mom-life

Aku Berusaha Bersyukur Demi Anakku yang Mengalami ADHD

Amelia Sewaka Selasa, 18 Sep 2018 12:25 WIB
Aku Berusaha Bersyukur Demi Anakku yang Mengalami ADHD
Jakarta - Seorang ibu bernama Retno Ardan harus bolak-balik Jakarta-Bandung. Sebab, putranya Naufal Rizky Muhammad yang didiagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) saat umur 2 tahun ikut dalam sekolah seni sekaligus diterapi di sana. Memang berat, namun Retno berusaha tetap bersyukur dengan apa yang dia miliki.

Naufal adalah anak kedua Retno. Sebelumnya, Retno melahirkan anak pertama yang mengidap down syndrome dan meninggal di usia 1 tahun 8 bulan. Tak patah arang, Retno tetap mengasuh Naufal dengan penuh kasih sayang dan menyekolahkannya di sekolah seni terapi di Art Therapy Center (ATC) Widyatama.

"Setelah diketahui Naufal anak 'spesial' saya langsung terapikan. Pernah sekolah di sekolah umum tapi ortu murid lain yang nggak nerima, ya namanya anak seperti ini kan suka iseng, jahil, mainin rambut temannya," tutur Retno saat ngobrol dengan HaiBunda.


Retno yang berprofesi sebagai Dosen di Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN), Bintaro, awalnya memasukkan Naufal ke sekolah berkebutuhan khusus bernama Spectrum di sekitaran Bintaro hingga tingkat sekolah menengah atas. Hampir lulus, Retno dianjurkan salah satu guru supaya Naufal diterapi di ATC Widyatama. Akhirnya masuklah Naufal ke ATC Widyatama dengan jurusan yang disukai yaitu musik.
Aku Berusaha Bersyukur Demi Anakku yang Mengalami ADHDFoto: Dok. Pribadi


"Naufal suka mainin tuts piano, tapi dia juga suka gambar. Akhirnya, saya masukkan dia ke jurusan musik dan kursuskan privat gambar dengan guru yang ada di ATC juga biar kemampuan bermusik sama menggambarnya dapat," papar Retno.

Retno yang kini menjadi ketua Ikatan Orang Tua di ATC Widyatama mengatakan sangat tak mudah awalnya mencari tahu bakat Naufal. Bayangkan, Bun, saat les lukis pertama kali anaknya kabur-kaburan dan saat story telling malah lari. Namun, ketika dikursuskan piano akhirnya Naufal anteng karena dia senang memencet-mencet tuts piano.

Kini Naufal juga senang banget memukul drum. Bisa dibayangkan perjuangan yang Retno lakukan demi anak ya, Bun. Walaupun begitu, Retno tetap merasa bersyukur, apalagi jika Naufal menunjukkan perubahan sedikit demi sedikit.
Aku Berusaha Bersyukur Demi Anakku yang Mengalami ADHDFoto: Dok. Pribadi
"Ya, lebih bersyukur dan kita jadi lebih bersabar sih. Bersyukur dan yakin banget tiap anak ada rezekinya," tutur Retno.

Retno dan suaminya bekerja sama untuk memberi yang terbaik buat Naufal. Salah satunya mereka nggak segan mengajak Naufal ke acara kantor bahkan ketika bekerja. Retno ingat banget pesan orang tuanya, saat dititipkan sesuatu bukan berpikir bagaimana cara kita memolesnya untuk berubah, tapi gimana caranya barang tersebut tetap berfungsi terus.

"Yang paling terasa dan ditakutkan sih soal, apa dia akan menikah? Saya selalu mikir gimana kelanjutan hidupnya kalau saya dan suami nggak ada karena dia kan anak tunggal. Tapi ya, diterapi ini untungnya sedikit demi sedikit diajarkan tanggung jawab juga, jadi mulai terasah," imbuh Retno.

Retno yang kini sedang mengambil cuti untuk fokus mengurus Naufal menceritakan dia dan suami nggak menyalahkan satu sama lain atas apa yang terjadi. Mereka menjalani semuanya dengan ikhlas, pasrah dan bersyukur. Ya, mengasuh anak ADHD bukan hal mudah. Tapi, ketegaran orang tua bukan nggak mungkin membuat anak sama 'bersinarnya' dengan anak lain.
Aku Berusaha Bersyukur Demi Anakku yang Mengalami ADHDFoto: Dok. Pribadi
Psikolog dari SAUH Psychological Services, Retno Dewanti Purba mengatakan, orang tua berkewajiban mengadvokasi lingkungan sekitar agar mereka memahami apa yang anak kita lakukan. Misal, pada anak dengan autisme atau ADHD orang tua perlu memberi tahu orang sekitar ada perubahan sikap yang mungkin tidak bisa dipahami dan hanya anak pahami.

"Jadi orang tua harus mulai sabar-sabar kasih pengetahuan juga ke orang lain. Kita bisa bilang misalnya, mohon maaf ya, anak saya kalau udah 15 menit suka nggak betah dan bisa teriak-teriak. Lebih baik orang tua mengedukasi orang lain dan menjelaskan keadaan anak daripada membandingkan anak dengan anak lain," papar Retno beberapa waktu lalu.

(aml/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi