moms-life

Perdana Menteri Jacinda Ardern, Bunda Baru Penuh Empati

Maya Sofia Senin, 18 Mar 2019 18:31 WIB
Perdana Menteri Jacinda Ardern, Bunda Baru Penuh Empati
Jakarta - Dalam suasana berkabung, Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern memeluk erat seorang perempuan berhijab yang tengah menggendong anaknya. Perempuan itu merupakan keluarga korban serangan teror di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang terjadi pada Jumat (15/3/2019).

Mengenakan kerudung berwarna hitam, wajah Ardern terlihat menunjukkan duka mendalam atas tewasnya 50 warga Selandia Baru akibat teror. Ia tak banyak mengucapkan kata. Hanya sesekali berbisik pada keluarga korban, seolah berusaha memberi semangat dan dukungan.




PM Selandia Baru Jacinda Ardern.PM Selandia Baru Jacinda Ardern. Foto: Dok. Christchurch City Council via ABC Australia

Seperti dilansir dari The Sydney Morning Herald, foto Ardern mengenakan kerudung hitam saat bertemu komunitas Muslim di Christchurch menjadi viral dan di-share ribuan kali. Sikap dan wajah penuh empati Ardern mendapat respons hangat dari masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.

Wajah Ardern sendiri sebetulnya sudah mulai dikenal sejak menjabat sebagai PM Selandia Baru pada akhir Oktober 2017. Kalau Bunda ingat, Ardern merupakan perempuan ketiga yang memimpin Selandia baru dan bahkan perdana menteri termuda dalam 150 tahun terakhir. Hebat ya, Bun.

Menariknya, Ardern baru memiliki anak pertama di usia 37 tahun. Wanita kelahiran 26 Juli 1980 tersebut melahirkan bayi perempuan pada Juni 2018. Menjadi pemimpin negara sekaligus seorang ibu tentu bukan hal mudah bagi Ardern. Namun, Ardern tampaknya mulai terbiasa menjalankan dua peran sekaligus.

Dilansir dari The Guardian, Ardern mencatatkan sejarah sebagai pemimpin negara pertama yang membawa bayinya saat menghadiri Sidang Umum PBB di New York.

PM Selandia Baru Jacinda Ardern dan putrinya.PM Selandia Baru Jacinda Ardern dan putrinya. Foto: Don EMMERT / AFP

Dalam acara Today Show, Ardern mendapat pertanyaan apakah lebih sulit mengurus Selandia Baru atau membawa putrinya dalam penerbangan selama 17 jam.

"Rasanya pada saat itu setara," ujarnya sambil tertawa dan mengatakan bahwa dia telah meminta maaf lebih dahulu kepada para penumpang pesawat.

Apakah Bunda memiliki pengalaman serupa dengan Ardern, yakni membawa anak ke tempat kerja? Seperti dilansir Psychology Today, perasaan bersalah harus dihadapi seorang Bunda ketika memutuskan kembali bekerja. Mau tidak mau, Bunda harus menemukan cara agar urusan keluarga dan karier tetap seimbang.

"Tidak ada solusi untuk semua wanita. Masing-masing wanita harus menemukan caranya sendiri dan menyeimbangkannya," ujar Jane Greer, Ph.D, terapis pernikahan dan keluarga.

Psikolog klinis dewasa dari Klinik Tiga Generasi Sri Juwita Kusumawardhani, yang akrab disapa Wita mengatakan, munculnya perasaan bersalah pada ibu bekerja adalah hal yang lumrah. Hal yang perlu diingat adalah fokus dalam mengerjakan sesuatu.


"Ketika di kantor, fokuslah untuk bekerja, jangan teralih dengan memikirkan anak. Ketika di rumah, fokuslah menikmati kebersamaan bareng keluarga. Ketika ibu merasa kesulitan menghadapi apa yang bakal terjadi ketika bekerja, baiknya ibu mempertimbangkan keputusan untuk bekerja," kata Wita, seperti dilansir detikcom.

Simak juga, Bunda, pernyataan Ardern tentang teror yang terjadi di Christcurch, dalam video berikut:

[Gambas:Video 20detik]

(som/muf)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi