parenting

Anak Korban Bullying Lebih Berisiko Jadi Pengangguran

Melly Febrida Jumat, 03 May 2019 09:03 WIB
Anak Korban Bullying Lebih Berisiko Jadi Pengangguran
Jakarta - Miris kalau melihat meningkatnya kasus bullying alias perundungan pada anak-anak dan remaja ya, Bun. Terlebih, dampak bullying di masa-masa sekolah bisa berpengaruh pada kehidupan anak. Salah satunya mereka lebih berisiko jadi pengangguran.

Sebuah penelitian menemukan remaja yang menjadi korban bully 40 persen lebih besar menghadapi risiko masalah kesehatan mental pada saat mereka mencapai usia pertengahan 20-an. Enggak cuma itu, bullying sewaktu remaja bisa meningkatkan peluang seseorang jadi pengangguran di kemudian hari sebesar 35 persen.

Penulis studi, Emma Gorman dari Departemen Ekonomi di Lancaster University Management School mengatakan, ketika remaja yang di-bully berusia 25 tahun, mereka cenderung memiliki masalah kesehatan seperti depresi dan kecemasan, serta kesulitan mencari pekerjaan.




"Murid yang mengalami intimidasi memiliki pendapatan 2 persen lebih rendah," ujarnya dilansir Health Day.

Para peneliti mewawancarai sekitar 7.000 siswa usia 14 - 16 tahun di Inggris. Wawancara dilakukan lagi saat responden berumur 21 dan 25 tahun. Contoh intimidasi yang terjadi yaitu dipanggil dengan nama yang cenderung bersifat ejekan, dikeluarkan dari kelompok sosial, diancam, atau mengalami kekerasan.

[Gambas:Instagram]



Menurut Gorman, bullying ini bisa dialami remaja perempuan maupun laki-laki. Pada anak perempuan, biasanya bullying berupa intimidasi psikologis seperti panggilan dengan nama ejekan dan pengucilan dari kelompok sosial. Sedangkan, pada anak laki-laki bullying berupa penindasan dan korban tindak kekerasan.

"Dampak bullying makin buruk jika korban menerima bully yang sangat keras dan sering terjadi. Tentu saja ini bertolak belakang dengan pandangan umum bahwa bully bisa membentuk karakter atau peralihan yang normal di kalangan anak-anak. Sebab, kami menemukan bahwa bully dapat memiliki efek negatif jangka panjang pada kehidupan anak muda," papar Gorman.

Dari temuan tersebut, Gorman bilang, anak-anak memerlukan pendekatan strategis dan terarah untuk mengurangi intimidasi ekstrem, terutama yang berbentuk kekerasan. Dan untuk mengurangi dampak negatif jangka panjang, remaja seharusnya mengembangkan keterampilan karakter positif, seperti ketahanan dan harga diri. Ini bisa membantu mengurangi dampak negatif dalam jangka panjang.

Patrick Tolan adalah direktur emeritus dari University of Virginia's Youth-Nex, mengatakan studi ini adalah peringatan bahwa bully adalah masalah nyata yang layak mendapat perhatian dan intervensi untuk dicegah dan dihentikan.

"Orang tua perlu terbuka dengan anak-anak dan menjadi teman bagi mereka. Beri pula anak-anak contoh bahwa kita tak bisa berdiam diri ketika mendapat perilaku bully," kata Tolan dikutip dari Web MD.

[Gambas:Video 20detik]

(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi