parenting

Perlukah Orang Tua Memaksa Anak untuk Meminta Maaf?

Radian Nyi Sukmasari Selasa, 10 Jul 2018 14:27 WIB
Perlukah Orang Tua Memaksa Anak untuk Meminta Maaf?
Jakarta - Meminta maaf jadi respons yang sudah seharusnya dilakukan seseorang ketika melakukan kesalahan. Namun pada anak-anak, kadang mereka susah banget nih, Bun, minta maaf. Nah, ketika anak nggak mau meminta maaf sebagai orang tua haruskah kita memaksanya?

Studi dari University of Michigan melihat bagaimana pandangan anak-anak terhadap tindakan meminta maaf. Anak-anak umur 4-9 tahun diminta pendapatnya tentang dua jenis permintaan maaf yaitu permintaan yang tulus dan permintaan yang dilakukan anak karena dipaksa orang tuanya. Salah satu peneliti Craig Smith bilang 90 persen anak-anak mengaku meminta maaf dengan sukarela membuat perasaan mereka lebih baik.

"Sementara itu, hanya 22 persen anak yang merasa meminta maaf karena dipaksa bisa berdampak baik pada perasaan si korban, dalam hal ini orang yang diperlakukan kurang baik," kata Craig dilansir CNN.


Untuk itu, Craig menyarankan sebaiknya orang tua nggak memaksa anak meminta maaf ketika mereka belum siap atau bahkan merasa nggak bersalah. Terlebih, kebanyakan anak-anak merasa meminta maaf karena dipaksa nggak efektif. Ketimbang memaksa anak meminta maaf, Craig mendorong orang tua untuk melatih anak tahu konsekuensi dari perbuatannya. Dengan begitu kemungkinan mereka minta maaf dengan tulus lebih besar.



Psikolog di Kirk Neurobehavioral Health, Jennifer Kirk, mengatakan ada beberapa hal yang bisa Bunda dan Ayah lakukan untuk membantu anak mengerti gimana perbuatan mereka memengaruhi orang lain sehingga mereka bisa dengan tulus meminta maaf, yaitu:

1. Tenangkan Anak Lebih Dulu

Saat anak melakukan kesalahan, Jennifer menyarankan orang tua nggak langsung menyuruh anak minta maaf. Kenapa? Ketika anak masih marah dan dipaksa, dia nggak akan ngeh dengan akibat dari perbuatannya, Bun. Sehingga, lebih baik tenangkan anak dan setelah dia tenang beri tahu apa akibat dari perbuatannya. Dengan begini, anak bisa belajar berempati dan menyesali perbuatannya.

2. Ajak Anak Ngobrol

Bicarakan dengan anak apa yang sudah dia lakukan dan minta anak membayangkan jika dirinya yang ada di posisi si korban. Kata Jennifer, mengajak anak melakukan hal itu meningkatkan empati terhadap si korban. Jangan lupa, pelan-pelan ajak anak memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan setelah dia bertindak seperti itu.

3. Beri Contoh

"Orang tua adalah contoh terbaik untuk anaknya. Ketika ayah atau ibu membentak anak yang memotong pembicaraan, setelah itu kita bisa katakan, 'Maaf ya Bunda nggak meresponsmu dengan baik. Tapi lain kali Bunda akan meresponsmu dengan lebih baik'. Kata-kata seperti itu membuat anak tahu gimana kita bertanggungjawab dengan yang kita perbuat dan membuat rencana yang lebih baik ke depannya," tutur Jennifer.

4. Ajari Anak Menebus Kesalahan

Untuk anak balita sampai usia awal sekolah, melakukan sesuatu yang konkret untuk meminta maaf bisa membawa dampak yang lebih signifikan. Misalnya, ketika anak membuat temannya kecewa ajak dia untuk menebus kesalahannya dengan memberi pelukan atau menawarkan meminjamkan mainan.

"Seperti meminta maaf, bahasa tubuh seperti ini bisa membantu anak-anak belajar bertanggungjawab untuk mengkoreksi kesalahannya," ujar Jennifer.


(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi