mom-life

Baju dan Handuk, Kenangan Terakhir Herman 'Seventeen' untuk Istri

Ratih Wulan Pinandu Sabtu, 09 Mar 2019 13:00 WIB
Baju dan Handuk, Kenangan Terakhir Herman 'Seventeen' untuk Istri
Jakarta - Menata hidup selepas kepergian suami, bukan hal mudah untuk Juliana Moechtar. Setelah dua bulan, belum cukup bagi istri almarhum Herman 'Seventeen' ini untuk melupakan semua kenangan tentang suaminya.

Demi menjaga kenangan bersama Herman, perempuan yang biasa disapa Uli itu menyimpan barang-barang sang suami. Tak terkecuali baju dan handuk yang dipakai Herman untuk terakhir kali. Wangi khas dari tubuh Herman mengunci ingatan tentang suami untuk selamanya.

"Buka lemari masih ada bajunya, mau beres-beres enggak tega. Disatuin dalam lemari, mau dibungkus-bungkus dalam kardus enggak tega. Paling handuk terakhirnya enggak aku cuci. Baju terakhir manggung di dalam tas aku bongkar masih ada, di mobil juga masih ada baju yang bekas keringat dia. Baju-baju dia itu yang enggak bisa dilupakan keringatnya, khas banget ya," tutur Uli, saat berbincang eksklusif dengan HaiBunda.



Bahkan, seminggu setelah kepergian sang suami, Uli masih merasakan kehadirannya di rumah mereka. Demi mendamaikan perasaannya, Uli memilih untuk melihat baju-baju terakhir yang dikenakan Herman.

Tak hanya benda-benda saja yang mengingatkan Uli pada almarhum sang suami. Begitu pula dengan pesan terakhirnya. Masih terekam jelas keinginan almarhum Herman untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga ke ke luar negeri.

Juliana Moechtar dan putra bungsunya, Hisyam/ Juliana Moechtar dan putra bungsunya, Hisyam/ Foto: Didik Dwi Haryanto/20detik
Tak mau menganggapnya sebagai beban, Uli mengaku justru semakin termotivasi untuk kerja keras. Dia bertekad mewujudkan pesan terakhir sang suami untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk kedua buah hati mereka, Hafuza Dhamiri Herman (6) dan Hisyam Quraisy Herman (5).

"Meski Fuza masih kecil, tapi mereka bahas sampai kuliah. Dia memang lebih dekat ke anak pertama, 'Fuza nanti kalau kuliah, Papa mau sekolahin di luar negeri ya'. Katanya, Fuza mau kuliah di Singapura. 'Aduh, masa cita-cita cuma sampai di Singapura sana sampai Amerika'. Keinginan almarhum sekolahin anak-anak sampai sukses. Itu sedih banget ingatnya," lanjut Uli.

Tak mau larut dalam kesedihan, Uli kini memilih fokus pada anak-anak. Meski membesarkan dua anak laki-laki seorang diri bukanlah hal mudah, tapi wanita berdarah Aceh ini tak pernah menyerah.

Pada anak-anak, dia selalu berusaha menjelaskan jika sang ayah tak mungkin kembali. Sebagai pengganti figur ayah di rumah mereka, Uli lebih memilih untuk meminta bantuan kakak dan adik laki-lakinya.

"Habis kejadian itu, kalau lihat abang ipar atau adikku senang banget kalau datang ke rumah. Mereka memang butuh sosok laki-laki di rumah ini. Mereka senang banget kalau ada sosok laki-laki, sampai aku berpikir gimana seterusnya," terang Uli.

Bagi Hafuza dan Hisyam, tentu sangat sulit kehilangan figur ayah yang sangat mereka cintai. Bagi anak-anak, kehilangan orang tua menjadi pukulan yang sangat berat, Bun. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak biasanya akan mengekspresikan kesedihan dengan cara berbeda.


Mengutip Kids Health, anak akan mengatasi rasa kehilangan sesuai dengan usianya, lalu seberapa dekat dengan ayahnya dan dukungan yang mereka dapatkan. Jelaskan dengan bahasa paling ringan, agar anak mudah menerima kepergian sang ayah. Beri waktu pada mereka untuk menerima kondisi yang sebenarnya, hingga mereka menemukan kenyamanan untuk kondisi barunya.

[Gambas:Video 20detik]

(rap/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi