menyusui

Tujuh Langkah Ini Bantu Ibu Menyapih si Kecil dengan Cinta

Amelia Sewaka 13 Feb 2018
Tujuh Langkah Ini Bantu Ibu dalam Proses Menyapih si Kecil dengan Cinta/ Foto: Thinkstock Tujuh Langkah Ini Bantu Ibu dalam Proses Menyapih si Kecil dengan Cinta/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Menyapih memang butuh kesiapan kita sebagai bundanya dan si kecil ya, Bun. Kalau kita dan suami sudah sepakat untuk menyapih si kecil karena dirasa sudah cukup besar, maka baiknya pakai cara-cara penuh cinta buat menyapihnya.

Istilahnya weaning with love (WWL). Jadi ketimbang kita mengolesi sesuatu di puting sehingga rasanya aneh ketika si kecil menyusu, ada pilihan lainnya yang lebih penuh cinta lho, Bun.

Nah, ketika masa penyapihan si kecil tiba, bisa nih kita terapkan tujuh tips dari Mia Saadah, seorang konselor laktasi.

1. Beri Cukup Waktu

Memberikan waktu yang cukup (tidak tiba-tiba) dan bertahap membuat proses penyapihan berjalan dengan tanpa melukai perasaan siapapun. Bagi anak, memberikan waktu yang bertahap membuat ia cukup mengerti situasi yang terjadi.

"Bisa kita bayangkan aktivitas menyusu yang sebelumnya berjalan begitu sering, rutin, dan intim, secara tiba-tiba harus dihentikan oleh ibu, pasti tidak menyenangkan dan mungkin akan menjadi semakin tidak ingin berhenti,' papar Mia dalam Kuliah WhatsApp bersama BC January 2016 beberapa waktu lalu.

Karena itu, memberi waktu yang bertahap dan cukup akan dapat mengatasi hal ini. Jika dalam proses penyapihan ini payudara ibu terasa tidak nyaman, misalnya jadi over supply dan sedikit bengkak, maka perah secukupnya saja sampai kondisinya lebih nyaman. Memerah sebagaimana biasanya malah membuat supply ASI terus terjaga.

2. Siasati Waktu Makan

"Pada pagi hari misalnya, bangunlah lebih pagi dari anak, siapkan makan pagi, sehingga saat anak bangun dapat diajak untuk sarapan bersama dan lupa untuk menyusu," kata konselor Pemberian Makanan Bayi dan Anak ini.

Pada siang hari, alihkan perhatian anak dari menyusu dengan banyak beraktivitas dan makan siang yang bervariasi. Misalnya tawarkan membuat makanan lalu menikmatinya bersama. Jika pun anak tetap meminta menyusu,buatlah perjanjian misalnya boleh menyusu setelah makan siang selesai.

3. Tetap Ajak Bicara

Anak-anak dapat mengerti apa yang disampaikan orang tua sekalipun ia tidak dapat semudah itu mengutarakannya.

"Percayalah, ia lebih pandai dari yang kita kira. Jadi tetap sampaikan bahwa semakin hari ia tumbuh semakin besar dan anak-anak yang sudah beranjak besar tidak lagi butuh susu ibu," papar Mia.

Walau begitu, tetap sampaikan dengan suasana yang penuh kemesraan dan kelembutan, sehingga anak tetap merasa disayangi walau aktivitas menyusu itu dihentikan suatu saat nanti. Saat menyampaikan tentang hal ini, ibu dan ayah atau keluarga bisa menyampaikan dengan buku cerita, boneka, atau apa saja, yang penting disampaikan dengan gembira, sehingga anak juga lebih bisa menerima informasinya dengan baik.



4. Batasi Waktu Menyusu

Jika kita terbiasa memberikan ASI sampai anak tertidur, dalam proses penyapihan kita dapat mulai memberikan batas waktu menyusu pada anak.

"Misalnya dengan 'oke, waktunya kita main'. 'Sudah yuk nenennya, kita kan mau jalan-jalan'. Biasanya anak-anak pada usia toddler sudah bisa dialihkan dengan aktivitas lain yang terdengar sama menyenangkannya dengan menyusu," ungkap wanita yang juga instruktur pijat bayi bersertifikat internasional (Certified Infant Massage Instructor) ini.

5. Menyiasati Menyusu dan Waktu Tidur, serta Menyusu Malam Hari

Umumnya, ketika proses menyapih, menyusu menjelang waktu tidur dan menyusu di malam hari seringkali dikeluhkan sebagai tahapan yang paling sulit dilalui. Untuk itu, amati waktu-waktu anak tertidur, dan sesuaikan waktu makan tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dari waktu tidur.

Selain itu, buat anak nyaman dengan aktivitas lain selain menyusu. "Misalnya membelainya sambil bernyanyi, membacakan cerita, atau sekedar membiarkannya memeluk dada ibu tanpa perlu menawarkan menyusu," papar Mia.

Untuk terbangun di malam hari, saatnya sang ayah atau anggota keluarga yang dekat dengan anak yang membantu mengatasi hal ini dengan menenangkannya dan atau menawarkan ASI perah atau air minum.

"Kalaupun anak tetap meminta ibunya yang menenangkan, peluk dan tenangkan beri kenyamanan tanpa menawarkan untuk menyusu. Lambat laun kita akan melihat perubahan dan sikap penerimaan anak pada momen-momen ini," ungkap konselor yang kini tinggal di Swiss.

6. Ubah Kebiasaan Berpakaian Ibu dan Kegiatan Rutin Anak

Jika ibu terbiasa memakai baju-baju menyusui, maka pada proses menyapih, ibu dapat mulai kembali berpakaian yang tidak khusus untuk ibu menyusui.

"Mulai kembali memakai pakaian yang tidak terlalu memudahkan akses anak kepada payudara. Juga hindari untuk tidak berpakaian dihadapan anak, selain mengajarkan kesopanan, juga membantu anak tidak melihat langsung payudara ibu dan ingat untuk menyusu," imbuh Mia.

Selain itu, ibu juga bisa sedikit mengubah rutinitas anak dengan menambah kegiatan-kegiatan baru, misalnya mengajaknya ke tempat bermain, bermain bersama tetangga, mengunjungi rumah saudara, berenang atau olahraga bersama, dan lain-lain. Diharapkan dengan mengubah kegiatan rutin ini, anak menjadi lupa ia perlu menyusu dan kalaupun lapar dan haus ia akan memilih makan dan minum saja.

7. Tetap penuhi kebutuhan anak untuk mengisap

Karena terbiasa menyusu, maka anak-anak pun terkadang tetap senang dengan kegiatan mengisap atau "sucking". "Mulai kenalkan anak pada botol minuman saat minum jus, air putih, atau asi perah. buat es loli dari ASIP, yogurt, atau buah segar," kata Mia.

Beri ia waktu sesuai kesiapannya juga untuk benar-benar tidak menyusu pada ibu.

(aml/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi