MOM'S LIFE

Penyesalan Joanna Alexandra Mengingat 'Kenakalan' Bersama Suami

Annisa Karnesyia Kamis, 07 Feb 2019 - 18.59 WIB
Joanna Alexandra/ Foto: Yuni Ayu Amida Joanna Alexandra/ Foto: Yuni Ayu Amida
Jakarta -
Keteguhan hati Joanna Alexandra untuk terus mendampingi anak keempatnya, Ziona Eden Alexandra, memang tidak dapat digambarkan. Zio, yang saat ini berusia 20 bulan, didiagnosa mengidap campomelic dysplasia (CMD).

Saat mengenang momen setelah melahirkan Zio, Joanna bercerita, dia sempat menyalahkan diri sendiri ketika mengetahui kelainan pada putrinya.

"Waktu dia baru lahir dan waktu lihat Zio kakinya bengkok, harus masuk NICU, langsung berpikir, 'Hayo habis bikin dosa apa lo?'," ungkap Joanna, saat berbincang eksklusif bersama HaiBunda.

Tapi, kemudian Joanna mulai membuka pikirannya dan berbagi dengan sang suami, Raditya Oloan Panggabean. Joanna mengaku sering cerita tentang perasaannya terkait putri bungsunya.

Keduanya pun sepakat untuk bersatu dan berpikir positif bahwa Tuhan sudah mengampuni dosanya yang dahulu, dan menganggap ini sebagai sebuah berkat. Joanna dan sang suami meyakini, mereka sanggup melalui level kehidupan ini, dimana harus merawat dan membesarkan Zio dengan baik.


Ditanya soal penyesalan terbesaranya dalam hidup, Joanna kembali mengenang kenakalannya dulu saat remaja, yang membuatnya hamil sebelum menikah. Ia pun harus menjalani pernikahan di usia 20 tahun.

Meskipun begitu, Joanna dan sang suami memutuskan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Saat ini, dia merasa bahagia dengan pernikahan dan keluarganya, termasuk memiliki empat anak yang salah satunya mengidap penyakit langka.

"Aku benar-benar bahagia dan bersyukur banget dengan keadaan aku sekarang. Tapi, ya bukan berarti kita harus bandel dulu terus menjadi seperti ini," imbuhnya.

Meskipun begitu, Joanna juga merasa cemas kalau anak-anaknya akan menjadi seperti dia dulu. Tapi, Joanna dan suami mencoba untuk berserah kepada Tuhan. Yang terpenting baginya adalah menanamkan rasa kasih sayang pada keempat anaknya, Zurile Paris Jedidiah (11 tahun), Zeraiah Moria Phinehas (8), Zoey Havilah Salajena (3), dan Ziona.

"Aku dan suami saat ini sedang mempraktikkan sebisa mungkin ketika mereka di rumah, kita cekokin mereka dengan kasih. Mereka harus tahu banget kalo mereka itu di sayang sama orang tuanya, kalau orang tuanya itu peduli sama mereka," ujarnya.

Joanna meyakinkan jika apapun yang terjadi dia dan suami akan tetap sayang dengan anak-anaknya meskipun mereka berbuat salah. Harapannya, jika anak-anaknya nanti berbuat salah di luar, mereka akan punya alasan untuk kembali ke rumah dan cerita ke orang tuanya.

Ya, meskipun menyimpan masa lalu yang kelam, Joanna kini sudah berubah menjadi orang tua yang baik, dengan selalu memberi kasih sayang dan bisa dijadikan role model oleh keempat anaknya.


Psikolog klinis Lisa Firestone, Ph.D. mengungkapkan bahwa menjadi role model jauh lebih baik daripada menerapkan peraturan-peraturan khusus dalam membesarkan anak, Bun. Anak-anak mengembangkan perilaku dengan mengamati orang tua mereka dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Lisa, setiap perilaku yang dilakukan Ayah dan Bunda haruslah baik karena anak-anak akan menirunya.

"Kejujuran dan kedewasaan kita jauh lebih penting dalam menentukan perkembangan anak-anak daripada teknik apa pun yang dilakukan oleh para ahli pengasuhan anak," ungkap Lisa, dikutip dari Psychology Today.

Selain itu, menurutnya, tidak hanya Ayah Bunda saja yang bisa menunjukan rasa cinta dan kasihnya pada anak. Anak juga sering lho menunjukkannya pada Ayah Bunda. Nah, sebagai orang tua, kita juga harus bisa merasakan perasaan cinta anak-anak kepada kita. Orang tua perlu belajar untuk menerima ekspresi spontan rasa kasih sayang itu agar mereka tidak menderita secara emosional.

[Gambas:Video 20detik]

(ank/muf)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi