parenting

#dearRiver, Sebelum Kau Keluar Rumah

Fauzan Mukrim Rabu, 27 Feb 2019 17:26 WIB
#dearRiver, Sebelum Kau Keluar Rumah
Jakarta -

#dearRiver,

Rasanya Ayah masih ingat bagaimana ekspresi mereka saat itu. Kawan-kawan Ayah di Sekolah Dasar itu berusaha tidak terlihat sedih. Ada tiga orang yang diumumkan tidak naik kelas. Satu orang masih Ayah ingat namanya yang mirip tokoh nasional, yang dua orang lagi Ayah lupa. Guru kami berusaha menghibur dengan mengatakan mereka masih terlalu kecil sehingga belum bisa naik kelas.

Waktu itu kami percaya saja karena badan tiga orang kawan kami itu memang lebih mungil dibanding rata-rata murid di kelas. Belakangan Ayah baru tahu, mereka tidak naik kelas karena kesulitan mengikuti pelajaran. Salah satu indikatornya adalah karena mereka belum bisa membaca.

Saat kami bersekolah itu, kemampuan membaca seolah jadi penentu pintar bodohnya seorang murid. Pengetahuan tentang variasi perkembangan anak masih belum memadai. Semua anak disamaratakan kurva kemajuannya.


Bila ada satu dua anak yang tidak bisa membaca di antara seluruh kelas, maka anak itu seketika dicap 'tertinggal'. Tidak ada upaya untuk tahu apakah ia memang memiliki hambatan atau tidak. Sebutlah misalnya disleksia.

Ilustrasi anak membacaIlustrasi anak membaca/ Foto: istock


Disleksia adalah kondisi yang membuat seseorang kesulitan membaca atau menulis. Di mata penyandang disleksia, huruf-huruf seperti beterbangan. Mereka bahkan kesulitan membedakan 'B' dengan 'D', 'U' dengan 'N', dan sebagainya. Bagi anak penyandang disleksia, membaca adalah semacam siksaan tak terperi. Tak jarang anak penyandang disleksia menerima ejekan atau bully-an. Dan yang paling fatal, itu bisa membuat mereka merasa bodoh dan depresi.

Padahal disleksia tidak memengaruhi kecerdasan. Nama-nama seperti ilmuwan Albert Einstein, pelukis Pablo Picasso, Richard Branson yang punya Virgin Galactic, atau bahkan John Lennon, adalah contoh tokoh besar dan berpengaruh yang didiagnosa disleksia.

Untungnya sekarang, sekolah-sekolah sudah banyak yang aware. Murid tidak lagi diburu-buru harus bisa membaca di kelas 1,2, atau 3 SD. Termasuk di sekolahmu sekarang.

Kapan hari itu kamu bilang masih ada beberapa teman sekelasmu yang belum bisa membaca. Jadi ketika ujian, soalnya dibacakan oleh guru. Ayah pikir itu tren yang bagus. Ayah pun dulu tidak pernah memaksamu belajar membaca.

Di TK, Ayah ingat gurumu juga pernah bilang, sebaiknya kamu dipuaskan dulu bermain-main sebelum belajar membaca dan menulis. Sebelum memegang pensil, tanganmu harus dilatih dulu syaraf-syarafnya dengan banyak bermain tanah liat. Ayah juga punya teman seorang konsultan pendidikan, namanya Bu Evi Ghozaly. Kata Bu Evi, sebelum anak diajari membaca, harus selesai dulu dengan hal-hal yang elementer, semisal hawa panas atau dingin, garis lengkung, dan bentuk.

Mudah-mudahan Ayah juga di jalan yang benar, Nak. Karena seingat Ayah, Ayah tidak mengajarimu membaca dengan intens, apalagi memaksamu ikut les. Ayah dan Mama hanya mengenalkan huruf dan membiarkanmu merangkainya sendiri, dan tahu-tahu kamu sudah bisa membaca. Seperti halnya banyak orang tua lain, kami pun menganggap membaca itu penting, tapi kami merasa tidak perlu tergesa-gesa.

Di rumah ada ratusan buku, sebagian besar sudah Ayah siapkan untukmu. Mudah-mudahan nanti kamu pun akan senang membaca dan menulis seperti Ayah. Selebar-lebarnya kaki kita dilangkahkan, tidak akan pernah melampaui panjang tubuh kita. Itulah kenapa kita perlu membaca pengalaman dan penglihatan orang lain. Dalam beberapa aspek, membaca adalah semacam perjalanan ruhaniah. Buku adalah salah satu jalannya.

