sign up SIGN UP search


parenting

6 Jenis Cyberbullying pada Anak, Ini Bahayanya

Haikal Luthfi Selasa, 06 Oct 2020 16:26 WIB
Shot of an attractive young woman being cyber bullied online while chilling on her bed in her bedroom at home caption
Jakarta -

Perilaku perundungan atau bullying tidak hanya terjadi di dunia nyata saja, namun juga di dunia maya. Perilaku bullying di dunia maya disebut dengan 'cyberbullying'.

Perkembangan teknologi dan informasi mengubah cara interaksi sosial masyarakat yang dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, yang didukung dengan berbagai macam media sosial yang digunakan sebagai alat untuk bersosialisasi di dalam masyarakat bak pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi informasi memiliki banyak keuntungan dan manfaat dalam kehidupan serba canggih, di sisi lainnya munculnya fenomena cyberbullying di kalangan anak-anak maupun remaja.

Cyberbullying ternyata lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan kekerasan secara fisik. Dilansir dari laman Reachout, efek cyberbullying mirip dengan efek pada bullying secara umum.


Pada anak dan remaja, ini dapat berdampak pada prestasi akademik yang lebih rendah, perasaan terisolasi dan takut, depresi hingga dalam kasus ekstrem, perundungan di dunia maya dapat menyebabkan perilaku bunuh diri lho, Bunda. Menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, biasanya perilaku cyberbullying lebih kepada menyebar fitnah atau berita bohong.

"Cyberbullying pelakunya anonim. Kalau anonim, sudah enggak ketahuan, bisa sangat luas, sangat cepat menyebarnya dan sukar dihapus. Kalau sudah terlanjur tersampaikan sangat susah untuk menghilangkannya," ucap psikolog yang akrab disapa Vera ini.

Jenis cyberbullying

cyberbullyingIlustrasi cyberbullying/ Foto: psychologicalscience

Cyberbullying merupakan salah satu bentuk dari bullying. Keduannya sama-sama menyebabkan penderitaan bagi para korbannya. Umumnya banyak terjadi di media sosial.

Sudah banyak kasus perundungan anak yang disebabkan cyberbullying. Dikutip dari Unicef, yang termasuk contoh perilaku cyberbullying, meliputi:

  • Menyebarkan kebohongan tentang seseorang atau memposting foto memalukan tentang seseorang di media sosial.
  • Mengirim pesan atau ancaman yang menyakitkan melalui platform chatting, menuliskan kata-kata menyakitkan pada kolom komentar media sosial, atau memposting sesuatu yang memalukan/menyakitkan.
  • Meniru atau mengatasnamakan seseorang (misalnya, dengan akun palsu atau masuk melalui akun seseorang) dan mengirim pesan jahat kepada orang lain atas nama mereka.

Senada dengan itu, bentuk cyberbullying bermacam-macam, Bunda. Ada sejumlah cara berbeda yang dilakukan untuk menindas orang lain secara daring atau online.

Mengutip Very Well Family, secara rinci sebagian besar pelecehan online terbagi ke dalam enam kategori, yang paling umum, antara lain:

1. Gangguan

Melecehkan seseorang adalah metode umum dalam perundungan daring. Ini mungkin terjadi ketika seseorang menggunakan salah satu dari strategi ini:

  • Terlibat dalam "perang peringatan".
  • Berpartisipasi dalam perang teks atau serangan teks, yang terjadi saat pengganggu mengeroyok korban dan mengirim ribuan teks.
  • Memposting rumor, ancaman, atau informasi yang memalukan di situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.
  • Menggunakan pesan teks, pesan instan, dan email untuk melecehkan, mengancam, atau mempermalukan target.

2. Peniruan

Seorang cyberbully atau penindas juga dapat menyamar sebagai orang lain, menyebabkan masalah dalam hidup orang tersebut.

  • Mengubah profil online target untuk menyertakan hal-hal seksual, rasis, atau tidak pantas lainnya.
  • Meniru nama layar yang mirip dengan nama layar korban, lalu posting komentar kasar atau menyakitkan sambil berpura-pura menjadi korban.
  • Berpura-pura menjadi orang lain untuk memikat orang yang tidak menaruh curiga ke dalam hubungan palsu. Jenis aktivitas ini sering disebut dengan 'catfishing'.
  • Membuat akun di situs jejaring sosial dan posting sebagai korban sambil mengatakan hal-hal yang jahat, menyakitkan atau menyinggung. Foto korban sebenarnya dapat digunakan untuk membuat akun terlihat asli.
  • Mencuri password korban dan mengobrol dengan orang lain sambil berpura-pura menjadi korban. Penindas akan mengatakan hal-hal jahat yang menyinggung dan membuat marah teman atau kenalan korban.

3. Foto yang tidak pantas

Penindasan dapat menggunakan media gambar yang memalukan atau tidak pantas. Ini mungkin termasuk:

  • Memposting gambar porno di situs berbagi foto untuk dilihat dan diunduh oleh siapa saja di internet.
  • Mengirim email massal atau pesan teks yang menyertakan foto telanjang atau merendahkan korban. Perilaku ini sering disebut 'sexting', dan setelah foto dikirim, tidak ada cara untuk mengontrolnya. Foto-foto itu bisa disebarkan ke ratusan orang hanya dalam beberapa jam.
  • Mengambil foto telanjang atau merendahkan korban di ruang ganti atau kamar mandi tanpa seizinnya.
  • Mengancam untuk membagikan foto yang memalukan tersebut sebagai cara untuk memeras korban.
  • Menggunakan foto untuk mempermalukan seseorang secara online.

4. Pembuatan situs web

Seorang penindas dapat membuat situs web, blog, atau jajak pendapat untuk melecehkan orang lain.

  • Melakukan polling internet tentang korban. Pertanyaan dalam jajak pendapat dapat bervariasi, biasanya berkonotasi negatif.
  • Membuat blog tentang korban dengan maksud mempermalukan ataupun menghina.
  • Mengembangkan situs web dengan informasi yang bertujuan untuk mempermalukan, atau menghina korban.
  • Memposting komentar kasar yang bernada menghina tentang korban melalui opsi chat di situs online.
  • Memposting informasi dan gambar pribadi korban di situs web, yang membuat korban dalam bahaya karena dihubungi oleh orang yang tidak dikenal. Menyebarkan rumor, kebohongan atau gosip tentang korban secara online melalui situs web atau blog.
  • Mengirim virus, spyware, atau program peretasan kepada korban untuk memata-matai korban atau mengontrol komputernya dari jarak jauh.
  • Menggunakan informasi yang dibagikan secara rahasia dan mempublikasikannya.

5. Penggunaan video

Metode ini dapat digunakan untuk penindasan online, yang mungkin melibatkan:

  • Membuat insiden yang menyebabkan orang lain menjadi kesal atau emosional lalu merekam kejadian tersebut. Jenis aktivitas ini sering disebut sebagai 'cyberbaiting'.
  • Mengunduh video tentang sesuatu yang memalukan dan mempostingnya ke platform YouTube untuk memungkinkan lebih banyak penonton melihat kejadian tersebut.
  • Berbagi video melalui email massal atau pesan chat untuk mempermalukan korban.
  • Menggunakan ponsel kamera untuk merekam video dan kemudian berbagi insiden intimidasi tersebut.

6. Metode lainnya

Metode seperti 'subtweet' atau 'vaguebooking' dapat digunakan untuk menindas, yang meliputi:

  • Memposting tweet atau postingan Facebook yang tidak pernah menyebut nama korban.
  • Menggunakan postingan dan tweet halus untuk memicu rumor.

Yang terpenting, berilah pengertian pada anak mengenai bahaya cyerbullying dan juga cara menghindarinya, Bunda.

Simak juga Bunda, anak mengaku di-bully, Asri Welas deg-degan dan sedih pada video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(haf/haf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi