MENYUSUI
Mengenal Kondisi PABC, Kanker Payudara yang Dapat Terjadi Selama atau Setahun Pasca Hamil
Indah Ramadhani | HaiBunda
Sabtu, 21 Mar 2026 08:20 WIBKanker payudara masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami oleh perempuan, bahkan setelah mereka melahirkan. Salah satu kanker payudara yang dapat terjadi setelah hamil adalah PABC.
Kondisi PABC memang tergolong langka, Bunda. Meski begitu, kondisi ini sangatlah kompleks dan tidak bisa disepelekan karena penanganannya harus mempertimbangkan kesehatan ibu serta keselamatan janin.
Agar Bunda semakin memahami apa itu kanker payudara PABC serta cara menanganinya, simak penjelasannya berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Seminars in Perinatology yang dilansir dari laman Science Direct berikut ini.
Apa itu kanker payudara PABC?
PABC merupakan kepanjangan dari Pregnancy-Associated Breast Cancer, yakni kanker payudara yang muncul saat kehamilan atau dalam waktu satu tahun setelah kehamilan. Menurut data dalam sebuah studi, setidaknya kanker ini dapat terjadi pada 1 dari 3.000 kehamilan.
Temuan ini terus berlanjut hingga para ahli memperkirakan kanker payudara PABC kemungkinan akan meningkat. Hal ini diduga berkaitan dengan meningkatnya angka kanker payudara pada perempuan usia muda serta kecenderungan perempuan menunda kehamilan.
Mirip dengan jenis kanker payudara lainnya, pada kanker payudara PABC jenis yang sering ditemukan adalah karsinoma duktal invasif. Pada banyak kasus, kanker ini juga memiliki tingkat keganasan yang lebih tinggi dibandingkan kanker payudara lain, seperti kanker triple-negatif.
Penyebab kanker payudara PABC
Sejauh ini, penelitian menganggap melahirkan dapat memberikan perlindungan terhadap kanker payudara. Ini dikarenakan pada akhir kehamilan terdapat proses diferensiasi sel pada jaringan payudara yang membuatnya tahan terhadap paparan yang menyebabkan kanker.
Namun, kini penelitian terbaru menunjukkan bahwa persalinan yang baru terjadi justru bisa meningkatkan risiko kanker payudara sementara. Fenomena ini dikenal sebagai dual effect atau efek ganda, Bunda.
Para peneliti menduga hal tersebut berkaitan dengan peningkatan hormon estrogen selama kehamilan yang merangsang pertumbuhan sel tumor. Risiko ini diketahui akan lebih tinggi pada perempuan yang mengalami kehamilan pertama di usia tua atau primigravida.
Selain itu, kanker PABC ini juga bisa disebabkan oleh keterlambatan dalam mendiagnosis kanker payudara. Pasalnya, gejala kanker PABC memang serupa dengan perubahan payudara selama kehamilan, hanya saja perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan kondisinya.
Cara mendeteksi kanker payudara PABC
Karena keterlambatan dalam mendeteksi kanker payudara menjadi penyebab utama, penting bagi Bunda untuk segera melakukan pemeriksaan apabila benjolan atau perubahan tidak biasa muncul dalam waktu lebih dari dua minggu.
Berikut beberapa metode yang disarankan para ahli dalam mendeteksi kanker payudara PABC:
1. Pemeriksaan fisik
Dalam studi tersebut, langkah awal untuk mendeteksi kanker payudara PABC biasanya diawali dengan pemeriksaan fisik menyeluruh, terutama pada area payudara, ketiak, serta kelenjar getah bening dan sekitarnya.
2. USG payudara
Biasanya penyedia layanan kesehatan akan merekomendasikan Bunda untuk melakukan USG payudara karena tidak menggunakan radiasi dan lebih aman untuk ibu hamil. Selain itu, USG juga memiliki sensitivitas yang tinggi dalam mendeteksi perubahan pada payudara.
3. Mamografi diagnostik
Mamografi diagnostik juga bisa dilakukan untuk membantu melihat benjolan, kalsifikasi, atau kondisi payudara lainnya. Meski terdapat paparan radiasi yang sangat kecil, pemeriksaan menggunakan metode ini biasanya diberi pelindung di area perut agar radiasi tidak berdampak pada janin.
4. Tes genetik
Selain pemeriksaan yang melibatkan radiasi, dokter biasanya juga akan menyarankan untuk menjalani tes genetik guna mendeteksi kemungkinan adanya mutasi gen yang berkaitan dengan kanker payudara, seperti gen BRCA1.
Bagaimana cara menangani kanker payudara PABC
Menurut para peneliti dalam studi tersebut, penanganan kanker payudara yang terjadi saat kehamilan memerlukan tim dari berbagai bidang yang melibatkan dokter onkologi, ahli bedah payudara, dokter kandungan, serta dokter spesialis ibu dan janin.
Dalam menjalani pengobatan kanker payudara PABC, beberapa faktor seperti usia kehamilan, stadium kanker, serta kondisi kesehatan ibu, menjadi perhatian khusus. Hal ini disebabkan karena boleh atau tidaknya metode pengobatan akan bergantung pada kondisi tersebut.
Berikut beberapa metode yang direkomendasikan ahli untuk menangani kanker payudara PABC:
1. Kemoterapi
Dokter tidak menyarankan pemberian kemoterapi di trimester kehamilan karena khawatir akan menyebabkan cacat lahir. Namun, pasien dapat bisa menjalani kemoterapi setelah memasuki trimester kedua dan ketiga. Obat kemoterapi yang relatif aman untuk kehamilan adalah golongan antrasiklin.
Umumnya terapi sistemik atau kemoterapi akan dihentikan sementara sekitar 3 sampai 4 minggu sebelum persalinan. Ini dilakukan untuk memulihkan sumsum tulang sehingga mampu mengurangi risiko ibu dan janin selama persalinan.
2. Mastektomi
Mastektomi atau operasi pengangkatan jaringan payudara dapat dilakukan di berbagai tahap kehamilan. Namun, biasanya dokter akan merekomendasikan mastektomi ketika trimester kedua. Selain mastektomi, operasi konservasi payudara juga menjadi pilihan, Bunda.
Mendapatkan diagnosis kanker ketika hamil tentu membuat situasi dan kondisi mental menjadi berubah secara drastis. Maka dari itu, selain perawatan medis, ibu juga membutuhkan dukungan kesehatan mental dan sosial, terutama dari orang terdekat.
Demikian informasi mengenai kanker payudara PABC yang bisa terjadi selama atau satu tahun setelah kehamilan, beserta cara menanganinya menurut ahli. Semoga bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Ibu Hamil Simpan Kolostrum Sebelum Bayi Lahir, Ini Kata Ahli
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Amankah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayi? Ini Kata Dokter
Kenali Perbedaan Tumor Payudara Jinak & Ganas, Busui Perlu Tahu
4 Jenis Tes Kesehatan Payudara dan Kisaran Biayanya, Simak Bun
Cara Bedakan Benjolan Payudara Akibat Masalah Menyusui dan Kanker
TERPOPULER
Dea Annisa Tampil Cantik Berhijab saat Honeymoon usai Nikah
Apa Itu COVID-19 PQ.16.1.1, Varian Baru yang Dipantau WHO
Cara Membuat Bola Ubi Kopong Anti Gagal, Renyah di Luar Lembut di Dalam
Cara Mengenali Orang yang Kesepian Secara Mental dan Emosional dari Obrolan Sehari-hari
Anak Jatuh dan Kepala Terbentur? Jangan Panik, Lakukan Ini Bun
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Scalp Serum untuk Mengatasi Ketombe dan Rambut Rontok
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Ide Hiasan 17 Agustus 2026 Kemerdekaan yang Unik dan Menarik
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Wajan & Panci untuk Kompor Listrik Induksi, Awet & Anti Lengket
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Susu UHT untuk Ibu Hamil
Amrikh PalupiREKOMENDASI PRODUK
7 Aksesori Anak untuk Karnaval Kemerdekaan 17 Agustus, Bikin Makin Gemas
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Potret Terbaru Zahra Mariam Bolkiah Anak Pangeran Mateen, Wajah Menggemaskan Curi Perhatian
Apa Itu COVID-19 PQ.16.1.1, Varian Baru yang Dipantau WHO
Dea Annisa Tampil Cantik Berhijab saat Honeymoon usai Nikah
Cara Membuat Bola Ubi Kopong Anti Gagal, Renyah di Luar Lembut di Dalam
Sejarah Respon Internasional terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Blender Bisa Berhenti Sendiri? Ketahui tentang Cosmos Blenz CB-812 GC 2 Liter
-
Beautynesia
3 Rutinitas Malam yang Bikin Wajah Glowing, Mudah Dilakukan!
-
Female Daily
Coba 6 Menu Spesial Hari Kemerdekaan di Bacha Coffee!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Silsilah Keluarga Ha Young Dianggap Problematik, Minta Maaf Lewat Surat
-
Mommies Daily
8 Rekomendasi Parfum Remaja Tahan Lama untuk Cuaca Panas, Awet Seharian