Ada satu masa Ayah pernah senang membaca catatan-catatan perjalanan. Ayah membaca buku Marco Polo, Ibnu Batutah, Om Gola Gong, dan yang relatif baru dan pop seperti buku Tante Trinity dan Tante Suluh Pratitasari. Di awal-awal, Ayah juga membaca buku Pak HOK Tanzil. Ada juga yang relatif berat seperti Menyusuri Lorong-lorong Dunia yang ditulis oleh Sigit Susanto. Sayangnya, Ayah belum sempat punya terjemahan Codex Calixtinus yang konon adalah buku ziarah tertua yang pernah ditulis.

Ilustrasi anak membacaIlustrasi anak membaca Foto: iStock

Tempo hari di Ubud, Ayah sempat ketemu Om Agustinus Wibowo. Om Agus ini salah satu penulis perjalanan yang buku-bukunya cukup banyak dibaca. Selimut Debu, Titik Nol, sekadar menyebut yang paling laris.

Setelah mewawancarainya untuk keperluan liputanku (dia ke UWRF sebagai pembicara, Ayah sebagai kuli dengar), kami ngobrol-ngobrol sedikit soal menuliskan perjalanan. Ayah tahu 'jalur' mereka beda, tapi Ayah tertarik membandingkan dia dengan Pak HOK Tanzil.

Seperti yang Ayah bilang di atas, Pak HOK Tanzil itu salah satu penulis kisah perjalanan ternama di akhir tahun 70-an hingga 80-an. Ketika muda dan belajar kedokteran, ia malah terserang TBC namun berhasil sembuh.

Setelahnya, ia meneliti penyakitnya sendiri dan kemudian jadi Guru Besar Mikrobiologi di Fakultas Kedokteran UI. Sebagai dokter, Pak HOK Tanzil tak pernah praktik, tapi dunia kedokteran berterima kasih kepadanya. Ia berhasil menemukan teknik pewarnaan bakteri TBC yang kemudian disebut pewarnaan Tan Thiam Hok, yang diambil dari nama aslinya. Penemuan Pak HOK Tanzil ini diakui dunia internasional dan dipakai di sejumlah negara.

Pak HOK Tanzil mulai melakukan perjalanan di tahun 1975, setelah mengundurkan diri dari kampus dan dunia penelitian. Ia berkeliling Indonesia dan dunia bersama istrinya, sebagian besar dengan mobil VW Combi. Catatan perjalanannya dimuat bersambung di majalah Intisari di mana semua honornya disumbangkan untuk keperluan sosial.

Catatan-catatan Om Agustinus Wibowo jelas beda dengan tulisan Pak HOK Tanzil. Pak HOK Tanzil banyak menuliskan pengalaman pandangan mata dan deskriptif, sementara Om Agustinus Wibowo lebih kontemplatif.

Menurut Om Agus, menuliskan perjalanan dengan meminjam cara Pak HOK Tanzil, sudah tidak bisa lagi dipakai saat ini. Pak HOK Tanzil mengantar pembacanya mengenali tempat-tempat baru, sedangkan saat ini, hampir tak ada lagi tempat yang belum pernah dikunjungi orang. Mau tidak mau, cara-cara kontemplatif harus dipakai kalau tidak ingin terjebak menghasilkan tulisan yang mirip brosur travel.

Pada dasarnya, ke tempat mana pun dan bagaimana pun cara mereka menuliskannya, Ayah melihat ada etos yang sama yang mendasari perjalanan mereka.

Ketika kau keluar rumah, kau tahu situasi yang akan kau hadapi tidak melulu menyenangkan, tapi kau tetap melakukannya dengan gembira. Dan alangkah baiknya jika yang kau tinggalkan di rumah juga tahu bahwa kau bergembira -atau setidaknya terlihat seperti itu.

Jadi, membacalah sebanyak mungkin. Langkahkan kakimu sejauh yang kau bisa. Temui dunia yang luas. Dan bila kau sempat, pulanglah menuliskan apa yang kau lihat untuk kami. Atau bantu bacakan bila mata kami mulai rabun.


Fauzan Mukrim,

Ayah dari River dan Rain. Menulis seri buku #DearRiver dan Berjalan Jauh, juga sebuah novel Mencari Tepi Langit. Jurnalis di CNN Indonesia TV, dan sedang belajar membuat kue.

(ziz/ziz)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi