sign up SIGN UP search


menyusui

Bunda Jangan Takut Menyusui Bayi saat Alami Mastitis, Begini Caranya

Annisa Afani Rabu, 28 Oct 2020 06:53 WIB
Mother holding baby in her arms and kiss in a white bedroom.Love of family concept caption
Jakarta -

Proses menyusui tak selamanya dapat dengan berjalan lancar. Bagi beberapa ibu menyusui, mungkin akan mengalami masalah peradangan seperti mastitis.

Mastitis biasanya muncul dengan gejala seperti nyeri, panas, atau adanya bengkak pada payudara. Saat menyusui si kecil, rasa nyeri tersebut mungkin akan semakin terasa parah, dan mengganggu kenyamanan.

Mengutip dari Todays Parent, mastitis umumnya terjadi pada beberapa minggu setelah melahirkan, fase awal menyusui, atau lebih lama lagi dari waktu tersebut, Bunda. Meski begitu, proses menyusui masih tetap dapat dilakukan, kok.


Penyebab mastitis

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan ibu menyusui mengalami mastitis. Mengutip dari The Bump, berikut di antaranya:

  • Saluran air susu ibu (ASI) tersumbat

Saat ASI tidak dikeluarkan dengan rutin dan sering, ini dapat membuat saluran jadi tersumbat. Akibatnya, akan membuat ASI menumpuk dan tidak dapat mengalir keluar dari payudara.

"Inilah mengapa akan terasa adanya seperti benjolan yang empuk. Jika ini tidak hilang dalam beberapa jam, payudara mungkin akan menimbulkan gejala seperti bercak merah, suhu tinggi, menggigil dan rasa sakit yang umum," kata Andrea Syms - Brown, konsultan laktasi, dikutip dari The Bump.

  • Infeksi

Mastitis juga bisa terjadi karena infeksi akibat bakteri masuk ke dalam saluran ASI, Bunda. Ini terjadi akibat adanya retakan pada puting karena pelekatan atau pemompaan yang buruk.

"Retakan pada puting terjadi karena perlekatan atau pemompaan yang buruk, sehingga memungkinkan bakteri masuk ke dalam payudara dan menyebabkan infeksi," kata konsultan laktasi, Leigh Anne O'Connor.

Bakteri yang menjadi penyebab umum mastitis adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus albus, Escherichia coli dan Streptococcus aureus. Bakteri ini menyebabkan kemerahan pada kulit dan nyeri yang berhubungan dengan peradangan.

Siapa yang berisiko mengalami mastitis?

Penelitian menunjukkan bahwa kurang dari 10 persen wanita memiliki kemungkinan mengalami mastitis, Bunda. Menurut laporan yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar gejala mastitis akan muncul dan terjadi dalam tiga bulan pertama menyusui.

Namun, beberapa ibu menyusui bisa memiliki kerentanan yang lebih tinggi daripada lainnya. Hal tersebut bisa bergantung pada beberapa faktor sebagai berikut:

1. Usia

Wanita yang berusia 21-35 tahun diketahui lebih rentan terhadap mastitis, Bunda. Namun risiko tertingginya terjadi saat wanita berusia 30-34 tahun.

2. Riwayat mastitis

Penelitian menunjukkan bahwa 40-54 persen ibu menyusui yang sebelumnya pernah menderita mastitis lebih cenderung akan kembali mengalaminya. Para ahli memperkirakan ini bisa jadi akibat pemberian ASI yang tidak tepat.

3. Ibu pekerja

Jika ibu menyusui bekerja penuh waktu di luar rumah, maka ini dapat meningkatkan peluang terkena mastitis, Bunda. Itu karena adanya interval waktu yang lebih lama di antara pemompaan, dan tidak cukup waktu untuk mengeluarkan ASI sepenuhnya, sehingga dapat menyebabkan penyumbatan saluran ASI.

4. Trauma

Setiap adanya cedera yang terjadi pada jaringan payudara, dapat berdampak negatif pada kinerja kelenjar dan saluran ASI. Akibatnya, bisa meningkatkan kemungkinan mastitis.

Gejala mastitis

Meskipun paling sering terjadi dalam tiga bulan pertama setelah melahirkan dan menyusui, gejala mastitis juga bisa muncul lebih lama dari masa-masa tersebut. Untuk memastikannya, Bunda bisa memperhatikan gejala mastitis berikut ini:

  • Payudara terasa lembut dan bengkak
  • Adanya satu atau lebih benjolan di payudara
  • Payudara terasa hangat atau panas saat disentuh
  • Nyeri payudara atau ada rasa terbakar saat menyusui maupun tidak
  • Kulit payudara jadi merah
  • Mengalami gejala mirip flu, seperti menggigil atau kelelahan
  • Demam dengan suhu 38,3 derajat celcius atau lebih

"Secara umum, mastitis tanpa infeksi terjadi di area yang luas. Bisa muncul dengan kulit kemerahan, nyeri dan bengkak, tetapi gejala mastitis umumnya lebih parah. Demam dan gejala mirip flu identik dengan infeksi," ujar kata Kecia Gaither, MD, dokter spesialis kebidanan dan janin di New York City.

Cara mencegah mastitis

Cara terbaik untuk menghindari mastitis ialah dengan melakukan pencegahan, Bunda. Beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti

1. Beristirahat

Semakin lemahnya tubuh, maka akan semakin sulit untuk melawan apa yang membuat tubuh mengalami sakit, Bunda. Jadi untuk menghindari hal tersebut, cukupilah waktu untuk beristirahat dengan layak.

Selain menghindari dari sakit, istirahat juga berguna untuk mengurangi stres dan kecemasan. Cobalah untuk ikut tidur siang bersama si kecil dan dengarkan musik yang menenangkan atau meditasi saat menyusui.

2. Minum dengan cukup

Menjaga tubuh agar tetap terhidrasi dengan air akan meningkatkan sirkulasi sekaligus membantu menjaga aliran ASI.

3. Menyusui

Tetap menyusui si kecil adalah suatu keharusan, Bunda. Menyusui bisa menghindari penyumbatan atau infeksi.

4. Gunakan pakaian longgar

Pakaian, atau bra yang ketat dapat menimbulkan tekanan pada payudara. Ini dapat menyebabkan nyeri saat menyusui dan mastitis. Karena itu, gunakan pakaian dalam yang longgar.

5. Mengonsumsi makanan sehat

Tingkatkan sistem kekebalan tubuh dengan makanan sehat, utuh dan segar yang kaya vitamin C seperti jeruk dan paprika, vitamin A seperti ubi jalar, brokoli, wortel, dan kangkung, probiotik yang terkandung dalam yogurt, vitamin E dari almond, bayam, alpukat, serta vitamin B-6 yang dapat diperoleh dari ayam, kalkun, dan kuaci.

6. Menjaga kebersihan

Selalu bersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah menyusui. Ini juga dapat menjadi upaya untuk membantu menghilangkan kemungkinan sumber bakteri.

7. Meminta bantuan

Syms-Brown merekomendasikan ibu menyusui untuk mengambil kelas menyusui prenatal dengan konsultan laktasi. Dengan begitu, Bunda bisa mengetahui apa saja tips untuk mencegah mastitis serta informasi lainnya yang berguna untuk ibu menyusui dan kebutuhan bayi.

Mengobati mastitis

Jika Bunda sudah terlanjur mengalami mastitis, ada beberapa perawatan yang dapat ibu menyusui lakukan untuk mengobatinya. Berikut ini caranya:

1. Pijat

Jika merasakan ada bagian yang keras seperti benjolan di payudara, mulailah untuk segera memijatnya saat menyusui. Benjolan ini kemungkinan adalah saluran yang tersumbat, dan akan lebih mudah dibersihkan sebelum benjolan menjadi lebih besar dan lunak, Bunda.

"Pijatan adalah kunci untuk melancarkan ASI yang tersumbat," kata Tracy Hydeman, bidan di Regina, Kanada.

2. Kompres hangat

Menempatkan kain panas atau hangat pada payudara yang membengkak akan membantu untuk melunakkan penyumbatan dan mendorong ASI mengalir, Bunda. Cobalah untuk membasahi kain dengan air hangat untuk membungkus payudara, lalu ulangi lagi saat sudah dingin agar tetap panas. Hydeman mengatakan bahwa kompres hangat dapat bekerja dengan sangat baik untuk melancarkan ASI yang tersumbat.

3. Mandi atau berendam

Mandi atau berendam bisa menjadi cara ideal untuk melembutkan payudara. Ini karena air dapat memberikan tekanan dan membantu untuk mengatasi penyumbatan.

4. Mengobati puting yang sakit atau luka

Jika puting terasa sakit dan pecah-pecah karena pelekatan yang buruk, maka lakukan perawatan dan obati dengan dengan krim lanolin akan membantu menyembuhkan dan mengurangi kemungkinan infeksi.

"Namun, ke depannya ibu menyusui harus memperbaiki cara pelekatan yang benar untuk mencegah masalah pada puting. Anda mungkin perlu menemui konsultan laktasi untuk mendapatkan bantuan," kata Hydeman.

6. Meningkatkan kekebalan tubuh

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh tidak serta merta dapat menyembuhkan mastitis, tetapi tidak ada salahnya untuk mengonsumsi suplemen, seperti vitamin C dan probiotik supaya tubuh dapat melawan infeksi.

"Memastikan tubuh Anda memiliki pertahanan terbaik patut dicoba," ucap Hydeman.

7. Obat buatan sendiri

Jika payudara membengkak, Hydeman menyarankan untuk meletakkan daun kubis di atas payudara, Bunda. "Daun kubis menangkup payudara secara alami, dan itu mengurangi peradangan," katanya.

Beberapa wanita juga ada yang mencoba dengan irisan kentang mentah yang dibasahi untuk mengurangi peradangan, Bunda. Meski bukan rekomendasi dari Hydeman, tetapi dia mengatakan hal tersebut bisa membantu membersihkan penyumbatan dan melancarkan ASI.

Sementara jika ibu menyusui mengalami demam dengan suhu lebih dari 38 derajat celcius selama lebih dari 24 jam dan disertai gejala mirip flu, harus segera berobat untuk mendapatkan antibiotik, Bunda.

"Infeksi mastitis yang tidak diobati dapat menyebabkan abses, kumpulan nanah yang menyakitkan yang sulit diobati, dan mungkin perlu dikeringkan dengan pembedahan. Jadi jika ragu, temui dokter," saran Hydeman.

Tips menyusui saat mengalami mastitis

Tetap menyusui si Kecil saat mastitis memang terasa sakit, Bunda. Namun ini bukan hanya menjadi cara yang efektif untuk mengatasi mastitis, namun juga membantu untuk menjaga suplai ASI tetap terjaga.

Untungnya dalam banyak kasus, ASI masih boleh dikonsumsi oleh bayi meski ibu menyusui sedang mengalami mastitis. "Bayi sehat yang sistem kekebalannya tidak terganggu seharusnya baik-baik saja jika Anda menderita dan sedang dirawat karena mastitis," kata Syms-Brown.

Mungkin dokter akan meresepkan obat untuk mengobati mastitis yang dialami ibu menyusu. Nah, sambil menunggu obat tersebut bekerja, Bunda bisa tetap menyusui buah hati. Berikut beberapa tips menyusui yang dapat Bunda coba saat mengalami mastitis:

1. Susui dengan payudara yang sakit

Mulailah menyusui dengan payudara yang nyeri terlebih dahulu, Bunda. Sebelumnya, pijat, pompa, atau peras payudara terlebih dahulu menggunakan tangan untuk membantu ASI mengalir dan memudahkan bayi.

2. Periksa pelekatan bayi saat menyusu

Perhatikan dengan cermat agar bayi dapat melakukan pelekatan dengan tepat, dan biarkan bayi menentukan waktu berapa lama ia menyusu.

"Bayi harus minum secara aktif untuk sebagian besar waktu Anda menyusu. Jika tidak, Anda mungkin perlu memperbaiki perlekatannya agar proses menyusu lebih produktif. Bekerja samalah dengan konsultan laktasi untuk menetapkan posisi bayi yang tepat saat menyusui," ungkap Syms-Brown.

3. Sering menyusui

Di masa menyusui, produksi ASI harus terus berjalan, sehingga payudara perlu untuk selalu dikosongkan demi mengurangi adanya tekanan. Upaya ini dapat dilakukan dengan menyusui bayi setiap dua jam atau kapanpun bayi merasa lapar, dan biarkan ia menyusu selama menginginkannya.

Menyusui juga bukan satu-satunya pilihan, kok. Bunda bisa memompa payudara sesering mungkin agar suplai ASI tetap terjaga.

4. Ubah posisi

Gantilah posisi bayi saat menyusui untuk membantu mengosongkan payudara dari ASI sepenuhnya.

5. Periksa payudara

Selalu rasakan payudara sebelum dan sesudah menyusui, Bunda. ASI harus benar-benar habis, tandanya payudara akan menjadi lebih lembut atau ringan. "Jika tidak, maka pompa atau ekspresikan dengan tangan untuk mengeluarkan sisanya. Waspadai adanya area nyeri yang terasa sama setelah satu hingga tiga kali menyusui," kata Syms-Brown.

Semoga informasi ini membantu ya Bunda, dan tetap sehat serta semangat mengASIhi!

Bunda, simak juga yuk cara mencegah mastitis seperti yang dialami oleh Citra Kirana dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi