MENYUSUI
5 Fakta dan Mitos Seputar Mastitis, Peradangan di Payudara yang Bisa Ganggu Proses Menyusui
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Sabtu, 08 Aug 2026 10:40 WIBMastitis adalah peradangan di payudara yang dapat dialami ibu menyusui. Kondisi ini tak hanya menyebabkan nyeri, bengkak, dan rasa tidak nyaman pada payudara, tetapi juga bisa mengganggu proses menyusui.
Menurut dokter dan konselor menyusui dr. Anastasia Lilian, S, CBS, IBCLC, mastitis rentan terjadi kurang dari satu hingga dua bulan pertama sejak bayi lahir. Penyebabnya bisa karena Bunda yang sedang beradaptasi dengan perubahan usai melahirkan.
"Risiko rentan terjadi kurang lebih satu atau dua bulan pertama setelah lahir. Ibunya masih belajar, baby-nya belajar, jadi masih perlu adaptasi waktu. Ibu belum bisa membedakan pelekatan dan posisi optimal, dan jadwalnya seperti apa juga belum jadi rutinitas," ujar Anastasia, dalam Exclusive Media Interview RS Pondok Indah Group via Zoom, Selasa (4/8/26).
Penting bagi Bunda untuk mengenali mastitis sejak sebelum melahirkan. Memahami penyebab dan gejala mastitis dapat mengurangi risiko terjadinya peradangan sekaligus lebih siap mengatasinya jika kondisi ini muncul selama masa menyusui.
Ada fakta dan mitos terkait mastitis yang perlu Bunda ketahui. Simak penjelasannya berikut ini ya!
Fakta dan mitos tentang mastitis selama menyusui
Berikut fakta dan mitos tentang mastitis yang perlu Bunda ketahui sebelum dan selama menyusui Si Kecil:
1. Mastitis dapat terjadi secara berulang
Mastitis berulang adalah fakta. Anastasia mengatakan bahwa mastitis berulang bisa terjadi karena beberapa penyebab, yakni pengosongan payudara yang tidak sempurna karena posisi pelekatan menyusui yang salah dan jadwal pengosongan payudara yang tidak tepat.
"Pengosongan payudara tidak sempurna bisa terjadi karena posisi pelekatan tidak benar, sehingga menyebabkan lecet. Kalau terluka di kulit, maka ada risiko bakteri masuk lewat lecet itu," kata Anastasia.
"Selanjutnya, jadwal pengosongan payudara tidak tepat, harusnya dilakukan tiap dua hingga tiga jam, lalu tiba-tiba terlewat satu sesi dengan jeda yang jauh. Itu akan menumpuk dan menyebabkan bengkak dan rawan terjadi clogging dan mastitis.
Selain masalah pengosongan payudara, mastitis juga dapat dipicu oleh kondisi emosional. Bunda yang mengalami stres rentan terkena infeksi mastitis.
"Lalu, ibu dalam kondisi emosional sedang stres, juga bisa terpengaruh ke imunitas, jadi lebih gampang terkena infeksi saat menyusui. Itu biasanya yang menyebabkan mastitis berulang," ungkap Anastasia.
2. Gejala mastitis sulit dikenali
Gejala mastitis sebenarnya sama sekali tidak sulit dikenali, Bunda. Menurut Anastasia, gejala mastitis cukup khas, yakni munculnya nyeri di salah satu payudara dan disertai demam.
"Gejala mastitis itu produksi ASI turun, adanya kemerahan, bengkak, dan nyeri di satu payudara, serta demam, menggigil, atau meriang," ungkap Anastasia.
"Kalau hanya demam tapi payudara enggak ada lecet, merah, dipegang nyaman, menyusui masih oke, dan produksi tidak berubah, kita enggak mengarah ke mastitis, itu bisa karena infeksi saluran pernapasan, pencernaan, dan lainnya."
3. Mastitis yang tidak ditangani bisa menjadi abses
Bunda yang mengalami mastitis perlu secepatnya mendapat penanganan medis. Bila dibiarkan, mastitis bisa berubah menjadi abses payudara, yakni kondisi benjolan di payudara yang berisi nanah.
"Payudara harus segera dikosongkan pada mastitis, kadang perlu diberikan antibiotik kalau sudah infeksi," kata Anastasia.
"Setelah penanganan 24 hingga 48 jam tidak kunjung membaik, malah ada benjolan besar, ditekan ada cairan, dan lebih nyeri, kita dapat curiga ke arah abses. Itu ada dua kemungkinan penanganan, yakni antibiotik diganti dan dilihat apakah ada perubahan perbaikan, atau kalau tidak dapat dirujuk ke spesialis bedah untuk USG. Kalau abses berat, itu bisa di-drainase, atau insisi," lanjutnya.
4. Penanganan mastitis bisa dengan kompres air hangat dan daun kol
Kompres hangat dan dingin dapat digunakan saat Bunda terkena mastitis. Namun, penggunaannya di waktu yang berbeda.
Menurut Anastasia, kompres atau mandi air hangat dapat dilakukan sebelum menyusui atau pumping. Sementara itu, kompres dingin dengan daun kol bisa diterapkan usai menyusui.
"Mandi air hangat bisa membantu melancarkan aliran asi, dengan melebarkan pembuluh-pembuluh darah di saluran ASI agar rileks. Cara ini boleh dilakukan saat payudara tidak ada rasa nyeri," kata Anastasia.
"Kalau ada nyeri, kompres sebaiknya di-setop dan fokus ke kompres dingin dengan daun kol. Cara ini biasanya dilakukan setelah menyusui atau pumping untuk mengurangi bengkak, radang, dan nyeri," lanjutnya.
5. ASI yang tercampur darah karena mastitis tetap bisa diberikan ke bayi
Kunci dari penanganan mastitis adalah tetap menyusui atau memberikan ASI ke bayi. Rasa ASI yang keluar saat terjadi mastitis memang dapat berbeda. Namun, ASI ini masih dianggap aman untuk diberikan ke Si kecil.
"Komposisi ASI saat mastitis memang bisa terasa asin. Tapi, tidak apa-apa untuk dikonsumsi oleh bayi dan tetap bermanfaat, jadi ini tidak beracun. Pada saat mastitis, justru disarankan untuk direct breastfeeding," ujar Anastasia.
Hal yang sama juga berlaku pada ASI yang bercampur dengan darah. Bunda tetap bisa memberikannya ke anak tanpa harus takut kandungannya berubah. "Kalau ASI ada darah juga boleh diberikan ke baby-nya," ungkap Anastasia.
Demikian fakta dan mitos seputar mastitis selama menyusui. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
Blind Ranking, Seberapa Challenging Jadi Bunda Menyusui
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
3 Kondisi yang Terjadi Jika Mastitis Tidak Segera Ditangani
3 Obat Alami untuk Atasi Mastitis yang Menyakitkan Bagi Ibu Menyusui
Malas Pompa ASI, Citra Kirana Dilarikan ke Rumah Sakit karena Mastitis
7 Gejala Mastitis Ibu Menyusui, Menggigil hingga Payudara Terasa Terbakar
TERPOPULER
Catat Bun, Ini 7 Karakter Orang yang Senang Mengakses Berita Menurut Psikolog
5 Desa Paling Bahagia di Dunia, Destinasi Ternyaman untuk Liburan
Ciri Orang EQ Rendah dari Kebiasaan Sehari-hari
Cara Membuat Ayam Bakar yang Enak dan Meresap, Bumbunya Nendang sampai ke Dalam
5 Fakta dan Mitos Seputar Mastitis, Peradangan di Payudara yang Bisa Ganggu Proses Menyusui
REKOMENDASI PRODUK
7 Antena TV Digital Terbaik untuk Daerah Susah Sinyal, Mulai dari Rp80 Ribuan!
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Hospital Bag untuk Melahirkan, Aman dan Muat Banyak
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Plump Lip Oil yang Sedang Tren, Bikin Bibir Tampak Lebih Penuh dan Berkilau
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Kostum Pawai Tema Kemerdekaan 17 Agustus yang Unik & Seru untuk Anak Laki-laki & Perempuan
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Merek Bantal Tidur Hotel yang Bagus
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Catat Bun, Ini 7 Karakter Orang yang Senang Mengakses Berita Menurut Psikolog
5 Desa Paling Bahagia di Dunia, Destinasi Ternyaman untuk Liburan
Jangan Sembarangan Bun, Ini Cara Aman & Efektif Atasi Wajah Berjerawat saat Hamil
Pilihan Bunda Awards Kembali Hadir, Saatnya Bunda Vote dan Bawa Pulang Hadiah!
5 Fakta dan Mitos Seputar Mastitis, Peradangan di Payudara yang Bisa Ganggu Proses Menyusui
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
iPhone 15 buat Konten Kreator, Kameranya Beneran Bisa Diandalkan?
-
Beautynesia
4 Cara Mengatasi Rambut Rontok
-
Female Daily
Monica Ivena Rayakan 15 Tahun Perjalanan dengan SPECTRUM, Sebuah Perayaan atas Beragam Dimensi Perempuan
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Ramalan Zodiak 8 Agustus: Aries Harus Tegas, Gemini Dengarkan Saran
-
Mommies Daily
7 Ide Prakarya HUT RI dari Barang Bekas untuk Anak, Mudah Dibuat, Murah, dan Ramah Lingkungan