MOM'S LIFE

Kasus Ini Bisa Jadi Pelajaran Kita Saat Hendak Beli Rumah

Amelia Sewaka 25 Apr 2018
Kasus Ini Bisa Jadi Pelajaran Kita Saat Hendak Beli Rumah/ Foto: Thinkstock Kasus Ini Bisa Jadi Pelajaran Kita Saat Hendak Beli Rumah/ Foto: Thinkstock
Frimley, Inggris - Sudah senang-senang sekeluarga pindah ke rumah impian, tapi ternyata bau selokan masuk ke dalam rumah. Duh, mengganggu dan merasa rugi jadinya.

Hal ini dialami keluarga pasangan Mark dan Rhian Buller yang baru saja membeli rumah seharga Rp 13 miliar di Surrey. Setelah pindah ke rumah barunya, keluarga ini kemudian mencium bau yang nggak wajar di sekitar taman rumah mereka. Ternyata mereka menemukan 15 saluran limbah yang bersumber di rumah mereka. Nggak cuma itu, sumber limbah ini juga jadi pusat pembuangan limbah di perumahan tempat mereka tinggal.

Mark and Rhian mengatakan karena bau tersebut mereka harus menutup jendela dan pintu rumah rapat-rapat sepanjang waktu, walaupun dalam cuaca cerah sekalipun. Mereka juga harus menjaga anak-anaknya Emily (12), Thomas (9), dan Holly (4) agar nggak bermain di luar rumah.



Linden Homes, pemilik properti rumah tersebut bersikeras bahwa keluarga Buller membeli rumah tersebut tepat setelah semua sistem pembuangan atau saluran kotoran sudah dirapikan. Merasa ditipu, keluarga Buller pun mengambil tindakan dengan menuntut dan berkampanye memperingatkan orang lain untuk tidak membeli rumah pada pemilik properti Linden Homes.

Membeli rumah di Frimley sebenarnya di luar rencana Mark. Dia dan istrinya, cuma mempelajari lokasi rumahnya di bulan Juni 2016.

"Ini konyol karena semua area berbau busuk. Anak-anak bahkan tak bisa bermain di luar walaupun cuaca bagus. Kita juga tak bisa membawa tamu ke rumah karena di sini sangat bau. Siapa juga yang tahan dan bertamu kalau keadaannya begini," kata Mark dilansir The Sun.

Mark berkata bahwa dia tidak akan pernah membeli rumah ini jika tahu ada saluran pompa limbah di bawahnya, dengan total 15 lubang. Belum lagi 11 di antara saluran itu berada di kebun depan.

"Kami terombang-ambing di sini. Pemilik properti datang ke sini dan membersihkan kotorannya tapi faktanya baunya tak kunjung hilang bahkan memburuk kecuali jika pompa tersebut dikeluarkan dari kebun saya," kata Mark.

Karena keluhannya yang sebanyak 15 kali tidak digubris Mark pun mengambil tindakan sendiri dengan memasang spanduk di bagian depan rumah sebagai peringatan untuk calon pembeli lain agar tidak tertipu seperti dirinya dan keluarga. Bahkan ia memarkir mobil di depan pintu masuk kontraktor untuk menarik perhatian.



"Saya mulai mengambil langkah hukum tapi ini sudah terlalu lama dan menghabiskan banyak uang. Linden Homes tentu saja tidak rugi apapun karena mereka punya pengacara khusus, sedangkan saya harus membayar sendiri kasus ini," tutur Mark.

Seorang juru bicara Linden Homes membantah tuduhan dari keluarga Bullet dan berkata pompa tersebut jika ada bisa saja terlihat.

"Ketika keluarga Buller membeli properti pada tahun 2016, rumah itu sudah selesai direnovasi dan dengan kotak kontrol untuk saluran pembuangan," kata juru bicara tersebut seperti dikutip dari Daily Mail.

Juru bicara tersebut melanjutkan, kesalahan soal pompa baru-baru ini tentunya menarik perhatian mereka dan sudah diperbaiki pada 16 April lalu. Sejak memperbaiki pompa, keluarga Buller memberi tahu pihak Linden Homes bahwa ada bau dari lubang-lubang kebun belakangnya.

"Kami memahami, mungkin baunya berasal dari pembangunan yang berdekatan dengan saluran pembuangan dan ini sedang diselidiki oleh Air Thames," tutup sang juru bicara.

Hmm, apa yang dialami keluarga Buller bisa jadi pelajaran buat kita agar lebih berhati-hati dan lebih detail jika hendak membeli sesuatu, apalagi rumah, tempat yang akan kita tinggali selamanya ya, Bun. Memang properti rumah adalah salah satu investasi yang menjanjikan ya, Bun. Setiap tahun harganya bisa naik secara signifikan. Setiap orang pasti mendambakan mempunyai tempat tinggal begitu juga untuk pasangan yang baru saja menikah.

Rendahnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang saat ini berada di level 4,25 persen dinilai menjadi saat yang tepat untuk mengambil kredit pemilikan rumah (KPR). Hal ini karena bank dalam memberikan bunga KPR akan mengacu kepada bunga yang ditetapkan oleh bank sentral.



Hal apa saja yang harus diperhatikan dalam mengambil KPR? Berikut tipsnya dari perencana keuangan Eko Endarto.

Pertama, membeli rumah menggunakan skema KPR harus memperhatikan lokasi. Lokasi rumah juga harus disesuaikan dengan kemampuan membayar uang muka (down payment/DP) dan cicilan setiap bulannya.

"Jangan sampai dapat lokasi yang bagus dekat tempat kerja dan pusat kota tapi tidak sesuai dengan kemampuan bayar, jangan sampai mengganggu arus keuangan yang lain," kata Eko dikutip dari detikFinance.

Kedua, jika rumah pertama yang dibeli, maka pengambil KPR jangan memikirkan bunga, yang harus dipikirkan adalah mampu membayar. Ketiga, sistem KPR syariah bisa lebih menguntungkan daripada KPR konvensional. Pasalnya pada KPR syariah sudah memiliki perjanjian bagi hasil di awal. Selain itu, KPR syariah pada akad tertentu menggunakan angsuran yang flat sampai perjanjian berakhir. (rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi