Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Cara Menyapih Anak Usia 2 Tahun ke Atas dengan Lembut dan Tanpa Trauma

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Rabu, 04 Mar 2026 07:30 WIB

Ilustrasi Ibu dan Anak
Cara Menyapih Anak Usia 2 Tahun ke Atas dengan Lembut dan Tanpa Trauma/Foto: Getty Images/iStockPhoto/Kiwis
Daftar Isi
Jakarta -

Menyapih anak tidaklah selalu mudah bagi sebagian Bunda. Agar lebih tenang, simak cara menyapih anak usia 2 tahun ke atas dengan lembut dan tanpa trauma, Bunda.

Memasuki masa penyapihan, para busui merasa khawatir dengan fase tersebut. Pasalnya, pengalaman menyapih tidaklah selalu mulus. Alhasil, bukannya berhasil menyapih Si Kecil tetapi justru lanjut terus menyusui karena sebagian busui tak tega melihat anaknya penuh drama.

Belum lagi, anak yang berusia 2 tahun lebih tersebut masih terus mau menyusu dan inilah yang mendorong para ibu akhirnya tak jadi menyapih. Alasan merasa bersalah pun menggelayuti dan membuyarkan niat awal yang sudah bulat menyapih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Melihat hal tersebut, salah satu yang perlu Bunda pahami ialah bahwa secara medis tidaklah salah ketika anak berusia 2 tahun lebih masih meminta ASI. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO sendiri merekomendasikan pemberian ASI hingga anak berusia dua tahun dan bahkan lebih, selama ibu dan anak merasa nyaman.

Cara menyapih anak usia 2 tahun ke atas

ASI memang dapat terus memberikan rasa aman secara emosional dan beberapa di antaranya juga memberikan manfaat kekebalan tubuh bagi Si Kecil. Namun, pada usia tiga tahun, biasanya menyusui lebih tentang kenyamanan daripada nutrisi dari ASI itu sendiri.

Sehingga pada tahap ini, Si Kecil seharusnya sudah mengonsumsi makanan keluarga yang seimbang seperti sereal, kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, produk susu, dan makanan kaya protein seperti dikutip dari laman India Today.

Jadi, ketika anak yang berusia 2 tahun lebih atau bahkan tiga tahun masih menyusu, Bunda tidak melakukan sesuatu yang salah. Tetapi, mungkin sudah saatnya untuk perlahan-lahan beralih ke makanan lainnya.

Mengapa ASI saja tidak cukup pada usia 3 tahun?

Pada usia anak tiga tahun, ASI tidak dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi anak. Mereka yang sedang bertumbuh pesat membutuhkan nutrisi lainnya seperti zat besi, kalsium, protein, lemak sehat, vitamin, dan serat dari berbagai sumber makanan.

“Jika seorang anak hanya bergantung pada ASI di usia ini, hal itu dapat menyebabkan kekurangan nutrisi,” kata Dr. Lalita Kanojiya, Additional Director Pediatrics, CK Birla Hospital, Jaipur. 

Ditambahkan Dr Lalita bahwa pada usia tiga tahun, ASI lebih tentang kenyamanan emosional daripada kebutuhan nutrisi. 

Memang, beberapa anak mungkin menolak makanan padat dan meminta ASI, terutama sebelum tidur. Sehingga, hal ini dapat memengaruhi pola makan mereka secara keseluruhan.

Selain itu, kekhawatiran lainnya ketika anak berusia 2 tahun lebih masih menyusu ialah memengaruhi kesehatan giginya. Seperti diketahui bahwa ASI mengandung laktosa atau gula alami. Ketika anak menyusu di malam hari dan dalam waktu lama tanpa kebersihan mulut yang tepat dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko karies gigi (kerusakan gigi).

Menyapih secara lembut tanpa drama dan trauma

Melakukan penyapihan secara mendadak tidak hanya dapat mengganggu psikis Bunda tetapi juga mengganggu emosi anak. Selain itu, tentunya Bunda akan merasakan ketidaknyamanan secara fisik. Sehingga, penyapihan secara bertahap menjadi metode yang direkomendasikan karena paling aman dan baik untuk semua pihak.

Dr Lalita Kanojiya menjelaskan bahwa kuncinya adalah mengidentifikasi 'pemberian ASI untuk kenyamanan' yang biasanya Bunda dapat memberikannya sebelum tidur atau saat tidur siang, dan secara bertahap gantikan dengan kebiasaan menenangkan lainnya.

Berikut ini beberapa langkah-langkahnya yang dapat Bunda lakukan:

1. Ganti pemberian ASI sebelum tidur dengan rutinitas lainnya. Cobalah untuk bercerita, memeluk, menyetel musik lembut, memijat punggung dengan lembut, atau menawarkan secangkir susu hangat.

2. Libatkan anggota keluarga lainnya seperti pasangan, kakek atau n enek, untuk membantu menidurkan Si Kecil. Karena saat anak-anak bersama orang lain, mereka tidak akan mengaitkan mereka dengan agenda menyusui.

3. Kurangi durasi menyusui secara perlahan. Bunda dapat mempersingkat setiap sesi menyusui secara bertahap daripada berhenti langsung sepenuhnya dalam satu hari.

4. Tawarkan makanan dan camilan sehat untuk mengurangi permintaan ASI berdasarkan rasa lapar Si Kecil.

Penting diingat bahwa menyapih secara mendadak dapat menimbulkan tekanan emosional bagi anak dan ketidaknyamanan bagi ibu. "Pendekatan bertahap adalah yang terbaik,” tambah Dr. Kanojiya.

Bunda yang berniat untuk menyapih sebaiknya juga bersikap konsisten sehingga tidak memberikan sinyal yang membingungkan anak. 

Salah satu kesalahan umum yang dilakukan sebagian ibu adalah mengalah sesekali. Misalnya, mengatakan tidak selama beberapa hari dan kemudian menyusui lagi ketika anak menangis berlebihan.

Sikap tersebut tentunya dapat membingungkan anak dan membuat penyapihan lebih sulit.  Untuk itu, setelah Bunda memutuskan untuk mengurangi pemberian ASI, tetaplah konsisten. Batasan yang lembut namun tegas membantu anak menyesuaikan diri lebih cepat.

Gangguan di siang hari seperti bermain di luar ruangan, aktivitas, dan rutinitas terstruktur juga dapat mengurangi ketergantungan emosional pada ASI.

Sebaiknya, tidak merasa bersalah dengan keputusan menyapih Si Kecil yang sudah berusia dua tahun lebih ya, Bunda. Sebab, banyak di luar sana para ibu yang merasa dihakimi karena menyusui terlalu lama atau karena ingin berhenti menyusui.

Tetapi penting diingat bahwa penyapihan merupakan keputusan pribadi. Dan, setiap anak memiliki pendekatan yang berbeda satu sama lain. Beberapa anak mungkin dengan mudah berhenti secara alami pada usia dua tahun, sementara yang lainnya melanjutkannya lebih lama.

Menurut Dr. Lalita Kanojiya, pendekatan yang tenang, sabar, dan penuh kasih dapat memastikan transisi yang lancar bagi ibu dan anak. Menyusui adalah ikatan yang indah, dan mengakhirinya tidak berarti mengakhiri kedekatan.

Seiring waktu, anak nantinya akan menemukan kenyamanan dalam pelukan, cerita pengantar tidur, dan kehadiran Bunda-nya, bukan hanya sekadar dalam agenda menyusui yang menjadikannya bonding dengan orang tuanya.

Semoga informasiinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda