parenting

#dearriver, Perkara Nama dari Franda dan Iqbal

Fauzan Mukrim Selasa, 10 Sep 2019 17:32 WIB
#dearriver, Perkara Nama dari Franda dan Iqbal
Jakarta -
#dearRiver

Franda, seorang selebritas yang juga seorang ibu, meradang di media sosial karena merasa nama putrinya dicontek oleh seorang penggemarnya. "Saya berusaha cari nama bagus unik yang enggak ada orang punya buat anak saya. Terus kamu nyolong nama itu buat anak kamu yang umurnya enggak jauh dari anak saya. Plek setulisan, plek sepanggilannya," begitu cuplikan direct message (DM) Instagram yang Franda kirimkan untuk orang tua Zylvechia Kimberly.

Nama panjang putri Franda sendiri adalah Zylvechia Ecclesia Heckenbucker. Bagian yang sama memang hanya depannya, tapi itu pun sudah cukup membuat Franda kesal setengah mati.


Cuplikan DM itu kemudian beredar di dunia maya dan memicu perdebatan netizen, wajarkah marah bila nama anak kita dijiplak?

Kejadian yang mirip juga terjadi pada esais ternama asal Bantul, Om Iqbal Aji Daryono. Nama dua anaknya juga di-copy paste 3 kata sehuruf-hurufnya. Ada seorang ibu yang juga menamai anaknya dengan Memayu Hayuning Bumi dan Lantiping Manah Sajati. Persis nama anak pertama dan kedua Om Iqbal. Kecil kemungkinan untuk menyebut itu sebuah kebetulan.

"Yang jelas dua nama itu kami dapat bukan dari referensi mana pun, terutama yang kedua (Lantiping)", kata Om Iqbal. Dia dan istrinya sampai berdebat berminggu-minggu soal nama Lantiping itu.

Meski begitu, respons Om Iqbal agak berbeda dengan Franda. "Jane yo rapopo. malah seneng, brarti jenenge apik. Hahaha. Tur nek ndhelik-ndhelik kan malah wagu," begitu jawab Om Iqbal ketika ditanya bagaimana perasaannya. Intinya, dia tak masalah dan malah senang. Berarti nama yang dia pilih untuk anaknya itu maknanya bagus kalau sampai ditiru orang. Jelas butuh level makrifat khusus untuk sampai kepada penerimaan seperti Om Iqbal.

Tujuh tahun lalu, dua tahun setelah kamu lahir, ada seorang anak kecil yang lahir di Cirebon yang oleh orang tuanya diberi nama persis namamu. River Ifham Asfari. Awalnya saya tak percaya, bagaimana bisa ada orang tua yang sebegitu tidak kreatifnya mencarikan nama untuk anaknya sampai harus meniru nama anak lain.

River memang nama yang cukup umum, saya pun terinspirasi oleh Rivers Cuomo. Waktu itu saya butuh nama depan yang androginis karena belum tahu kamu lahir laki-laki atau perempuan. Pokoknya nama depanmu harus River. Sedangkan Ifham, saya ambil dari nama pamanmu. Saya tambahkan satu kata Asfari sehingga keseluruhan berarti sungai yang memahami perjalanannya.

Franda dan Zylvechia Ecclesia Heckenbucker.Franda dan Zylvechia Ecclesia Heckenbucker./ Foto: instagram/frandaaa87


Mudah-mudahan jadi doa agar kamu seperti sungai yang tahu ke mana muara hidupmu. JadiJadi menurutku sangat kecil kemungkinan ada yang menyamai namamu. Eh, tau-tau ada yang menyamai. Saya bahkan sempat bertanya via FB ke ibu anak itu, dari mana asal nama itu. Jawabannya, saya di-unfriend.
Berkaca dari kasus Franda dan Om Iqbal, respons kita terhadap hal begini bisa jadi berbeda-beda. Semua perlu dimaklumi. Saya pernah ada di posisi respons Franda, dan kemudian berusaha seperti Om Iqbal. Sudahlah, tak perlu terlalu diributkan. Toh malah bagus kalau nanti mereka bisa ketemu ketika dewasa. Tambah teman, tambah saudara.

Soal nama yang sama dengan seseorang, jelas memang ada dampaknya. Di kantorku, ada seorang karyawan bernama Adolf Hitler. Dia pernah kesulitan mengurus dokumen resmi negara karena dikira bercanda. Saya juga pernah menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Ayu Utami, yang tadinya saya pikir Ayu Utami penulis Saman tapi ternyata lain.


Atau seperti di film 212: The Power of Love. Rahmat, seorang anak kiai yang agnostik (diperankan Fauzi Baadila) digambarkan sangat mengidolakan Karl Marx. Ia sering mengutip kata-kata Marx. Ada satu kalimat tentang "dikelilingi orang-orang yang membuatmu bahagia" yang menurut film itu pernah diucapkan Karl Marx. Namun ternyata kutipan itu bukan berasal dari Karl Marx (1818-1883), filsuf Jerman yang diidolakan Rahmat, melainkan milik seorang komposer fasis yang juga bernama Karl Marx (1897-1985). Nama sama, tapi beda orang.

Yah, mungkin risiko semacam itu saja sih. Insya Allah, tak seberapa berbahaya.

Ini beda konteksnya dengan seorang musisi yang menamai anaknya dengan tokoh-tokoh pemikir pujaannya (Al Ghazali, Jalaluddin Rumi, Abdul Qadir Jaelani), tapi ketika namamu ditiru seseorang, berbahagialah. Berarti namamu bukan sesuatu yang buruk. Setidaknya ada kebaikan yang diharapkan dari situ. 

Fauzan Mukrim
Ayah River dan Rain. Menulis seri buku #DearRiver dan Berjalan Jauh, juga sebuah novel Mencari Tepi Langit. Jurnalis di CNN Indonesia TV, dan sedang belajar membuat kue. IG: @mukrimfauzan

[Gambas:Video Haibunda]

(ziz/ziz)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi