI. Karena itu, jika tidak mendesak memberikan susu formula, Bunda harus tetap mengupayakan memberikan ASI kepada buah hati terutama di enam bulan pertama kelahirannya. 


Susu formula memiliki bentuk dan jenis yang berbeda lho, Bunda. Berikut bentuk dan jenisnya, dikutip dari Baby Center:

Bentuk dan jenis susu formula

Susu formula memiliki dua bentuk, yakni cair dan bubuk. Susu formula cair adalah yang paling nyaman, tkarena idak perlu mencampur dan mengukurnya. Bunda bisa langsung membuka dan menyajikannya untuk si kecil. Namun setelah dibuka, ketahanannya berumur pendek, sehingga harus dihabiskan dalam waktu 48 jam. Selain itu, karena susu ini bentuknya cair, sehingga warnanya lebih gelap dibanding dengan susu bubuk.

Sementara susu formula bubuk lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Namun butuh waktu lama untuk menyiapkannya. Meski begitu, masa simpannya juga lebih tahan lama, yakni satu bulan setelah kemasan atau wadah dibuka.

Adapun jenis susu formula ada beberapa dan bisa dibuat dengan bahan yang berbeda. Berikut ini beberapa jenis susu formula:

1. Susu tambahan berbahan dasar susu sapi

Sebagian besar susu susu formula bayi mengandung susu sapi sebagai bahan utamanya. Susu formula dari bahan susu sapi ini karena memiliki keseimbangan protein, karbohidrat, dan lemak yang tepat, Bunda.

Dua protein susu utama dalam ASI adalah kesein (dadih) dan whey (protein dari susu sapi). Protein ini juga ada dalam susu sapi dan kambing, namun dalam proporsi yang tentunya berbeda dengan ASI. Dalam susu tambahan dari bahan susu sapi, rasio kasein dan whey disesuaikan untuk membuat susu yang berbeda.

Susu formula tahap pertama

Susu ini sebagian besar didasarkan pada whey, dengan rasio kasein dan whey adalah 60:40, yang hampir sama dengan ASI. Susu ini cocok untuk bayi berusia satu tahun. Selain itu, susu ini dianggap lebih mudah dicerna daripada susu berbasis kasein.

Susu formula tahap kedua

Sebagai lanjutan dari tahap pertama, susu tambahan ini sebagian besar terdiri dan berbasis kasein dengan rasio kasein dan whey adalah 80:20. Susu ini memiliki kandungan kasein yang lebih tinggi membuat susu tambahan membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, sehingga bayi akan merasa kenyang dan tidur malam lebih lama.

2. Susu formula berbahan dasar susu kambing

Susu ini tidak selalu memiliki rasio protein kasein dan whey yang dimodifikasi. Tidak ada bukti bahwa susu formula dari bahan susu kambing lebih mudah atau lebih sulit dicerna dibanding susu sapi.

Susu ini bukan alternatif yang cocok sebagai susu tambahan untuk bayi yang alergi terhadap protein dalam susu sapi karena protein dalam susu sapi dan kambing sangat mirip, sehingga bayi yang alergi terhadap susu sapi kemungkinan besar juga akan alergi terhadap susu kambing.

3. Susu formula berbahan dasar kedelai 

Susu formula berbahan dasar kedelai dibuat dengan protein nabati yang dimodifikasi untuk memudahkan pencernaan. Vitamin, mineral, dan nutrisi juga ditambahkan supaya cocok sebagai susu formula.

Mengutip WebMD, jika bayi mengalami alergi terhadap susu sapi, maka Bunda dapat beralih memberikan susu yang terbuat dari kedelai. Susu formula kedelai dianggap memiliki nilai nutrisi hampir mirip ASI.

Selain itu, juga bisa menjadi pilihan yang baik jika si kecil mengalami beberapa masalah kesehatan, seperti defisiensi laktosa sementara, galaktosemia atau kelainan bawaan, di mana tubuh tidak dapat memecah gula dalam kandungan susu atau galaktosa untuk menghasilkan energi. Di samping itu, karena kekurangan laktase kongenital, sehingga dapat menyebabkan gejala intoleransi laktosa.

Tips memilih susu formula

Nah, mungkin Bunda akan sedikit bingung untuk memilih susu tambahan atau formula yang cocok untuk buah hati. Bunda bisa bertanya kepada dokter anak. Meski demikian, berikut ini tipsnya, seperti dikutip dari US News dan Bellybelly:

1. Mulai dengan susu formula dari susu sapi

Wakil Ketua Pediatri di Pusat Kesehatan Providence Saints John's Health Center di Santa Monica, California, Danelle Fisher mengatakan bahwa Bunda bisa mulai dengan susu formula yang terbuat dari susu sapi biasa.

"Kebanyakan bayi akan menolerir susu formula berbasis susu sapi dengan sangat baik. Selain harganya lebih murah jika memiliki beberapa variasi untuk membantu bayi rewel atau dengan masalah pencernaan," katanya.

2. Coba ganti jenis susu jika tidak cocok

Jika susu formula atau susu tambahan dari susu sapi yang dikonsumsi menimbulkan energi, seperti ruam atau kembung atau lainnya, coba ganti jenis susunya dengan susu kedelai. American Academy of Pediatric (AAP) merekomendasikan penggunaan susu dari bahan kedelai dalam kasus sangat spesifik, seperti ketika anak alergi susu. Meski demikian, menurut asisten profesor di Departemen Pediatri di Loyola University Chicago's Stritch School of Medicine, Sara Doss, ada baiknya membicarakan lebih dahulu hal ini dengan dokter anak.

3. Perhatikan merek

Susu formula hadir dalam berbagai merek dan memiliki bahan serta kandungan serupa, namun bukan berarti semuanya sama.

"Perusahaan susu yang bermerek telah melakukan penelitian ekstensif tentang hasil klinis dengan bayi. Mereka tidak hanya melihat apakah bayi menyukai susu formula, tetapi juga bagaimana otak merespons," kata Danelle Fisher, wakil ketua pediatri di Pusat Kesehatan Providence Saint John di Santa Monica, California.

4. Mengandung zat besi tinggi

ASI mengandung zat besi tinggi yang penting untuk perkembangan anak, sehingga mayoritas susu formula diperkaya dengan zat besi untuk memberikan nutrisi serupa. Untuk alasan itu, maka sangat penting untuk tidak membeli susu formula atau susu tambahan dengan zat besi yang rendah kecuali atas saran dokter ya, Bunda.

"Susu formula rendah zat besi secara umum tidak direkomendasikan oleh AAP," kata Sara Doss.

5. Sesuaikan dengan usia

Pastikan Bunda membeli susu tambahan yang sesuai dengan rentang usia si kecil, ya. Sebab, susu tambahan bagi anak yang lebih kecil memiliki komposisi seperti vitamin dan mineral yang berbeda dengan anak lainnya yang lebih besar.

6. Untuk bayi prematur dan berat lahir rendah

Susu formula khusus seringkali mengandung lebih banyak nutrisi seperti protein, serta jenis lemak yang lebih mudah diserap tubuh yang disebut trigliserida rantai menengah (MCT). Berapa banyak MCT dalam formula ini bervariasi tergantung merek, Bunda. Biasanya dokter akan memberitahu Bunda bila si kecil memerlukan salah satu dari formula khusus ini, dan membantu untuk memilihkannya demi menambah berat badan anak.

7. Mengandung rendah protein

Asupan protein yang berlebihan dalam dua tahun pertama kehidupan bayi yang kemungkinan besar didapat dari susu formula dapat berkontribusi pada obesitas di masa kanak-kanak. Beberapa susu mungkin mengandung protein yang jauh lebih tinggi daripada ASI.

Pedoman Diet Australia menyebutkan untuk memilih susu formula dengan protein yang lebih rendah. Karena itu, Bunda harus memperhatikan komposisinya dan lihat kandungan protein per 100 mililiter (ml). Pilih susu yang memiliki jumlah protein per 100 ml terendah.

Bunda, simak juga cara cegah kehamilan saat menyusui dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi