Jakarta -
Setelah tujuh tahun tak bertemu, BJ Habibie dan Hasri Ainun Besari akhirnya bertemu. Saat itu, jelang bulan Ramadhan. Habibie, diajak adiknya, Fanny berkunjung ke rumah Bapak dan Ibu Besari, orang tua Ainun.
Menunggu Fanny di mobil selama setengah jam, Habibie lantas memutuskan masuk ke rumah Ainun. Betapa terkejutnya dia melihat Ainun yang sedang menjahit. Sampai-sampai, kalimat 'Ainun, kamu cantik. Dari gula Jawa menjadi gula pasir' meluncur dari mulut Habibie.
Melihat kedatangan Habibie, Ainun juga kaget. Sebab, mereka sudah 7 tahun enggak bertemu sejak lulus SMA. Ainun kuliah di jurusan kedokteran Universitas Indonesia dan Habibie melanjutkan studi di Jerman. Melihat perubahan Ainun, Habibie kaget karena dulu dia sempat bilang Ainun seperti gula Jawa karena kulitnya gelap ditambah tubuhnya gemuk.
Habibie dan Ainun memang sudah saling kenal sejak SMP karena sekolah mereka di Bandung, berdekatan, di SMP 5 dan SMP 2 yang letaknya bersebelahan. Barulah saat sama-sama duduk di bangku SMA Kristen di Jalan Dago, keduanya makin dekat.
"Bagaimana tidak, karena kita dua-duanya sama kecil dan sama-sama paling muda di kelas masing-masing, kita selalu dijodoh-jodohkan oleh para guru. 'Itu lho yang cocok buat kamu. Dia setahun lebih tua dan selalu satu kelas lebih tinggi'. Tapi, kami tak pernah berpacaran. Malah, adiknya Fanny lebih akrab dengan saya," papar Ainun dalam buku
Setengah Abad Prof.Dr-Ing B.J. Habibie; Kesan & Kenangan, mengutip buku
Habibie & Ainun.
Habibie Ainun/ Foto: Istimewa |
Hingga sore hari, Habibie makan bersama keluarga Ainun, termasuk Fanny juga ikut. Dalam momen itu, sesekali Habibie bercerita soal kegiatannya di Jerman. Kebetulan, ayah Ainun adalah dosen di bidang perairan dan hidrodinamika. Di momen itu pula, sesekali Ainun dan Habibie saling curi pandang.
Habibie dan Ainun pun lebih intens berkomunikasi seiring dengan makin tumbuhnya perasaan cinta keduanya, meski belum pernah disampaikan. Sebelum malam takbiran, Habibie mengajak Ainun bertemu di Jalan Rangga Malela No.11, alamat rumah keluarga Ainun setelah pindah dari Ciumbuleuit.
Setelah pulang ke rumahnya di Jalan Imam Bonjol yang bisa dicapai hanya dalam waktu 15 menit dari rumah Ainun, rupanya sudah banyak teman dan mahasiswa yang tinggal di rumah ibu Habibie menanti. Tahu Habibie baru bertemu Ainun, berbagai reaksi disampaikan temannya.
"Rudy, kamu mau jadikan Ainun pacarmu? Kamu harus tahu diri. Kamu sadar Ainun itu siapa?" Sainganmu anggota keluarga terkemuka di Indonesia, berpendidikan lebih tinggi dari kamu, kaya, ganteng, dan lebih besar dari kamu. Kamu siapa? Sepeda motor saja kamu tidak miliki. Paling banter naik becak. Harus realistis. Jangan berkhayal dan mimpi," kata Habibie menirukan ucapan temannya kala itu.
Diberi pernyataan seperti itu, Habibie berterima kasih pada teman-temannya atas pandangan dan pendapat mereka. Sebab, Habibie percaya bahwa takdir seseorang ditentukan oleh Allah SWT.
"Jika memang Ainun ditakdirkan untuk saya dan saya untuk Ainun, maka apapun kalian katakan, Ainun Insya Allah akan menjadi istri saya dan saja menjadi suami Ainun. Lihat saja nanti," begitu jawaban Habibie alias Rudy pada teman-temannya.
Jawaban Habibie terbukti. Saat momen Idul Fitri, dia jalan-jalan dengan Ainun. Dan di situlah, Habibie bertanya apakah Ainun punya teman dekat. Ainun menjawab dia tak punya teman dekat dan sejak itulah perasaan cinta Ainun dan Habibie tumbuh sampai mereka mengikat janji sehidup semati pada 12 Mei 1962 di rumah Ainun.
Simak cerita rumah tangga LDR Tasya Kamila di video berikut.
Klik banner di bawah ini untuk tahu beragam kisah unik k-pop.
(rdn/rdn)