sign up SIGN UP search


menyusui

Cara Menyapih Anak Tanpa Risiko Mastitis, Bunda Sudah Tahu?

Kinan Rabu, 21 Jul 2021 17:56 WIB
happy family mother playing and hug with newborn baby  in bed caption

Setelah masa menyusui, tiba waktunya Bunda harus menyapih alias menyudahi frekuensi rutin tersebut pada si Kecil. Ingat ya, menyapih sebaiknya dilakukan dengan tepat agar tak justru memicu risiko mastitis. Bagaimana caranya?

Dilansir Healthline, salah satu cara menyapih anak tanpa risiko mastitis yakni dengan memerhatikan periodenya alias tak terburu-buru. Idealnya, menyapih dilakukan secara bertahap selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. 

Sabar melakukan proses menyapih dapat memungkinkan suplai ASI berkurang secara bertahap, sebab ASI lebih jarang dikeluarkan dalam periode waktu tertentu.


Tergantung pada usia anak, waktu ekstra ini juga memberi Bunda kesempatan untuk memperkenalkan makanan padat dan cairan lain selain ASI. Memberi diri sendiri waktu untuk menyapih secara perlahan akan lebih nyaman, tidak membuat stres dan meminimalkan risiko mastitis.

Efek samping menyapih terlalu cepat

Menyapih yang dilakukan terlalu cepat alias buru-buru berisiko dapat membuat stres. Termasuk emosi jadi labil dan suplai ASI justru meningkat. Efeknya dapat memicu pembengkakan dan berisiko mastitis.

Ya, saat tubuh berhenti memproduksi susu, salah satu efek yang mungkin terjadi yaitu ketidaknyamanan karena payudara bengkak dan ASI yang tidak dikeluarkan secara teratur. Saluran ASI yang tersumbat atau mastitis pun jadi rentan terjadi saat menyapih. 

Jika menyapih dilakukan dengan terlalu cepat, tubuh tak punya kesempatan untuk menyesuaikan dan mengurangi produksi ASI, pembengkakan akan terjadi dan berujung pada nyeri. 

Bagaimana cara menyapih anak tanpa risiko mastitis?

Jika Bunda sudah siap untuk berhenti menyusui dan menghabiskan persediaan ASI, cara menyapih anak prinsip utamanya yakni tetap bersabar. Secara bertahap, hentikan satu sesi menyusui setiap 3 hingga 5 hari sekali. 

Berikut beberapa cara menyapih anak yang efektif meminimalkan risiko mastitis:

  • Pengurangan produksi ASI yang dilakukan buru-buru dapat menyebabkan saluran ASI tersumbat dan mastitis. Mastitis pada dasarnya merupakan peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi dan disertai dengan rasa sakit luar biasa. 
  • Beri diri sendiri waktu untuk perlahan-lahan menghentikan sesi menyusui dan memerah ASI. Sebab perlu diketahui bahwa salah satu penyebab utama mastitis adalah penumpukan ASI di jaringan payudara. 
  • Mengurangi sesi menyusui secara perlahan pun memberi tubuh lebih banyak waktu untuk secara bertahap mengurangi suplai ASI, sehingga penumpukan ASI tidak akan terlalu banyak.
  • Pastikan untuk terus merawat jaringan payudara Bunda dengan baik. Bakteri juga dapat masuk melalui luka di puting, yang berujung pada infeksi dan mastitis.

Jika ada tanda-tanda mastitis, seperti demam dan benjolan kemerahan yang keras di payudara, selama masa penyapihan, segera konsultasi ke dokter laktasi guna mendapatkan resep obat antibiotik atau perawatan medis lainnya.

Patuhi anjuran minum antibiotik sesuai anjuran dokter, hindari berhenti meminumnya sebelum waktu yang sudah ditentukan.

Apabila gejala mastitis ini diabaikan, efeknya tak sekadar membuat Bunda tak nyaman beraktivitas tapi juga menimbulkan risiko infeksi. 

Perah ASI jika diperlukan untuk cegah mastitis saat menyapih

Dikutip dari Raising Children, jika payudara terlanjur membengkak akibat penumpukan ASI, segera perah untuk mencegah mastitis. Ingat, perah secukupnya saja dan jangan sampai payudara terasa benar-benar kosong.

Jika Bunda mengeluarkan ASI terlalu banyak, itu tidak akan mengurangi suplai ASI dan penyapihan justru bisa memakan waktu lebih lama.

Waspadai juga adanya gumpalan pada payudara. Setelah bayi berhenti menyusui, Bunda mungkin memiliki gumpalan pada payudara selama 5-10 hari. Gumpalan yang membesar dan terasa nyeri mungkin mengindikasikan saluran ASI tersumbat atau gejala awal mastitis. Jika ini terjadi, cobalah memijat benjolan tersebut. 

Jangan lupa gunakan bra yang ukurannya sesuai dan tidak terlalu ketat. Ini dapat menekan payudara, yang kemudian menambah risiko ketidaknyamanan saat menyapih.

Saat menyapih, Bunda perlu bersabar dan mempersiapkan fisik serta mental. Maka dari itu, penting untuk melakukan semua prosesnya secara bertahap. Ingatlah bahwa ini bukan akhir, melainkan awal dari tahap baru dalam tumbuh kembang si Kecil.

Jika Bunda harus berhenti menyusui dengan cepat, bicarakan dengan dokter tentang metode yang dapat membantu. Terutama yang berkaitan dengan konsumsi obat-obatan tertentu apabila diperlukan.

(som/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi