sign up SIGN UP search


menyusui

Bunda, Begini Cara Menyapih Anak Menurut Islam

Annisa Afani Rabu, 16 Dec 2020 19:12 WIB
Cropped shot of an attractive young woman carrying her sleeping daughter through the living room on Christmas morning caption
Jakarta -

Menyusui si kecil menjadi hal yang menantang sekaligus membahagiakan bagi setiap ibu ya, Bunda. Kemampuan ini pun secara alami dapat dipelajari dan dilakukan setelah ibu melahirkan.

Pemberian air susu ibu (ASI) pada bayi merupakan hal yang penting. Karena dengan sistem pencernaan bayi yang belum sempurna, maka ASI menjadi satu-satunya sumber makanan dan nutrisi yang paling sempurna untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.

Bagi bayi, ASI eksklusif menjadi makanan utama sampai setidaknya berusia 6 bulan, Bunda. Setelah itu, bayi perlu untuk mendapat sumber nutrisi lainnya seperti susu tambahan atau makanan pendamping ASI (MPASI) agar kebutuhan nutrisinya yang semakin tinggi dapat tercukupi.


Meskipun si kecil sudah mendapat MPASI, ASI sendiri sebenarnya masih dapat terus diberikan, Bunda. ASI bisa diberikan kepada si kecil hingga usianya 2 tahun. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI hingga usianya 2 tahun atau lebih.

Sementara soal menyusui dan menyapih anak juga dijelaskan dalam Al-Qur'an, Bunda. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 233, yang berbunyi:

وَالۡوَالِدٰتُ يُرۡضِعۡنَ اَوۡلَادَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِ لِمَنۡ اَرَادَ اَنۡ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ ؕ وَعَلَى الۡمَوۡلُوۡدِ لَهٗ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِؕ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ اِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَا تُضَآرَّ وَالِدَةٌ ۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوۡلُوۡدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الۡوَارِثِ مِثۡلُ ذٰ لِكَ ۚ فَاِنۡ اَرَادَا فِصَالًا عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَاؕ وَاِنۡ اَرَدْتُّمۡ اَنۡ تَسۡتَرۡضِعُوۡٓا اَوۡلَادَكُمۡ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ اِذَا سَلَّمۡتُمۡ مَّآ اٰتَيۡتُمۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعۡلَمُوۡٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِيۡرٌ

Wal-wālidātu yurḍi'na aulādahunna ḥaulaini kāmilaini liman arāda ay yutimmar-raḍā'ah, wa 'alal-maulụdi lahụ rizquhunna wa kiswatuhunna bil-ma'rụf, lā tukallafu nafsun illā wus'ahā, lā tuḍārra wālidatum biwaladihā wa lā maulụdul lahụ biwaladihī wa 'alal-wāriṡi miṡlu żālik, fa in arādā fiṣālan 'an tarāḍim min-humā wa tasyāwurin fa lā junāḥa 'alaihimā, wa in arattum an tastarḍi'ū aulādakum fa lā junāḥa 'alaikum iżā sallamtum mā ātaitum bil-ma'rụf, wattaqullāha wa'lamū annallāha bimā ta'malụna baṣīr.

Artinya:

"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

"Jadi kalau anak paling enggak sudah masuk usia 2 tahun, ibu yang menyusuinya mesti melakukan ini (menyapih)," kata Syekh Ibrahim Bajuri, dikutip dari kanal YouTube Yayasan Al-Muafah.

Tahap penyapihan

Bunda, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menyapih. Berdasarkan ajaran Rasulullah SAW, orang tua harus memperhatikan beberapa hal yang disukainya. Mengutip buku 'Menyusui dan Menyapih dalam Islam', berikut beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua sebelum menyapih buah hatinya:

1. Komunikasikan rencana menyapih dengan Ayah

Al-Qur'an mengajarkan agar ibu bermusyawarah dengan pasangannya sebelum melakukan penyapihan karena anak merupakan amanah untuk Ayah dan Bunda. Nah, ketika anak disapih pasti akan rewel, sehingga dibutuhkan kerja sama dan saling membantu antara Bunda dan Ayah.

2. Miliki tekad kuat

Menyapih bukan hal yang mudah dilakukan karena ikatan yang sudah kuat antara ibu dan anak. Bahkan, mungkin anak akan menangis atau tidak bisa jauh dari ibunya.

Karena itu, jika Bunda tidak memiliki tekad yang kuat, maka proses penyapihan akan gagal. Untuk itu, pastikan bahwa Bunda memiliki tekad yang sudah kuat untuk melakukannya.

3. Pastikan anak dalam kondisi sehat

Pastikan anak dalam kondisi sehat ketika melakukan penyapihan ya, Bunda. Sebab jika anak dalam kondisi sakit akan sulit melakukan penyapihan. Selain kondisi fisik, pastikan kondisi psikologis anak juga sudah siap, jangan sampai mereka tertekan dan tidak bahagia.

4. Komunikasikan ke anak

Bunda harus menjelaskan kepada anak dengan bahasa mudah yang dipahaminya soal alasan menyapih. Ini supaya tidak terjadi salah paham, yang mungkin bisa memengaruhi psikologi anak.

Selain itu, Bunda juga bisa memberikan reward kepada anak jika bersedia disapih. Misalnya, memberikan minuman yang disukai anak, seperti jus jeruk atau lainnya.

Adapun tahapan penyapihan anak, meliputi:

Natural weaning

Ini menjadi cara penyampihan alami yang terjadi tanpa adanya paksaan, Bunda. Untuk mewujudkannya, dapat berjalan sesuai pada tahapan anak dengan memperbanyak dialog serta komunikasi untuk menjelaskan sesuai daya pikirnya, sehingga ia dengan cepat siap untuk disapih.

Saat anak siap secara psikologis, maka hal ini tak membuatnya merasa sedih dan menganggap ibunya tak lagi menyayanginya.

Mother led weaning

Berbeda dengan yang pertama, cara ini menentukan kapan saat dan waktu untuk penyapihan anak dilakukan. Untuk menjalankanya, dibutuhkan waktu dan kesiapan, terutama pada ibu dan seluruh anggota keluarga karena jika ada anggota keluarga yang tak setuju akan membuat anak menjadi rewel, sehingga upaya yang dilakukan tak membuahkan hasil.

Tips menyapih anak dengan cinta

Dalam upaya menyapih anak, para ulama sendiri menyepakati bahwa tidak ada cara khusus yang perlu dilakukan. Hanya saja, Islam mengajarkan untuk mengutamakan kondisi anak, sehingga dapat membuat ibu dan anak sama-sama nyaman dan bahagia.

Adapun beberapa cara yang perlu untuk diperhatikan ialah:

1. Lakukan secara perlahan

Perlu untuk melakukan penyapihan ini dengan perlahan, Bunda. Ini bisa dimulai dengan jarang menyusui dan menggantikannya dengan makanan atau minuman sehat yang disukai anak.

2. Konsisten

Saat penyapihan sudah dijalani dan suatu ketika anak menjadi rewel, jangan berikan ASI sebagai jurus untuk membuat si kecil tenang, Bunda. Karena jika Bunda tak konsisten, proses menyapih pun akan semakin sulit untuk dilakukan.

"Kalau kita biarin (tetap dikasih ASI) karena enggak tega dia nangis, maka ada bahaya. Nanti dia sampai besar jadi masih suka menyusu," tutur Syekh Ibrahim Bajuri.

3. Memberi contoh

Bunda bisa memberikan beberapa contoh tentang kemandirian tokoh favorit anak yang tak lagi menyusu. Ini bisa Bunda lakukan sambil melihat gambar-gambar di buku, atau teman seumurannya yang sudah tak lagi menyusu, sehingga ia jadi termotivasi dan meniru. Namun perlu untuk diingat, Bunda enggak perlu membanding-bandingkan si kecil dengan anak-anak lainnya, ya.

4. Berikan makan yang cukup

Ini juga menjadi cara yang penting lho, Bunda. Jika anak diberi makan dan minum dengan cukup, dan perutnya kenyang, maka ia tak akan mengingat dan melupakan ASI.

5. Tidak beri sesuatu yang bikin ketergantungan

Untuk mengalihkan keinginannya pada ASI, sebenarnya Bunda tak perlu memberi alat yang membuatnya jadi ketergantungan seperti empeng  atau dot dan lainnya.

Bunda, intip juga yuk cara Bunda seleb mengajarkan anak-anaknya untuk menyapih sendiri dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi