MENYUSUI
Kabar Baik, Penelitian Ungkap Menyusui Berpotensi Kurangi Risiko Gejala ADHD pada Anak
Melly Febrida | HaiBunda
Sabtu, 11 Jul 2026 08:55 WIBMenyusui tak hanya memberikan nutrisi terbaik pada bayi, tetapi juga kemungkinan berperan dalam perkembangan otaknya.
Sebuah penelitian di Norwegia menemukan bahwa bayi yang mendapat ASI eksklusif hingga usia 6 bulan cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada masa kanak-kanak.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak membuktikan ASI dapat mencegah ADHD secara langsung. Sebab, ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik dan lingkungan.
Mengapa menyusui dikaitkan dengan risiko gejala ADHD yang lebih rendah?
ASI adalah sumber nutrisi utama pada bayi. ASI secara unik disesuaikan kebutuhan anak dan mengandung banyak komponen yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan otak. Termasuk asam lemak rantai panjang, asam amino, antibodi, dan bakteri baik.
Penelitian dari University of Bergen, Norwegia, menunjukkan adanya hubungan antara pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan dengan risiko gejala ADHD yang lebih rendah pada anak usia tiga hingga delapan tahun.
Penelitian ini melibatkan sekitar 37.600 keluarga yang mengikuti Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa).
Dalam penelitian tersebut, para ibu mengisi kuesioner mengenai lama pemberian ASI eksklusif, ASI parsial, serta kapan bayi mulai menerima makanan atau minuman selain ASI. Selanjutnya, peneliti membandingkan data tersebut dengan gejala ADHD yang muncul saat anak berusia tiga, lima, dan delapan tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama bayi mendapatkan ASI eksklusif, hingga usia enam bulan, semakin rendah pula tingkat gejala ADHD yang dilaporkan pada masa kanak-kanak.
Para ilmuwan telah lama tertarik mempelajari bagaimana menyusui memengaruhi perkembangan otak dan sistem kekebalan tubuh bayi. Karena itu, Solberg dan tim meneliti apakah lamanya pemberian ASI juga berkaitan dengan munculnya gejala ADHD pada anak.
"Kami menemukan bahwa semakin lama seorang anak disusui secara eksklusif hingga enam bulan, semakin rendah tingkat gejala ADHD pada usia tiga, lima, dan delapan tahun," kata psikiater sekaligus peneliti Berit Skretting Solberg dari University of Bergen, dikutip dari EurekAlert.
Meski mekanismenya belum diketahui secara pasti, para peneliti menduga kandungan nutrisi dalam ASI, seperti asam lemak rantai panjang dan berbagai komponen bioaktif lainnya, berperan dalam mendukung perkembangan sistem saraf sehingga dapat memengaruhi kesehatan neuro perkembangan anak.
Peneliti sudah mempertimbangkan faktor genetik
Salah satu tantangan dalam penelitian ADHD adalah besarnya pengaruh faktor keturunan. Peneliti menjelaskan bahwa ibu yang memiliki gejala ADHD cenderung menyusui lebih singkat.
Di sisi lain, bayi yang kelak menunjukkan gejala ADHD juga dapat mengalami kesulitan saat proses menyusui. "Ini mungkin sebagian menjelaskan hubungan antara pemberian ASI yang lebih rendah dan peningkatan gejala ADHD pada anak-anak," kata Solberg.
Untuk mengurangi pengaruh faktor tersebut, peneliti melakukan penyesuaian terhadap risiko genetik ADHD, kondisi sosial ekonomi, hingga analisis pada saudara kandung dalam keluarga yang sama.
"Hasilnya tetap menunjukkan adanya efek perlindungan yang jelas, meskipun bersifat sedang, dari lamanya pemberian ASI eksklusif terhadap gejala ADHD di kemudian hari," ujar Solberg.
Apakah ASI bisa cegah ADHD?
Hasil penelitian memang menunjukkan adanya hubungan antara lamanya pemberian ASI eksklusif dan gejala ADHD yang lebih rendah. Namun, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum membuktikan hubungan sebab akibat.
Solberg menjelaskan bahwa ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi banyak faktor. Selain faktor genetik, kondisi lingkungan, pola asuh, hingga berbagai faktor selama kehamilan dan masa awal kehidupan juga dapat berperan.
"Seperti studi observasional lainnya, sulit untuk menarik kesimpulan yang pasti mengenai hubungan sebab akibat," ujar Solberg.
Meski demikian, ia menilai hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor selain genetik kemungkinan juga berkontribusi terhadap risiko ADHD.
"Dalam masyarakat kita, faktor keturunan kemungkinan merupakan faktor risiko terkuat ADHD. Namun, studi kami menunjukkan bahwa lamanya menyusui juga dapat membantu melindungi terhadap perkembangan gejala ADHD pada anak kecil," kata Solberg.
Karena itu, para peneliti menilai masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan bagaimana ASI dapat memengaruhi perkembangan otak dan apakah hubungan tersebut benar-benar bersifat kausal.
Tetap semangat, Bunda. Setiap tetes ASI adalah bentuk kasih sayang terbaik untuk Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Bayi Menyusu Lama tapi Berat Tak Naik, Kenapa?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Studi: Menyusui Minimal 4 Bulan, Kunci Lindungi Anak dari Risiko Asma
Studi Temukan Anak-anak yang Tidak Dapati ASI Eksklusif Lebih Rentan Pubertas Dini
Benarkah Menyusui Eksklusif Bikin Ibu Kurang Tidur? Simak Faktanya
3 Cara Mudah Menjaga Kenaikan Berat Badan Bayi yang Diberi ASI Eksklusif
TERPOPULER
Kaba Anak Zaskia Adya Mecca Jalani Operasi Hidung karena Radang dan Alergi
Jarang Disadari, Ini 10 Ciri Kepribadian Orang Tulus & Baik Hati Menurut Psikologi
Korban Keracunan MBG di Jawa Timur Capai 664 Siswa, Begini Kondisinya Saat Ini...
Seberapa Aman Minyak Jarak untuk Bayi? Ketahui Manfaat hingga Risikonya
Kisah Syahrini Kenang Pengalaman Alami Keguguran Dua Kali, Salah Satunya Kembar
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Tanah Liat Terbaik, Cocok untuk Dapur Rumahan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lulur untuk Kulit Cerah, Halus, dan Glowing
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi AC 1/2 PK Inverter Low Watt, Bagus dan Hemat Listrik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Portable Solar Generator untuk Cadangan Listrik di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Stiker Label Nama Buku Tulis & Pelajaran yang Aesthetic hingga Lucu
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Fakta di Balik Foto Baby Bump Zendaya yang Viral dan Picu Rumor Hamil
Kaba Anak Zaskia Adya Mecca Jalani Operasi Hidung karena Radang dan Alergi
Seberapa Aman Minyak Jarak untuk Bayi? Ketahui Manfaat hingga Risikonya
Korban Keracunan MBG di Jawa Timur Capai 664 Siswa, Begini Kondisinya Saat Ini...
Jarang Disadari, Ini 10 Ciri Kepribadian Orang Tulus & Baik Hati Menurut Psikologi
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Parfum Hermes Terre Klasik Ini Versi Lebih Intens, Apa Bedanya dari Formula Aslinya?
-
Beautynesia
5 Barang yang Sebaiknya Tidak Dipinjamkan ke Orang Lain
-
Female Daily
Mencoba Tren Anti-Blush. Apakah Cocok di Kulit Light Medium?
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Sinopsis Moonfall di Bioskop Trans TV Hari Ini, Dibintangi Halle Berry
-
Mommies Daily
Jangan Langsung Murka saat Tahu Anak Sering Bohong, Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya