mom-life

Makna di Balik Seragam Lebaran Keluarga SBY Pilihan Ani Yudhoyono

Annisa Karnesyia Kamis, 06 Jun 2019 15:00 WIB
Makna di Balik Seragam Lebaran Keluarga SBY Pilihan Ani Yudhoyono
Jakarta - Ani Yudhoyono baru saja berpulang menghadap Ilahi. Kepergiannya menyisakan cerita bagi sang suami, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Hari Raya Idul Fitri ini.

Bila tahun sebelumnya SBY mengadakan open house, tahun ini dirinya beserta anak, menantu, dan keempat cucunya mengunjungi makam Ani di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Mereka kompak mengenakan batik bernuansa hitam, yang ternyata sudah disiapkan Ani sebelum wafat.




"Batik ini yang menyiapkan ibu (Ani), yang memilih warnanya ibu. Tiba-tiba ingin nuansa hitam, biasanya enggak pernah. Ibu bilang, nanti kita pakai di rumah sakit pada saat Lebaran, ternyata dipakai oleh ibu saat jenazah dibawa dari rumah sakit menuju ke masjid Kantor Kedutaan Besar di Singapura," kata SBY, dikutip dari InsertLive.

Pemilihan warna batik bernuansa hitam ini juga menyimpan makna. Hal tersebut justru disadari SBY setelah sang istri pergi untuk selamanya.

"Biasanya, batik yang dipilih itu warnanya terang. Tetapi, saya juga tidak mengerti, barangkali tidak kuasa menangkap isyarat yang ada di balik pilihan batik yang kami gunakan sekarang ini, ibu Ani memilih batik bernuansa hitam, sawunggalih," ujar SBY.

Sawunggalih, menurut SBY, ibarat sebuah burung yang terbang ke surga. Makna inilah yang akhirnya dipahami SBY sebagai pesan terakhir istri tercintanya.

Makna di balik seragam lebaran keluarga SBY/ Foto: Lamhot AritonangMakna di balik seragam lebaran keluarga SBY/ Foto: Lamhot Aritonang

"Saya baru tahu setelah memahami makna pilihan ini. Pesannya adalah nanti kita lebaran di rumah sakit, kita pakai batik itu, saya juga akan memakainya," papar SBY.

"Ternyata, setelah ibu Ani mengembuskan napas yang terakhir, wafat, jenazahnya terbujur di ICU. Setelah dibersihkan, kita sucikan dan doakan di masjid Kedutaan Besar Indonesia di Singapura, jenazah ibu Ani inilah yang kita tutup dengan kain atau batik yang dipilih," sambungnya.



Sekarang, batik pilihan itu digunakan SBY juga anak, menantu, dan keempat cucunya untuk mengunjungi makam sang istri. Makna mendalam ini akhirnya tersampaikan melalui pesan almarhum sebelum meninggal, Bun.

Raut kesedihan pun masih terlihat di wajah SBY, saat mengenang istri tercintanya. Meski begitu, ayah dua anak ini terlihat tegar karena dukungan dari masyarakat Indonesia, terutama anak, menantu, dan cucu-cucunya.

Ya, ketika seseorang kehilangan pasangan hidupnya, kata psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Tiga Generasi, Samanta Ananta, memang perlu dukungan emosional penuh dari keluarga dekat, kerabat, sahabat, dan lingkungan sekitar rumahnya.

"Dukungan emosional seperti tidak membicarakan bagaimana proses meninggalnya pasangan, melainkan memberikan semangat agar dia bangkit dari rasa kesedihannya," tambah Samanta.

Kalau suami menunjukkan emosi kesedihan atau amarah akibat kehilangan istri secara mendadak, Samanta mengatakan, orang-orang terdekat bisa memberi waktu untuk suami menenangkan diri sambil memberi perhatian penuh. Contohnya, mengunjunginya dan menyiapkan makan atau mengajaknya membicarakan hal-hal ringan yang bisa membuatnya terhibur.

[Gambas:Video Insertlive]



(ank/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi